Teknologi
Wow! Robot AI Milik Sony Mampu Kalahkan Atlet Top Tenis Meja
Robot AI Sony bernama Ace mencatat sejarah dengan mengalahkan atlet tenis meja dalam uji resmi di Tokyo.
MPN Indonesia 26 April 2026 - Sony AI mencatat terobosan dalam teknologi dan inovasi global setelah robot kecerdasan buatan bernama Ace berhasil mengalahkan atlet tenis meja pada serangkaian pertandingan resmi di Tokyo pada April 2025.
Robot yang dikembangkan perusahaan teknologi asal Jepang tersebut diuji melawan lima pemain amatir elit dan dua pemain profesional Jepang di lapangan berukuran standar yang dibangun di kantor pusat Sony.
Seluruh pertandingan mengikuti aturan Federasi Tenis Meja Internasional (ITTF) dan diawasi wasit berlisensi dari Asosiasi Tenis Meja Jepang.
Dalam pengujian tersebut, Ace memainkan total 13 gim melawan pemain elit dan mencatat tujuh kemenangan.
Saat menghadapi dua pemain liga profesional Jepang, Minami Ando dan Kakeru Sone, robot itu hanya memenangkan satu dari tujuh gim dalam format best-of-five.
Evaluasi ini menjadi dasar publikasi ilmiah di jurnal Nature serta disebut sebagai demonstrasi nyata kemampuan atlet robot tenis dalam olahraga tenis meja kompetitif di dunia nyata.
“Penelitian ini telah menunjukkan bahwa robot otonom sebenarnya dapat memenangkan olahraga kompetitif, menyamai atau melampaui waktu reaksi dan pengambilan keputusan manusia di ruang fisik,” kata ahli robotika Peter Dürr, Direktur Sony AI di Zurich sekaligus pemimpin proyek Ace, dikutip MPN Indonesia melalui Science Alert pada Minggu (26/4).
“Tenis meja adalah permainan dengan kerumitan luar biasa yang membutuhkan keputusan sepersekian detik serta kecepatan dan tenaga. Terobosan penelitian ini menyoroti potensi agen AI fisik melakukan tugas interaktif real time dan menjadi langkah signifikan menuju penciptaan robot dengan aplikasi lebih luas dalam interaksi manusia yang cepat, presisi, dan real-time,” tambahnya.
Sistem dan Teknologi di Balik Ace
Ace dikembangkan selama lebih dari lima tahun dengan menggabungkan sistem persepsi berkecepatan tinggi, pengambilan keputusan berbasis AI, dan perangkat keras robotik presisi.
Robot ini memiliki lengan dengan delapan derajat kebebasan yang dirancang khusus menggunakan paduan ringan untuk menghasilkan jangkauan dan akselerasi setara manusia.
Dalam arsitekturnya, Ace memanfaatkan sembilan kamera berbasis frame yang disinkronkan dan tiga sistem visi berbasis peristiwa produksi Sony Semiconductor Solutions untuk melacak bola hingga 200 Hz dengan akurasi milimeter dan latensi sekitar 10 milidetik, serta mengukur putaran bola hingga 700 Hz.
Menurut publikasi di Nature, sistem ini memiliki latensi ujung-ke-ujung sebesar 20,2 milidetik, dibandingkan sekitar 230 milidetik pada pemain manusia elit.
Kemampuan ini memungkinkan robot membaca lintasan dan putaran bola, menyesuaikan sudut raket, serta mengeksekusi pukulan dalam waktu sangat singkat selama reli tenis meja.
“Kami ingin membuktikan bahwa AI tidak hanya ada di ruang virtual. Ini bukan hanya teknologi yang Anda gunakan di dunia virtual—Anda dapat memiliki pengalaman fisik, dan teknologinya sudah siap untuk itu,” ujar Presiden Sony AI, Michael Spranger, dikutip MPN Indonesia melalui laman Sony AI.
“Sangat mudah untuk membuat robot tenis meja supermanusia. Anda bisa membuat mesin yang menyedot bola dan menembakkannya jauh lebih cepat daripada yang bisa dikembalikan manusia. Tapi bukan itu tujuannya. Tujuannya adalah menghadirkan tingkat perbandingan dan keadilan tertentu terhadap manusia, serta menang pada tingkat AI dalam pengambilan keputusan, taktik, dan hingga batas tertentu, keterampilan,” tambahnya.
Metode Pembelajaran dan Evaluasi
Ace mempelajari permainan tenis meja menggunakan metode pembelajaran penguatan (reinforcement learning) yang dilatih sepenuhnya dalam simulasi sebelum diterapkan langsung ke sistem fisik tanpa penyempurnaan tambahan.
“Tidak mungkin memprogram robot secara manual untuk bermain tenis meja. Anda harus belajar cara bermain dari pengalaman,” kata Dürr.
Dalam proses pelatihan, robot bermain melawan dirinya sendiri untuk meningkatkan kemampuan sebelum diuji menghadapi manusia.
Pendekatan ini juga memanfaatkan teknik privileged critic dalam simulasi, yang memberikan akses informasi sempurna kepada komponen evaluasi selama pelatihan, sementara kebijakan utama tetap belajar dari input sensor realistis seperti dalam pertandingan nyata.
Evaluasi dilakukan dalam kondisi non-deterministik karena melibatkan lawan manusia dengan gaya bermain berbeda.
“Setiap pemain bermain dengan gaya berbeda, dan kami selalu belajar sesuatu yang baru dari lawan yang berbeda—atau mereka mengungkapkan kelemahan yang sebelumnya tidak terlihat,” jelas Guilherme Jorge Maeda, peneliti di Sony AI Tokyo sekaligus salah satu penulis makalah Nature.
Posisi dalam Sejarah Riset AI dan Robotika
Sony menyebut pencapaian ini sebagai pertama kalinya sebuah robot mencapai permainan tingkat ahli manusia dalam olahraga kompetitif umum di dunia nyata.
“Ini lebih besar dari sekadar tenis meja. Ini menempati posisi penting dalam serangkaian tonggak sejarah AI. Ini adalah pertama kalinya ada demonstrasi permainan kompetitif tingkat ahli manusia di dunia nyata di semua cabang olahraga—bukan hanya tenis meja,” ujar Peter Stone, Kepala Ilmuwan Sony AI.
Pengembangan Ace melanjutkan tradisi pencapaian AI sebelumnya seperti Deep Blue yang mengalahkan Garry Kasparov pada 1998, AlphaGo pada 2016, serta GT Sophy milik Sony AI pada 2022 dalam gim Gran Turismo.
Berbeda dari sistem virtual tersebut, Ace beroperasi di lingkungan fisik yang menuntut respons terhadap perubahan tak terduga secara real time.
Meski belum menyamai level juara dunia dan masih memiliki ruang perbaikan pada aspek strategi serta kekuatan pukulan, hasil pengujian April 2025 hingga Desember 2025 menunjukkan peningkatan performa, termasuk kemampuan bermain lebih agresif dan mendekati tepi meja.
Seluruh pengujian dilakukan sesuai regulasi resmi tenis meja, dengan pengawasan independen untuk memastikan kesetaraan antara robot dan atlet manusia dalam pertandingan tenis meja tersebut.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
