Connect with us

Lifestyle

Mengapa Orang-Orang Harus Bermaaf-maafan saat Lebaran?

Tradisi memaafkan saat Lebaran tidak hanya ritual agama, tetapi juga bagian penting dari budaya komunikasi masyarakat Indonesia.

Logompn

Published

on

Mengapa Orang Orang Harus Bermaaf maafan saat Lebaran
Mengapa Orang-Orang Harus Bermaaf-maafan saat Lebaran. Gambar: Ilustrasi Canva

Setiap Hari Raya Idulfitri tiba, masyarakat Indonesia hampir selalu saling meminta maaf dan memberi maaf.

Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” menjadi kalimat yang akrab terdengar dalam berbagai pertemuan, baik dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja, terutama saat Lebaran.

Tradisi ini begitu kuat di Indonesia. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara di Timur Tengah yang juga merayakan Idulfitri, tetapi tidak memiliki kebiasaan saling meminta maaf secara terbuka seperti di Indonesia.

Fenomena ini berkaitan erat dengan makna spiritual Idulfitri sekaligus budaya komunikasi masyarakat Indonesia.

Setelah menjalani puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Islam menyambut Lebaran dengan hati yang diharapkan bersih dari amarah, dendam, dan prasangka.

Karena itu, memaafkan menjadi salah satu wujud dari hasil ibadah selama Ramadan sekaligus cerminan sikap orang bertakwa.

Dalam Al-Qur’an, salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(Orang yang bertakwa yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain,” (QS Ali Imran: 134).

Di Indonesia, saling memaafkan bukan hanya bagian dari ajaran agama, tetapi juga telah menjadi tradisi sosial yang sangat kuat.

Tradisi itu tidak hanya hadir lewat ucapan, tetapi juga lewat tindakan seperti bersalaman, berpelukan, hingga sungkem kepada orang tua.

Lebaran, Maaf, dan Cara Orang Indonesia Berkomunikasi

Dikutip MPN Indonesia melalui laman UMJ, tradisi meminta maaf saat Idulfitri bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari cara masyarakat Indonesia membangun komunikasi yang sarat makna.

Baca Juga:  Jaga Stabilitas Harga Jelang Lebaran, Pemkab Bogor Kembali Gelar Operasi Pasar

Dalam budaya Indonesia, pesan tidak selalu disampaikan secara langsung lewat kata-kata. Makna juga hadir lewat sikap, simbol, suasana, dan konteks.

Karena itu, tradisi sungkem, berkunjung ke rumah saudara, atau ziarah ke makam orang tua dan leluhur bisa dipahami sebagai bentuk komunikasi yang penuh makna, termasuk ungkapan hormat, kedekatan, dan permohonan maaf yang kadang tidak perlu dijelaskan panjang lebar.

Ucapan seperti “Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin” pun menjadi kalimat yang lazim disampaikan, baik secara langsung maupun lewat media digital.

Namun, di era digital, cara orang berkomunikasi saat Lebaran juga mulai berubah. Banyak yang kini mengirim ucapan melalui pesan broadcast di aplikasi percakapan.

Cara ini memang praktis, tetapi sering kali terasa kurang personal dan kurang menyentuh secara emosional.

Pesan digital tetap punya peran penting, tetapi akan terasa lebih hangat jika disampaikan dengan cara yang lebih personal, misalnya lewat panggilan video, pesan suara, atau kalimat yang ditulis khusus untuk orang tertentu.

Berbeda dari Negara Lain, jadi Ciri Khas Indonesia

Di sejumlah negara Arab dan kawasan Timur Tengah, Idulfitri umumnya dirayakan dengan suasana yang lebih sederhana dan lebih banyak berpusat pada keluarga inti.

Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah secara besar-besaran tidak selalu menjadi bagian utama dari perayaan.

Bahkan, mengucapkan permintaan maaf secara terbuka bisa terasa tidak perlu jika sebelumnya memang tidak ada persoalan.

Di sinilah letak perbedaannya. Ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” tumbuh sebagai bagian khas dari budaya Indonesia yang menekankan pentingnya memperbaiki hubungan dan menyambung kembali silaturahmi.

Lebaran pun tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga sebagai momen untuk memulai kembali dengan hati yang lebih bersih.

Baca Juga:  Anti Ribet! Tips Mudik Naik Motor Jarak Jauh Biar Gak Tumbang di Jalan

Bukan hanya membersihkan diri secara spiritual, banyak orang juga memaknai Lebaran sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan, menghapus jarak, dan membuka lembaran baru.

Memaafkan sebagai Jalan Memperbaiki Hubungan

Memaafkan saat Lebaran memiliki makna yang dalam, baik secara spiritual maupun sosial.

Dalam ajaran Islam, memaafkan bukan hanya soal memperbaiki hubungan dengan sesama, tetapi juga bagian dari upaya membersihkan hati.

Idulfitri menjadi momen untuk menurunkan ego, melunakkan hati, dan membuka ruang rekonsiliasi, bahkan dengan orang yang mungkin belum sempat meminta maaf secara langsung.

Tradisi saling memaafkan juga sering menjadi jembatan untuk memperbaiki komunikasi yang sempat renggang.

Lewat pertemuan tatap muka, jabat tangan, pelukan, atau sekadar datang berkunjung, hubungan yang sebelumnya terasa jauh bisa kembali hangat.

Dalam budaya Indonesia, tidak semua luka harus dibicarakan panjang lebar. Kadang, kehadiran saja sudah cukup untuk menjadi tanda bahwa hubungan ingin diperbaiki.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending