Connect with us

Lifestyle

Kenali Toxic Positivity dan Cara Menyikapinya

Toxic positivity bukan sekadar berpikir positif. Kenali dampaknya terhadap kesehatan mental dan cara membangun paradigma positif yang lebih sehat.

Logompn

Published

on

Kenali Toxic Positivity dan Cara Menyikapinya
Kenali Toxic Positivity. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 11 Agustus 2026 - “Sabar aja ya, orang lain masalahnya lebih besar kok.”

Mungkin kalimat seperti ini sering terdengar, atau bahkan kita sendiri pernah mengalaminya saat sedang menghadapi sesuatu yang berat.

Entah mengapa, bukannya merasa lega, kita justru menjadi takut untuk jujur dan takut untuk mengekspresikan perasaan itu di depan orang lain.

Padahal sebenarnya perasaan itu sangat normal untuk kita rasakan.

Dari sini tumbuhlah sebuah budaya bahwa kita harus selalu tampil positif, selalu baik-baik saja seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk, dan secara perlahan membawa kita semakin tenggelam di dalam masalah itu sendiri.

Ketika “Positif” menjadi Tidak Sehat

Toxic positivity adalah pola respons, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, di mana hanya emosi-emosi yang menyenangkan yang dianggap boleh dirasakan, sementara semua yang terasa berat dan menyusahkan langsung ditolak atau diabaikan.

Lebih dari sekadar berpikir positif, toxic positivity bekerja dengan cara yang lebih halus.

Ia membuat orang merasa enggan berbicara. Ketika seseorang berbagi rasa sedih lalu disambut dengan “Syukuri apa aja yang kamu punya”, di balik kata-kata itu tersimpan pesan bahwa perasaanmu tidak layak untuk diakui.

Seseorang yang terbiasa menutupi dan tidak mau mengakui perasaannya cenderung menggunakan strategi coping yang tidak adaptif, yang akhirnya meningkatkan kerentanan terhadap stres berkepanjangan dan gangguan kecemasan.

Ketika seseorang tidak punya ruang yang cukup untuk mengekspresikan apa yang sedang dihadapi, ia juga kehilangan kesempatan untuk belajar mengelola emosinya dengan cara yang sehat.

Akibatnya, emosi terus menumpuk dan suatu saat bisa meluap.

Baca Juga:  Narcissistic Personality Disorder (NPD): Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang tidak mampu meregulasi emosi dengan baik cenderung mengalami penurunan kesejahteraan psikologis yang signifikan, termasuk rasa kesepian yang mendalam, bukan karena tidak ada orang di sekitar, tetapi karena tidak ada satu pun yang mengerti.

Fenomena ini juga dibahas dalam artikel Pijar Psikologi, Menjadi Manusia Seutuhnya dengan Mengelola Emosi Negatif, yang menekankan bahwa emosi negatif sebenarnya wajar dan dibutuhkan sebagai sarana evaluasi diri, bukan sesuatu yang harus disingkirkan demi terlihat baik-baik saja.

Jujur Itu Justru Kuat

Lalu apa bedanya dengan paradigma positif? Jawabannya terletak di dalam kejujuran.

Paradigma positif bukan soal selalu berpikir positif atau memaksakan senyum ketika perasaan sedang hancur.

Konsep ini berakar dari positive psychology yang dikembangkan oleh Martin Seligman, yang sejak awal menegaskan bahwa psikologi positif bukan tentang menghindari emosi negatif, melainkan tentang membangun kehidupan yang bermakna, termasuk di tengah kesulitan dan rasa sakit.

Dengan kata lain, paradigma positif adalah cara pandang yang berani mengakui bahwa hidup memang tidak selalu mudah, dan justru di situlah manusia bisa tumbuh dan menemukan makna yang nyata.

Salah satu kuncinya adalah penerimaan.

Namun, menerima bukan berarti pasrah atau menyerah. Menerima artinya kamu mau berjalan bersama dengan perasaanmu sendiri, seperti rasa sedih dan kecewa, tanpa harus berpura-pura.

