Connect with us

Berita

Dikira Sudah Punah, Ilmuwan Ini Temukan Dua Spesies Marsupial di Hutan Papua

Dua spesies marsupial yang diduga punah sejak 6.000 tahun lalu ditemukan hidup di hutan Semenanjung Vogelkop, Papua Barat Daya.

Logompn

Published

on

Dikira sudah Punah, Ilmuwan Ini Temukan Dua Spesies Marsupial di Hutan Papua
Dikira sudah Punah, Ilmuwan Ini Temukan Dua Spesies Marsupial di Hutan Papua. Gambar: The Australian Museum

MPN Indonesia 19 Maret 2026 - Dua spesies marsupial yang selama ini dianggap telah punah sejak sekitar 6.000 tahun lalu ditemukan masih hidup di hutan hujan terpencil Semenanjung Vogelkop, Papua Barat Daya.

Penemuan ini diumumkan pada Jumat (6/3) dan dipublikasikan dalam Records of the Australian Museum.

Kedua spesies tersebut adalah Dactylonax kambuayai (kusu kerdil jari panjang) dan Tous ayamaruensis (kusu layang ekor cincin).

Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Tim Flannery dari Melbourne Sustainable Society Institute.

“Penemuan satu Lazarus taxon saja sudah luar biasa, apalagi menemukan dua spesies yang diduga punah selama ribuan tahun. Ini benar-benar luar biasa,” ujar Profesor Flannery, dikutip MPN Indonesia melalui Australian Museum pada Kamis, (19/3).

Spesies Lazarus adalah istilah untuk hewan yang menghilang dari catatan fosil dan dianggap punah, namun kemudian ditemukan hidup kembali di alam.

Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama dengan masyarakat adat Tambrauw dan Maybrat.

Lokasi penemuan dirahasiakan untuk menghindari risiko perburuan dan perdagangan satwa liar.

Para ilmuwan menyusun bukti melalui fosil, foto langka, dan spesimen lama sebelum melakukan ekspedisi langsung ke lapangan.

Karakteristik Dua Spesies Marsupial yang Ditemukan

Kusu kerdil jari panjang (Dactylonax kambuayai) memiliki panjang tubuh sekitar 17,6 cm dan ekor sepanjang 18 cm, dengan pola garis hitam-putih mencolok di kepalanya.

Ciri khas utama adalah jari keempat pada setiap tangan yang panjangnya dua kali lipat dari jari lainnya.

Struktur ini digunakan untuk mencari makan dengan mengorek larva kumbang dari batang kayu lapuk, serupa dengan metode berburu primata aye-aye di Madagaskar.

Baca Juga:  Bayi Mammoth Berusia 50 Ribu Tahun Ditemukan, Tubuhnya Terawetkan dengan Baik

Spesies ini diperkirakan memiliki kemampuan mendeteksi suara berfrekuensi rendah melalui telinganya, seperti suara larva serangga di dalam pohon.

Hewan ini diketahui sangat tergantung pada hutan primer yang memiliki pohon-pohon tua sebagai habitat dan tempat bersarang.

Sementara itu, kusu layang ekor cincin (Tous ayamaruensis) termasuk dalam genus baru bernama Tous, menjadikannya penemuan taksonomi langka.

Marsupial ini berkerabat dengan greater glider dari Australia dan memiliki selaput kulit berbulu dari siku ke pergelangan kaki untuk meluncur dari pohon ke pohon.

Versi yang ditemukan di Papua ini berukuran lebih kecil, dengan ciri khas berupa telinga tanpa bulu, mata besar, dan ekor yang bisa mencengkeram cabang.

Mereka memakan getah pohon dengan cara menyayat kulit batang menggunakan cakar dan bersarang di lubang pohon, hidup berpasangan, serta hanya melahirkan satu anak per tahun.

Peran Masyarakat Adat dan Upaya Konservasi

Penemuan ini tidak lepas dari kontribusi masyarakat adat setempat.

Menurut Rika Korain, perempuan dari suku Maybrat yang turut terlibat dalam penelitian, identifikasi spesies ini tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan para tetua adat.

“Kami bekerja dengan sangat hati-hati dan kolaboratif dengan para Tetua Tambrauw dan identifikasi tidak akan mungkin dilakukan tanpa kerja sama dengan Pemilik Tradisional dan hubungan ini sangat penting untuk pekerjaan yang sedang berlangsung,” ujar Rika Korain.

Dalam budaya lokal, khususnya masyarakat Tambrauw dan Maybrat, Tous ayamaruensis dianggap suci dan tidak boleh diburu atau bahkan disebut namanya.

Kepercayaan ini secara tidak langsung berkontribusi dalam menjaga keberadaan spesies tersebut tetap tersembunyi dan aman dari ancaman eksternal.

Ancaman terbesar terhadap dua spesies ini adalah deforestasi, fragmentasi habitat, serta perdagangan satwa liar.

Baca Juga:  7 Ilmuwan Muslim yang Paling Berpengaruh, Ada Penemu Aljabar hingga Astronomi

Keduanya sangat bergantung pada keberadaan hutan tua dan tidak mampu bertahan di lingkungan yang telah rusak. Oleh karena itu, lokasi penemuan sengaja tidak diungkapkan.

Nilai Ilmiah dan Pentingnya Konservasi Satwa Liar

Penemuan ini memperkuat pentingnya konservasi satwa liar dan kawasan hutan Papua yang masih menyimpan banyak potensi biodiversitas tersembunyi.

“Temuan ini menegaskan pentingnya melestarikan wilayah bioregion unik seperti Papua dan menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi dengan masyarakat lokal dalam mengungkap keanekaragaman hayati tersembunyi,” kata Flannery.

Hutan di Semenanjung Vogelkop diketahui merupakan bagian kuno dari benua Australia yang bergabung dengan Pulau Nugini.

Hal ini menjelaskan mengapa hewan-hewan peninggalan era Zaman Es masih bisa ditemukan di kawasan ini.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending