Teknologi
Jepang Ingin Sematkan Cincin di Bulan, Buat Apa?
Perusahaan Jepang, Shimizu Corporation, memiliki rencana membangun panel surya 11.000 km di bulan sebagai sumber energi global yang berkelanjutan.
MPN Indonesia 8 April 2026 - Jepang tengah mengembangkan konsep ambisius di bidang luar angkasa dengan rencana membangun cincin panel surya raksasa yang mengelilingi bulan.
Proyek yang dikenal sebagai Luna Ring ini digagas oleh Shimizu Corporation sebagai solusi energi berkelanjutan bagi Bumi.
Ide futuristik tersebut pertama kali diperkenalkan lebih dari satu dekade lalu dan kurang mendapat perhatian.
Namun, setelah meningkatnya kebutuhan energi alternatif pascabencana nuklir Fukushima Daiichi pada Maret 2011 proyek tersebut mulai menarik minat Jepang.
Cincin panel surya sepanjang hampir 11.000 kilometer itu direncanakan dipasang di garis ekuator bulan, memungkinkan produksi energi secara terus-menerus tanpa terpengaruh cuaca atau siklus siang dan malam seperti di Bumi.
Energi yang dihasilkan tidak digunakan di bulan, melainkan dikirim ke Bumi melalui gelombang mikro atau laser untuk kemudian diubah kembali menjadi listrik bagi kebutuhan manusia.
Menurut Tetsuji Yoshida, Presiden untuk bidang konsultasi luar angkasa Shimizu, proyek ini berpotensi mengubah sistem energi global.
“Jika seluruh energi dari panel di bulan sampai ke Bumi, kita tidak perlu lagi membakar batu bara, minyak, atau biomassa,” ujar Yoshida kepada ABC News, dikutip MPN Indonesia melaui Daily Galaxy pada Rabu (8/4).
Dengan pendekatan ini, Jepang berupaya menghadirkan sumber energi nyaris abadi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil.
Konsep dan Teknologi Luna Ring
Proyek Luna Ring dirancang sebagai sabuk panel surya yang membentang sekitar 6.800 mil di sepanjang khatulistiwa bulan.
Tidak adanya atmosfer, awan, dan malam di sisi tertentu memungkinkan panel surya beroperasi selama 24 jam penuh.
Shimizu Corporation menyatakan bahwa panel surya berbasis Bumi hanya mampu menghasilkan seperduapuluh energi dibandingkan sistem serupa di luar angkasa.
Energi dari panel surya akan dialirkan melalui kabel menuju sisi bulan yang selalu menghadap Bumi.
Dari sana, fasilitas transmisi akan mengubah listrik menjadi pancaran gelombang mikro dan laser berenergi tinggi yang diarahkan ke stasiun penerima di Bumi.
Antena khusus yang disebut rectenna kemudian mengubah gelombang tersebut kembali menjadi listrik untuk jaringan energi.
Selain itu, energi yang dihasilkan juga direncanakan dapat digunakan untuk memproduksi hidrogen sebagai media penyimpanan dan transportasi energi.
Proses Konstruksi di Bulan
Pembangunan infrastruktur Luna Ring akan mengandalkan robot yang dikendalikan dari Bumi selama 24 jam.
Mesin-mesin ini bertugas melakukan perataan tanah, penggalian kerak bulan, serta perakitan panel surya.
Kehadiran manusia di lokasi hanya bersifat pendukung dengan jumlah terbatas.
Untuk menekan biaya, proyek ini akan memanfaatkan sumber daya lokal di bulan.
Tanah bulan yang kaya senyawa oksida dapat diolah menjadi berbagai material konstruksi, termasuk beton, keramik, serat kaca, dan bahkan sel surya.
Selain itu, dengan mengimpor hidrogen dari Bumi, para peneliti dapat menghasilkan air dan oksigen dari permukaan bulan guna mendukung operasional proyek.
Tantangan Biaya dan Teknologi
Meskipun menawarkan potensi besar, proyek ini menghadapi tantangan signifikan, terutama dari sisi biaya dan kesiapan teknologi.
Masanori Komori dari Institut Ekonomi Energi di Jepang menilai bahwa tenaga surya berbasis bulan masih terlalu mahal dibandingkan alternatif energi lain di Bumi, seperti panas bumi.
Selain itu, teknologi untuk mentransmisikan daya gigawatt melintasi jarak sekitar 238.855 mil di luar angkasa masih dalam tahap penelitian dan belum pernah diterapkan dalam skala sebesar ini.
Tetsuji Yoshida juga mengakui bahwa belum ada estimasi biaya pasti untuk proyek tersebut.
Hingga kini, Luna Ring masih berada pada tahap konseptual tanpa pendanaan resmi maupun dukungan dari badan antariksa seperti JAXA atau NASA.
Namun demikian, Shimizu Corporation menyatakan bahwa seluruh komponen dasar teknologi yang dibutuhkan sudah tersedia, termasuk panel surya, gelombang mikro, dan laser.
Status Terkini Proyek
Berdasarkan dokumen yang dipublikasikan sejak 2011, proyek Luna Ring masih menjadi konsep jangka panjang yang belum memasuki tahap pembangunan.
Minat terhadap proyek ini sempat meningkat setelah bencana Fukushima, ketika lebih dari setengah dari 54 reaktor nuklir di Jepang dinonaktifkan dan pemerintah mulai mencari sumber energi alternatif.
Namun, hingga kini tidak ada pembaruan publik dari Shimizu yang membawa proyek ini melampaui tahap proposal.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
