Connect with us

Otomotif

Mengapa Mobil China Lebih Murah?

Beijing membantah harga mobil China murah akibat subsidi negara dan menyebut efisiensi manufaktur sebagai faktor utama.

Logompn

Published

on

Mengapa Mobil China Lebih Murah?
BYD Seal EV di Eropa. Gambar: BYD

MPN Indonesia 24 Juni 2026 - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menjelaskan alasan harga mobil produksi China lebih murah di pasar global dalam pernyataan yang disampaikan di Beijing pada Selasa, 20 Februari 2024.

China menegaskan bahwa harga mobil yang lebih rendah berasal dari efisiensi produksi dan sistem industri, bukan dari intervensi subsidi negara.

Mao Ning menyatakan bahwa struktur rantai industri otomotif menjadi faktor utama yang membuat mobil China memiliki biaya produksi lebih rendah.

Ia menekankan bahwa kolaborasi dalam industri tersebut memungkinkan efisiensi yang signifikan.

“Pembagian kerja dan kolaborasi yang saling menguntungkan merupakan ciri khas rantai industri otomotif. Perkembangan industri otomotif China yang pesat telah menghasilkan produk-produk hemat biaya dan berkualitas tinggi,” kata Mao Ning, dikutip MPN Indonesia melalui laman Gaikindo pada Rabu (23/6).

Lebih lanjut, ia juga menyoroti kontribusi mobil listrik China terhadap pasar global.

Menurutnya, ekspor mobil listrik dari China memainkan peran penting dalam transisi energi dunia.

“Setiap satu dari tiga mobil yang diekspor dari China adalah mobil listrik, yang berkontribusi signifikan terhadap transisi ramah lingkungan dan rendah karbon di dunia,” tambah Mao Ning.

Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas investigasi Uni Eropa (UE) terkait dugaan subsidi pemerintah terhadap mobil China, serta rencana pembatasan impor oleh Amerika Serikat (AS).

Efisiensi Produksi dan Perkembangan Industri

Efisiensi produksi menjadi faktor utama yang disebut pemerintah China dalam menjelaskan harga mobil yang kompetitif.

Industri otomotif China berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan sistem produksi yang terintegrasi dan biaya yang lebih terkendali dibandingkan negara lain.

Baca Juga:  5 Masalah Umum Mobil setelah Perjalanan Jauh

Hal ini memungkinkan mobil China dipasarkan dengan harga lebih rendah tanpa mengurangi kualitas produk.

China Association of Automobile Manufacturers (CAAM) mencatat bahwa ekspor mobil dari China mencapai 443 ribu unit pada Januari 2024.

Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 47,9 persen dibandingkan Januari 2023.

Namun, jika dibandingkan dengan Desember 2023, terjadi penurunan sebesar 22,7 persen.

Data ini menunjukkan dinamika ekspor mobil China yang tetap tinggi secara tahunan meskipun mengalami fluktuasi bulanan.

Selain itu, China juga mencatat ekspor lebih dari setengah juta mobil listrik secara global pada paruh pertama 2023.

Jumlah tersebut meningkat sebesar 160 persen dibandingkan periode yang sama pada 2022.

Pertumbuhan ini memperkuat posisi China sebagai salah satu pemain utama dalam industri mobil listrik dunia.

Respons terhadap Kebijakan Uni Eropa dan Amerika Serikat

Pernyataan China juga berkaitan dengan langkah Uni Eropa yang melakukan investigasi terhadap mobil China terkait dugaan praktik subsidi.

UE telah menerapkan tarif tambahan terhadap 20 jenis baja dan produk baja tahan karat asal China, serta menetapkan kuota impor hingga pertengahan 2024 sebagai upaya melindungi pasar domestiknya.

Selain itu, UE juga merencanakan penerapan Mekanisme Penyesuaian Pembatasan Karbon dengan tarif sebesar 20 hingga 35 persen terhadap barang dengan emisi karbon tinggi, seperti baja dan bijih besi.

Kebijakan ini turut berdampak pada rantai pasok industri mobil.

Sementara itu, Amerika Serikat mempertimbangkan pembatasan terhadap impor mobil pintar China beserta komponen terkait lainnya.

Langkah ini menunjukkan meningkatnya perhatian negara-negara Barat terhadap industri otomotif China, khususnya dalam sektor mobil listrik.

Menanggapi hal tersebut, Mao Ning mengkritik kebijakan proteksionisme yang dinilai dapat memengaruhi perdagangan global.

Baca Juga:  Simak! Ini Penyebab AC Mobil Tak Dingin saat Perjalanan Jauh

“Langkah-langkah proteksionisme dagang yang diambil oleh negara-negara lain terhadap China, seperti yang disampaikan Menteri Luar Negeri Wang Yi, untuk mengubah aktivitas perdagangan biasa menjadi masalah keamanan dan ideologi, mungkin tampak seperti suatu keuntungan, namun merupakan kerugian pembangunan jangka panjang dan menjadi beban bagi kemajuan serta kesejahteraan dunia,” ujar Mao Ning.

Posisi China dalam Industri Otomotif Global

Peran China dalam industri otomotif global meningkat, khususnya dalam produksi mobil listrik.

Selama beberapa dekade sebelumnya, industri ini didominasi oleh pabrikan dari Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.

Perkembangan di China mengubah peta persaingan global.

Sebanyak 26 produsen mobil listrik China merencanakan ekspansi ke pasar Jerman pada 2025.

Langkah ini menunjukkan upaya memperluas pangsa pasar internasional, terutama di kawasan Eropa yang selama ini menjadi basis produsen otomotif besar.

Mao Ning juga menegaskan bahwa China tetap berkomitmen pada kerja sama global dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

“Kami bekerja untuk pembangunan bersama sambil mengupayakan perkembangan, menciptakan lingkungan kelas dunia yang berorientasi pasar dan berbasis hukum untuk kerja sama ekonomi dan perdagangan global, serta mewujudkan globalisasi ekonomi yang lebih inklusif dan bermanfaat bagi semua pihak,” kata Mao Ning.

Ia menambahkan bahwa China menolak sanksi sepihak yang tidak memiliki dasar hukum internasional.

“Kami selalu menentang sanksi unilateral yang tidak memiliki dasar hukum internasional atau mandat Dewan Keamanan PBB. China akan terus melakukan langkah yang diperlukan untuk menjaga hak dan kepentingan perusahaan China yang sah,” katanya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending