Connect with us

Berita

Asap Karhutla Selimuti IKN, Istana Garuda Nyaris Tak Terlihat

Kabut asap karhutla menyelimuti IKN hingga Istana Garuda tampak samar. Kualitas udara masuk kategori tidak sehat dengan ISPU PM2.5 mencapai 112.

Actress 1299250

Published

on

Ilustrasi Gedung Garuda di IKN tertutup kabut asap Karhutla
Ilustrasi Gedung Garuda di IKN tertutup kabut asap Karhutla. Gambar: Ilustrasi AI by MPN Indonesia

MPN Indonesia 16 Oktober 2026 - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Asap dari kebakaran di sejumlah wilayah Kalimantan membuat Istana Garuda dan sejumlah bangunan pemerintahan tampak samar.

Kondisi ini mengurangi jarak pandang dan memengaruhi kualitas udara di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono memastikan aktivitas pemerintahan tetap berjalan meski kabut asap menyelimuti kawasan tersebut.

“Aktivitas masih berjalan normal. Saya selalu memonitor untuk kondisi ini, khususnya penggunaan masker,” kata Basuki dalam keterangannya.

Basuki mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sekitar IKN menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan asap.

Ia juga terus memantau kondisi udara di kawasan pusat pemerintahan tersebut.

Kabut Asap Karhutla Tutupi Istana Garuda dan Bangunan IKN

Kabut asap membuat sejumlah bangunan di kawasan inti ibu kota baru tidak terlihat jelas dari kejauhan.

Sejumlah bangunan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) terdampak berkurangnya jarak pandang.

Istana Garuda tampak samar, sementara Rumah Susun ASN dan sejumlah gedung perkantoran di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) tidak terlihat jelas dari kejauhan.

Selain itu, Masjid Negara juga nyaris tidak terlihat dari kawasan glamping yang berjarak sekitar lima kilometer.

Kabut asap paling pekat terjadi pada pagi hari.

Namun, Basuki menyebut kondisinya mulai berkurang dibandingkan hari sebelumnya.

“Paling terasa di pagi hari. Hari sebelumnya itu jauh lebih parah dari ini,” ujarnya.

Basuki menjelaskan aktivitas di kawasan pemerintahan masih dapat berlangsung meski kualitas udara terdampak karhutla.

Baca Juga:  Kios di Depok Ludes Dilahap Api, 1 Orang Tewas

“Masih bisa beraktivitas,” ucap Basuki.

Kualitas Udara IKN Masuk Kategori Tidak Sehat

Dampak kebakaran hutan dan lahan juga terlihat dari hasil pemantauan kualitas udara di kawasan IKN.

Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) KLH/BPLH menunjukkan kualitas udara di sekitar Plaza Bhinneka KIPP masuk kategori tidak sehat.

Nilai ISPU PM2.5 tercatat mencapai 112 pada Jumat (16/10) pukul 16.35 WIB.

Basuki menyebut angka pemantauan kualitas udara sebelumnya sempat mencapai 150.

“Bahkan sempat menyentuh di angka 150. Kita akan terus pantau menggunakan alat pemantau yang berada di kawasan taman Bhineka Tunggal Ika,” ujarnya.

Basuki juga menyampaikan konsentrasi partikel di udara berada pada kisaran 130–150 mikrogram per meter kubik.

“Indeksnya sekitar 130-150 mikrogram per meter kubik (µg/m³) sekarang. Tapi kan sekarang agak tipis, kemarin tebal. Kemarin agak tebal, tapi saya kira masih oke kita pakai, di sini masih bisa beraktivitas,” paparnya.

Pemantauan kondisi udara dilakukan menggunakan alat yang berada di kawasan Taman Bhinneka Tunggal Ika.

Sementara itu, penggunaan masker menjadi perhatian selama aktivitas berlangsung di tengah kabut asap.

Otorita IKN Kerahkan Helikopter untuk Padamkan Karhutla

Otorita IKN turut menangani kebakaran hutan dan lahan di wilayah delineasi ibu kota baru.

Penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan Pangkalan Udara Dhomber dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Kita terus mengupayakan proses pemadaman karhutla melalui kerja sama dengan Lanud Dhomber serta BMKG,” tutur Basuki.

Upaya penanganan kebakaran dilakukan melalui dua langkah utama.

Pertama, water bombing dilakukan dengan mengerahkan helikopter untuk menyiramkan air dari udara ke lokasi kebakaran.

Sementara itu, OMC dilakukan untuk membantu menghasilkan hujan guna mendukung proses pemadaman api.

Baca Juga:  Kafe di Poins Square Lebak Bulus Kebakaran, Ini Penyebabnya

Namun, operasi modifikasi cuaca belum berjalan maksimal karena minimnya awan hujan di sekitar kawasan IKN.

“OMC juga dilakukan untuk menghasilkan hujan yang dapat mendukung pemadaman api. Meskipun belum berjalan maksimal karena minimnya awan hujan di langit IKN,” kata Basuki.

(AKM/NID/RAD)

Trending