Dalam pendekatan seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT), penerimaan terhadap pengalaman emosional yang tidak menyenangkan justru menjadi awal dari perubahan yang bermakna.

Penelitian juga menunjukkan bahwa self-compassion, kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan saat menghadapi kesulitan, terbukti menjadi prediktor signifikan bagi kesejahteraan psikologis.

Dengan jujur dan welas asih pada diri sendiri, kita bisa mulai mengelola dan melewati emosi itu dengan cara yang sehat.

Baca Juga:  Mengenal Secure Attachment, Bekal Anak untuk Tumbuh Mandiri

Konsep ini juga dibahas lebih dalam pada artikel Pijar Psikologi, Self-Compassion: Berbelas Kasih pada Diri Sendiri, yang menjelaskan bagaimana kehangatan pada diri sendiri dapat membantu kita melalui masa-masa sulit.

Riset tentang kesehatan mental di Indonesia semakin mengonfirmasi hal ini.

Mereka yang mampu mengakui dan menerima emosi negatif justru cenderung memiliki kemampuan bertahan yang lebih baik dan kesejahteraan diri yang lebih tinggi.

Orang-orang yang terlihat selalu kuat bukan berarti mereka tidak pernah merasakan kesedihan, melainkan tahu bagaimana belajar dari keterpurukan dan bangkit.

Seseorang yang benar-benar berparadigma positif berani berkata “aku sedang tidak baik-baik saja” karena mereka cukup jujur terhadap diri sendiri untuk tidak berpura-pura.

Lalu, Bagaimana Cara Menerapkannya?

Paradigma positif juga mengubah cara kita merespons orang-orang di sekitar.

Kita belajar untuk tidak terburu-buru memberi solusi, melainkan benar-benar hadir dan mendengarkan.

Dalam komunikasi yang mendukung kesehatan mental, dua hal inilah yang paling dibutuhkan, yaitu validasi dan kehadiran yang tulus.

Validasi artinya mengakui bahwa perasaan seseorang itu nyata dan masuk akal, tanpa perlu membandingkan atau menghakimi.

Kalimat sesederhana “Wajar banget kamu ngerasa kaya gitu” atau “aku di sini, cerita aja” bisa memberikan rasa aman yang jauh lebih besar dari seribu kalimat motivasi.

Kehadiran yang tulus berarti kita tidak perlu selalu punya jawaban, hanya cukup hadir, mendengar, dan menemani.

Secara praktis, ada beberapa langkah yang bisa mulai diterapkan.

Pertama, melatih diri untuk mengenali emosi yang sedang dirasakan.

Kedua, pilih satu orang yang dipercaya untuk berbicara jujur tanpa takut dihakimi.

Ketiga, ketika merespons orang lain yang sedang kesulitan, tahan dulu dorongan untuk langsung memberikan solusi atau semangat.

Baca Juga:  Bagaimana Cara Menghibur Orang yang sedang Berduka karena Kehilangan Orang Terkasih?

Tanyakan terlebih dahulu, “Apa yang paling kamu butuhkan sekarang?”

Langkah-langkah kecil ini, jika dilakukan dengan konsisten, adalah bentuk nyata dari paradigma positif dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah derasnya konten motivasi yang menyederhanakan kompleksitas emosi manusia, sudah saatnya kita mulai bijaksana.

Toxic positivity adalah sikap positif yang dipaksakan, yang tanpa sadar mengabaikan perasaan yang nyata.

Sementara paradigma positif adalah sikap yang jujur, berani, dan manusiawi yang mengakui bahwa emosi negatif merupakan bagian dari pengalaman manusia yang layak didengar dan dipahami.

Saat kamu merasa tidak baik-baik saja, tidak apa-apa untuk mengakui dan merasakan emosimu.

Saat orang lain sedang berjuang, jangan terburu-buru menyuruh mereka kuat atau tetap semangat.

Hadirlah, dengarkan, dan temani. Karena itulah bentuk paradigma positif yang sesungguhnya.

Artikel Karya Merry Christina, Marulin Hotmaida dari Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending