Connect with us

Internasional

Langit Australia Berwarna Merah Darah akibat Dihantam Badai Debu

Siklon Narelle menyebabkan langit Australia berubah merah darah. Ini penjelasan ilmiahnya.

Logompn

Published

on

Langit Australia Berwarna Merah Darah akibat Dihantam Badai Debu
Langit Australia Berwarna Merah Darah akibat Dihantam Badai Debu. Gambar: X/@accuweather

MPN Indonesia 30 Maret 2026 - Langit di Australia berubah menjadi merah darah pada Jumat (27/3) saat Siklon Tropis Narelle melanda wilayah barat laut negara tersebut.

Fenomena alam ini terjadi akibat badai debu besar yang menyelimuti area seperti Shark Bay dan Denham, menghalangi cahaya matahari dan menurunkan jarak pandang hampir hingga nol.

Kejadian ini berlangsung ketika angin kencang membawa partikel tanah kaya zat besi ke atmosfer, menciptakan nuansa visual yang dramatis dan mengganggu aktivitas warga.

Menurut rekaman dari Shark Bay, langit siang hari berubah dalam hitungan menit saat awan debu halus yang besar terbawa angin kuat.

Konsentrasi partikel debu yang tinggi menyaring cahaya biru, menyisakan panjang gelombang merah yang mendominasi pemandangan.

Kondisi tersebut juga menyebabkan udara menjadi sangat tebal dan nyaris tidak bisa dihirup.

Fenomena ini dipicu oleh Siklon Narelle, yang sebelumnya merupakan Topan Tropis kategori tiga dan sempat meningkat menjadi kategori empat sebelum kembali melemah.

Badai ini menghantam wilayah seperti Semenanjung Cape York di Queensland pada Jumat (20/3), kemudian bergerak melalui Wilayah Utara dan akhirnya mencapai Australia Barat.

Kecepatan angin yang tercatat mencapai lebih dari 200 km/jam berdampak signifikan terhadap lingkungan dan infrastruktur di beberapa wilayah.

Dampak Kerusakan dan Wilayah Terdampak

Kota Exmouth menjadi daerah yang paling terdampak dengan kerusakan meluas, pemadaman listrik, gangguan komunikasi, dan gangguan pasokan air.

Infrastruktur penting seperti SPBU dan Bandara Learmonth juga mengalami kerusakan, meskipun tidak ada laporan korban luka.

“Kota-kota selain Exmouth – Coral Bay, Shark Bay, Geraldton, Kalbarri, dan Carnarvon, semuanya tampaknya lolos tanpa kerusakan struktural. Tampaknya kerusakan, khususnya kerusakan struktural, relatif kecil di beberapa tempat seperti wilayah Pilbara lainnya. Kami akan memastikan tersedianya dukungan bagi orang-orang saat mereka pulih dari situasi ini,” ujar Menteri Layanan Darurat Paul Papalia, dikutip MPN Indonesia melalui The Sun pada Senin (30/3).

Baca Juga:  Resmi! Inggris, Kanada, dan Australia Kini Akui Negara Palestina

Di wilayah pertanian, angin kencang mengancam perkebunan pisang di dekat Carnarvon.

Petani Doriana Mangili menyebutkan bahwa kecepatan angin antara 180–190 km/jam berpotensi merobohkan seluruh tanaman.

“Jika angin bertiup sesuai perkiraan – yang saat ini diperkirakan mencapai 180–190 km/jam – maka kemungkinan besar tidak akan ada pisang yang tersisa. Pohon-pohon itu tidak memiliki sistem akar yang besar, jadi kecepatan apa pun di atas 100 km/jam akan menjatuhkan pohon pisang dan Anda harus memulai dari awal lagi. Kecuali terjadi keajaiban… maka kemungkinan besar kita tidak akan memiliki apa pun yang tersisa (pada hari Sabtu),” katanya kepada News.com.au.

Penyebab Langit Merah Darah

Langit merah darah ini merupakan akibat dari angin kencang yang mengangkat tanah kaya oksida besi ke atmosfer, menciptakan fenomena alam yang jarang terjadi.

Konsentrasi partikel padat menyaring cahaya biru dari matahari, sehingga langit tampak merah tua.

Fenomena ini tercatat paling mencolok di wilayah seperti Shark Bay dan Denham. Proses ini didokumentasikan sebelumnya di wilayah kering Australia dan tidak menandakan bencana yang lebih luas.

Menurut Badan Meteorologi Australia, kecepatan angin mencapai lebih dari 124 mil per jam (200 km/jam).

“Dalam banyak kasus, ini akan menjadi angin terkuat yang pernah dialami warga di bagian negara bagian ini dalam waktu yang sangat lama,” ujar Perdana Menteri Queensland, David Crisafulli.

Status Terkini dan Peringatan Lanjutan

Pada Sabtu malam, status Siklon Narelle diturunkan menjadi badai subtropis setelah kehilangan karakteristik tropisnya.

Biro Meteorologi mencatat bahwa badai bergerak ke daratan sebelum akhirnya menuju Samudra Selatan.

Meskipun intensitas badai telah menurun, pihak berwenang tetap mengeluarkan peringatan darurat dan menyatakan bahwa situasi masih berbahaya.

Baca Juga:  Queen Victoria Market di Melbourne untuk Pertama Kalinya Buka Pasar Malam Ramadan

Fenomena ini mengingatkan pada peristiwa serupa yang terjadi pada 2009, ketika badai debu mengubah langit menjadi oranye sejauh Sydney.

Para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena alam ini disebabkan oleh erosi angin alami dan diperburuk oleh kondisi kekeringan.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending