Connect with us

Viral

Haru! Penjual Cilok Ini Rela Jalan Kaki Bandung-Ciamis karena Rindu Ibu, Tak Mampu Beli Tiket Mudik

Asep Kumala Seta (31), seorang pedagang cilok di Bandung, nekat mudik ke kampung halamannya di Ciamis dengan berjalan kaki dan menumpang truk.

Logompn

Published

on

Haru! Penjual Cilok Ini Rela Jalan Kaki Bandung Ciamis karena Rindu Ibu, Tak Mampu Beli Tiket Mudik
Haru! Penjual Cilok Ini Rela Jalan Kaki Bandung-Ciamis karena Rindu Ibu, Tak Mampu Beli Tiket Mudik | Gambar: TikTok/@dedimulyadiofficial

Jawa Barat, MPN Indonesia 27 Maret 2026 - Asep Kumala Seta (31), seorang pedagang cilok di Bandung, Jawa Barat, nekat mudik ke kampung halamannya di Desa Gunungcupu, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis dengan berjalan kaki dan menumpang truk.

Ia memulai perjalanan dari kawasan Cibaduyut pada 17 Maret sekitar pukul 12.00 WIB.

Keputusan nekatnya itu dipicu oleh rasa rindu kepada sang ibu di kampung dan tidak adanya dana untuk mudik Lebaran 2026.

Bawa Bekal Cilok dan Uang Rp20 Ribu

Selama dua tahun terakhir, Asep merantau di Bandung dan berjualan cilok keliling. Namun, selama bulan Ramadan, pendapatannya menurun drastis.

Dari hasil penjualan harian sekitar Rp100.000, ia harus menyetor Rp70.000 kepada pemilik usaha, menyisakan sekitar Rp30.000 untuk kebutuhan pribadinya.

Keterbatasan ini membuatnya membawa hanya tas ransel berisi pakaian, sepatu, perlengkapan camping, 50 butir cilok, satu botol sirup, serta uang tunai Rp20.000.

Numpang Truk

Dalam perjalanan mudik 2026 ini, Asep mengandalkan kombinasi jalan kaki dan menumpang kendaraan barang.

Ia naik bus Damri dari Leuwipanjang ke Cibiru, lalu melanjutkan perjalanan dengan truk menuju Rancaekek dan Nagreg.

“Saya tadi pergi jalan kaki dari Cibaduyut sekitar jam 12 siang, terus naik bus Damri dari Leuwipanjang sampai Cibiru,” ujar Asep di Pos Pam Cikaledong, Nagreg, Selasa malam (17/3), dikutip MPN Indonesia dari detikNews.

“Setelah itu uang saya pas-pasan, saya langsung naik truk sampai Rancaekek, dan dilanjut lagi truk lain sampai Nagreg,” tambahnya.

Istirahat di Masjid hingga Emperan Toko

Perjalanan Asep tidak sepenuhnya lancar. Ia sempat mendapatkan tumpangan truk menuju Garut, namun kendaraan justru berbelok ke arah Kadungora.

Baca Juga:  Pemilik Anjing Pemburu di Bogor yang Tewaskan Bocah 9 Tahun jadi Tersangka

Alhasil ia harus turun dan kembali melanjutkan perjalanan ke jalur semula dengan berjalan kaki hingga tiba di Cikaledong.

Untuk beristirahat, Asep memanfaatkan masjid atau emperan toko di sepanjang jalan.

“Kalau capek ya istirahat di masjid. Kadang juga di emper toko,” katanya.

Meski menghadapi banyak tantangan, Asep tetap bertekad melanjutkan perjalanannya hingga tiba di kampung halaman.

Ia tidak menerima tunjangan hari raya berupa uang dari tempat kerjanya.

Dedi Mulyadi Beri Bantuan

Kisah Asep yang viral di media sosial menarik perhatian publik, termasuk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Dalam video perbincangannya yang diunggah di YouTube, Dedi mengaku heran atas keputusan Asep yang memilih tidak meminta bantuan kepada bosnya.

“Kenapa tidak minta ke bosnya? Masa bosnya tidak kasih,” ujar Dedi Mulyadi.

Asep mengaku tidak berani meminjam uang karena merasa kurang percaya diri, meski tahu dirinya membutuhkan.

Ia juga mengungkap bahwa uang hasil jualannya sering habis untuk kebutuhan sehari-hari dan memenuhi hobinya mendaki gunung.

Dalam pertemuan tersebut, Dedi memberikan bantuan senilai Rp4 juta. Ia memberikan pesan agar Asep menggunakan uang tersebut dengan bijak.

“Yang satu juta kasih ke ibu untuk kebutuhan Lebaran, dua juta untuk beli roda usaha, nanti saya tambah lagi satu juta untuk modal,” katanya.

(AKM/NID/RAD)

Trending