Connect with us

Internasional

PM Belanda Minta Maaf ke Ribuan Eks Tentara KNIL Maluku dan Keluarganya, Ada Apa?

PM Belanda Rob Jetten menyampaikan permintaan maaf resmi kepada eks tentara KNIL asal Maluku.

Logompn

Published

on

PM Belanda Minta Maaf ke Ribuan Eks Tentara KNIL Asal Maluku dan Keluarganya
PM Belanda Minta Maaf ke Ribuan Eks Tentara KNIL Asal Maluku dan Keluarganya. Gambar: EPA/Robin Utrecht

Maluku, MPN Indonesia 24 Juni 2026 - Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menyampaikan permintaan maaf resmi kepada ribuan mantan tentara KNIL asal Maluku dan keluarga mereka atas perlakuan yang dinilai tidak manusiawi setelah kedatangan mereka di Belanda pada tahun 1951.

Permintaan maaf tersebut disampaikan di Pelabuhan Rotterdam pada Minggu (21/6) bertepatan dengan peresmian monumen nasional yang menandai lokasi kedatangan terakhir para eks tentara KNIL.

Dalam pidatonya, Rob Jetten mengakui berbagai bentuk perlakuan yang dialami para tentara Maluku, mulai dari pemecatan hingga kondisi tempat tinggal yang tidak layak.

“Atas pemberhentian mereka sebagai tentara yang dilakukan secara tidak berperasaan dan tidak terhormat, atas penerimaan dan tempat tinggal yang tidak memadai, karena mereka tidak diperhatikan dan ditinggalkan, atas kerinduan untuk pulang yang tidak pernah terwujud, atas kesedihan dan penderitaan dalam begitu banyak keluarga Maluku. Untuk semua itu, saya menyampaikan permintaan maaf hari ini atas nama pemerintah Belanda. Ini bukan hanya sudah sangat terlambat, tetapi juga diperlukan jika kita ingin melangkah maju,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia melalui The Guardian pada Rabu (24/6).

Permintaan maaf ini disampaikan sekitar 75 tahun setelah kedatangan para tentara KNIL asal Maluku ke Belanda.

Perlakuan terhadap Eks Tentara KNIL

Sekitar 12.500 orang yang terdiri dari tentara KNIL dan keluarga mereka dipindahkan ke Belanda pada tahun 1951.

Mereka direkrut sebagai bagian dari KNIL, sebuah pasukan militer kolonial yang dibentuk pada 1830 untuk mempertahankan wilayah jajahan Belanda di Nusantara.

Pada abad ke-20, sebagian besar anggota KNIL berasal dari kalangan pribumi, termasuk dari Maluku.

Baca Juga:  Ibu di Maluku Paksa Anak Bersetubuh dengan Pacarnya karena Curiga sang Anak Hamil

Banyak dari mereka datang tanpa pilihan dan meyakini bahwa perpindahan tersebut hanya bersifat sementara.

Setibanya di Belanda, para tentara tersebut tidak mendapatkan perlakuan sesuai harapan.

Mereka yang sebelumnya dijanjikan akan kembali ke tanah air justru menghadapi kondisi yang berbeda.

Selain diberhentikan secara paksa dari militer, mereka juga tidak diberikan hak dasar seperti pekerjaan dan partisipasi politik.

Banyak keluarga Maluku yang tetap menyimpan harapan untuk kembali ke kampung halaman.

Namun, Republik Maluku yang mereka harapkan tidak pernah terwujud.

Monumen Nasional dan Pengakuan Sejarah

Permintaan maaf PM Belanda ini disampaikan bersamaan dengan peresmian monumen nasional di Rotterdam.

Monumen tersebut dibangun melalui penggalangan dana masyarakat dan menjadi simbol perjalanan panjang komunitas Maluku di Belanda.

Monumen hasil karya seniman Jaïr Pattipeilohy dan Maurice den Boer tersebut dirancang menyerupai haluan kapal tradisional.

Wali Kota Rotterdam, Carola Schouten, turut menyoroti pentingnya pengakuan sejarah dalam momen tersebut.

“Mereka diperlakukan dengan dingin, kesetiaan mereka dibayar dengan harga yang sangat mahal dan sering kali menjadi kesedihan yang dipendam,” ungkap Schouten.

“Penting adanya pengakuan atas ketidakadilan yang telah dilakukan terhadap mereka,” tambahnya.

Ketua yayasan monumen, Yordi Tahamata, menjelaskan bahwa pembangunan monumen membutuhkan waktu sekitar satu dekade.

“Saya berdiri di sini sebagai cucu dari kakek-kakek saya, bagian dari generasi yang datang ke Belanda berdasarkan perintah militer dan membangun kehidupan di negeri yang asing, tanpa kepastian mengenai masa depan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya,” ungkapnya.

“Ini tentang hak untuk menceritakan sejarah kita dan mewariskannya kepada generasi baru,” tegas Tahamata.

Sejumlah Pihak Sebut Permintaan Maaf Rob Terlambat

Komunitas Maluku di Belanda saat ini diperkirakan mencapai sekitar 70.000 orang, yang merupakan keturunan dari para tentara KNIL.

Baca Juga:  Bantuan Beras Sasar Daerah Harga Tinggi, Papua dan Maluku Jadi Prioritas

Dampak dari kebijakan pemerintah Belanda pada masa lalu dinilai berlangsung lintas generasi, memengaruhi proses integrasi sosial dan ekonomi komunitas tersebut.

Sejumlah pihak menilai bahwa permintaan maaf dari Rob Jetten datang terlambat, mengingat banyak anggota generasi pertama telah meninggal dunia.

Salah satu tanggapan disampaikan melalui keluarga veteran yang masih hidup.

“Ia bersyukur bisa hadir di sini,” kata Dennis van Peterson, menyampaikan pandangan kakeknya.

“Ada perasaan yang bercampur mengenai permintaan maaf ini. Bagi Kakek, ini adalah hal yang benar untuk dilakukan, tetapi generasi pertama sebagian besar sudah tidak ada lagi, semuanya sudah terlambat,” ungkapnya.

Fridus Steijlen, penulis sejarah komunitas Maluku, juga menyoroti aspek lain dari permintaan maaf tersebut.

“Sebuah permintaan maaf seharusnya juga membahas sikap paternalistik pemerintah Belanda pada masa itu, dan bagaimana mereka tidak memikirkan cara agar masyarakat Maluku dapat kembali pulang. Itulah sebabnya rasa sakit itu terus berlanjut,” ujar Steijlen.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending