Connect with us

Berita

Psikologi Ungkap Ternyata Anak yang Fatherless Memilih untuk Tidak Menikah dan Childfree

Psikolog Anastasia Sari Dewi ungkap dampak fatherless pada anak. Minimnya peran ayah picu enggan menikah dan pilih hidup childfree.

Actress 1299250

Published

on

Psikologi Ungkap Ternyata Anak yang Fatherless Memilih untuk Tidak Menikah dan Childfree
Psikologi Ungkap Ternyata Anak yang Fatherless Memilih untuk Tidak Menikah dan Childfree. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 17 Desember 2024 - Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menjelaskan bahwa anak yang mengalami fatherless cenderung memilih untuk tidak menikah dan menjalani kehidupan childfree.

Fenomena ini muncul akibat kekecewaan emosional yang besar karena minimnya peran ayah dalam pengasuhan, yang memengaruhi pandangan anak terhadap keluarga dan tanggung jawab sebagai orang tua.

Dampak Emosional dari Fatherless

Anastasia Sari Dewi menegaskan bahwa kondisi fatherless berdampak signifikan terhadap psikologis anak.

Ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan dapat menimbulkan perasaan kecewa mendalam dan ketidakpastian dalam membentuk keluarga.

Hal ini sering kali berujung pada keengganan anak untuk menikah atau memiliki anak.

“Fatherless ini juga bisa berdampak pada kekecewaan anak yang besar. Kemudian ketakutan dan keengganan untuk membentuk keluarga atau memiliki anak,” ujar Sari pada Senin (16/12).

Lebih lanjut, Sari menjelaskan bahwa anak yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung merasa tidak siap mengambil tanggung jawab sebagai orang tua.

Hal ini mendorong mereka untuk memilih kehidupan childfree sebagai langkah menghindari beban tersebut.

“Karena dia mungkin juga merasa tidak tahu harus seperti apa saat menjadi orang tua dan dia menghindari tanggung jawab tersebut dengan memilih untuk tidak memiliki anak, itu bisa jadi salah satu faktor risiko ya,” tambahnya.

Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak

Sari menekankan bahwa peran pengasuhan anak antara ayah dan ibu sama pentingnya.

Ketika seorang ayah hanya fokus pada pekerjaan dan tidak terlibat dalam pengasuhan anak, hubungan emosional dengan anak dapat terganggu.

Hal ini sering kali membuat komunikasi antara ayah dan anak menjadi minim, bahkan bersifat transaksional.

Baca Juga:  Deretan Artis Indonesia yang Pilih Childfree, Ada Gitasav

“Misalnya ayah cuma kerja pulang kerja pulang, tanpa ada komunikasi yang baik, tanpa ada keterbukaan, anak jadi melihatnya ayah ini sebagai sosok yang harus dihargai atau dihormati dalam rangka transaksional, untuk kepentingan pribadi,” jelasnya.

Sari menambahkan bahwa pola asuh seperti ini menciptakan kebingungan identitas pada anak, baik dalam memahami peran gender maupun tanggung jawab di dalam keluarga.

Anak menjadi sulit memahami peran mereka sebagai laki-laki atau perempuan dalam kehidupan keluarga.

“Anak juga sibuk mencari-cari posisinya seperti apa, perannya sebagai laki-laki apa, perannya sebagai perempuan apa, itu semuanya menjadi sebuah kebingungan,” tandasnya.

Data Fatherless di Indonesia

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021, hanya 37,17 persen anak usia 0-5 tahun di Indonesia yang mendapatkan pengasuhan lengkap dari kedua orang tua, yaitu ibu dan ayah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa peran ayah dalam pengasuhan masih sering diabaikan.

Salah satu penyebab utama fenomena fatherless di Indonesia adalah persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab ibu semata.

Hal ini membuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan menjadi terbatas, yang pada akhirnya berdampak pada hubungan emosional antara ayah dan anak.

Pentingnya Keterlibatan Ayah

Anastasia Sari Dewi menyoroti bahwa peran aktif ayah dalam pengasuhan sangat penting untuk membentuk keseimbangan emosional dan perkembangan anak.

Ketidakhadiran ayah tidak hanya berpengaruh pada hubungan orang tua-anak tetapi juga dapat menimbulkan masalah sosial di masa depan, seperti keengganan untuk menikah dan memilih hidup childfree.

Trending