Connect with us

Lifestyle

Apa Itu Self-Compassion? Cara Berdamai dengan Diri saat Gagal

Self-compassion berarti mampu menyikapi diri sendiri dengan kelembutan dan perhatian saat menghadapi pengalaman sulit atau kegagalan.

Logompn

Published

on

Apa Itu Self Compassion Cara Berdamai dengan Diri saat Gagal
Apa Itu Self-Compassion? Cara Berdamai dengan Diri saat Gagal. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 22 Juli 2026 - Kenapa kita selalu menuntut diri harus sempurna? “Harus lebih pintar”, “Harus lebih sukses”, “Harusnya aku tidak melakukan kesalahan itu”.

Kalimat-kalimat seperti ini sering muncul dalam pikiran banyak orang. Di era media sosial, standar kesuksesan dan kesempurnaan tampak semakin tinggi.

Kita melihat pencapaian orang lain setiap hari, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan diri sendiri.

Ketika gagal mencapai target atau melakukan kesalahan, respons yang muncul sering kali bukan pemahaman terhadap diri sendiri, melainkan kritik dan hukuman.

Padahal, menjadi manusia berarti tidak luput dari kesalahan, kegagalan, dan berbagai keterbatasan.

Banyak orang memperlakukan diri sendiri lebih keras dibandingkan ketika memperlakukan teman atau orang yang mereka sayangi.

Kondisi ini dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, bahkan depresi. Situasi ini lah yang menunjukkan betapa pentingnya memahami konsep self-compassion.

Apa Itu Self-Compassion?

Sebagaimana dikemukakan oleh Neff (2023), self-compassion berarti mampu menyikapi diri sendiri dengan kelembutan dan perhatian saat menghadapi pengalaman sulit atau kegagalan.

Self-compassion bukan berarti memanjakan diri atau mengabaikan kesalahan, melainkan menerima kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan tetap layak mendapatkan kebaikan.

Menurut Neff (2023), self-compassion dapat dipahami sebagai sebuah konsep dengan tiga aspek yang saling terkait dalam cara seseorang merespons dirinya sendiri.

Dalam situasi ketika seseorang melakukan kesalahan atau menghadapi kegagalan, ia dapat belajar untuk bersikap lebih lembut terhadap dirinya sendiri, yang disebut sebagai self-kindness, yaitu kemampuan untuk tidak menghakimi diri secara berlebihan dan tetap memperlakukan diri dengan pengertian.

Di saat yang sama, individu juga diajak untuk menyadari bahwa pengalaman gagal dan penderitaan bukanlah sesuatu yang hanya dialami dirinya sendiri, melainkan bagian dari pengalaman manusia secara umum, yang dikenal sebagai common humanity.

Selain itu, terdapat aspek mindfulness yang membantu seseorang untuk tetap menyadari emosi dan pikiran yang muncul tanpa berusaha menekan atau membesar-besarkannya.

Baca Juga:  Narcissistic Personality Disorder (NPD): Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Ketiga aspek ini kemudian bekerja secara bersamaan dalam membantu seseorang belajar menghadapi kesulitan dengan cara yang lebih seimbang, sehat, dan adaptif.

Mengapa Self-Compassion Penting?

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa self-compassion berkaitan kuat dengan kesehatan mental individu.

Alavi (2021) menemukan bahwa self-compassion dapat berperan sebagai penghubung antara social safeness dan berbagai masalah psikologis, seperti depresi, kecemasan, dan stres.

Dengan kata lain, seseorang yang mampu bersikap lebih welas asih terhadap dirinya sendiri akan lebih terlindungi dari tekanan psikologis tersebut.

Hal ini juga diperkuat oleh Neff (2023) yang mengungkapkan bahwa self-compassion berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis, termasuk kemampuan mengelola emosi secara lebih sehat, serta kebahagiaan yang lebih tinggi.

Seseorang yang memiliki self-compassion cenderung tidak mudah terperangkap oleh rasa bersalah atau penilaian negatif terhadap diri sendiri, sehingga lebih mampu bangkit ketika menghadapi kegagalan.

Cara Mengembangkan Self-Compassion

Melatih self-compassion bukanlah hal yang sulit, tetapi membutuhkan kesadaran dan latihan yang konsisten.

Menurut Neff (2023), seseorang bisa mulai dengan memperhatikan cara berbicara pada diri sendiri saat melakukan kesalahan.

Alih-alih berkata kasar, orang dapat menenangkan dirinya dengan kata-kata pengertian seolah berbicara pada sahabat yang dicintai.

Selain itu, setiap orang perlu menyadari bahwa kesempurnaan bukanlah hal yang dimiliki manusia.

Saat menghadapi kegagalan atau kesulitan, seseorang perlu mengingat bahwa pengalaman seperti ini dialami oleh semua orang.

Kesadaran ini membantu mengurangi rasa terisolasi dan memungkinkan individu memandang masalah dengan lebih realistis serta tenang.

Latihan mindfulness juga menjadi bagian penting dalam proses ini. Dengan kesadaran penuh, seseorang dapat menyadari emosi yang muncul tanpa menolak atau membesar-besarkannya.

Emosi yang diakui secara sadar memungkinkan individu memberi diri sendiri dukungan dan kebaikan, bukan menyalahkan diri.

Baca Juga:  Jangan Diabaikan! Ini 7 Jenis Gangguan Mental Lengkap dengan Gejala dan Penanganannya

Program Mindful Self-Compassion (MSC) yang dikembangkan oleh Germer dan Neff (2013) merupakan contoh intervensi yang terstruktur.

Penelitian Serpa et al. (2020) menunjukkan bahwa peserta veteran yang mengikuti program MSC mengalami peningkatan self-compassion dan kebahagiaan, serta penurunan depresi, kecemasan, kelelahan, dan gangguan akibat nyeri.

Program ini mengajarkan latihan meditasi, latihan menulis reflektif, dan praktik keseharian yang menekankan kebaikan pada diri sendiri.

Saatnya Berdamai dengan Ketidaksempurnaan

Budaya yang menuntut kesempurnaan sering membuat individu merasa bahwa nilai dirinya ditentukan oleh pencapaian.

Akibatnya, kesalahan kecil pun dapat dianggap sebagai kegagalan besar. Padahal, menjadi manusia berarti memiliki keterbatasan, melakukan kesalahan, dan terus belajar dari pengalaman.

Self-compassion mengajarkan bahwa menerima ketidaksempurnaan bukan berarti menyerah, melainkan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh secara sehat.

Saat seseorang belajar menyikapi diri sendiri dengan penuh kebaikan, menerima bahwa penderitaan adalah bagian alami dari kehidupan, dan mampu menyadari emosinya secara seimbang, ia akan lebih siap menghadapi tantangan hidup dengan tenang dan bijak.

Ketika melakukan kesalahan atau merasa tidak cukup baik, ingatlah satu hal sederhana: tidak apa-apa tidak sempurna.

Justru dari penerimaan terhadap ketidaksempurnaan inilah proses pertumbuhan dapat dimulai (Neff, 2023; Alavi, 2021; Serpa et al., 2020).

Penulis: Artikel Karya Erika Rizkita Maharani, Mahasiswi Universitas Mercu Buana.

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending