Connect with us

Internasional

Fenomena Puasa Singkat di Murmansk Rusia, Hanya Berlangsung Sekitar Satu Jam

Viral seorang pria Indonesia bernama Satria Malaca membagikan pengalaman puasanya di Murmansk, Rusia. 

Actress 1299250

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 03 06t093244.764
Murmansk, Rusia | Gambar: Wikipedia

MPN Indonesia 6 Maret 2025 - Viral di media sosial seorang pria Indonesia bernama Satria Malaca membagikan pengalaman puasanya di Murmansk, Rusia.

Dalam unggahan di media sosial pribadinya, Satria mengatakan bahwa ia pernah berpuasa selama satu jam di Murmansk.

“Hari ini saya lagi berpuasa, tapi bukan mau pamer puasanya ya. Saya mau pamer saya puasa cuma satu jam-an aja,” ujar Satria dikutip MPN Indonesia dari Instagram @lalusatriamalaca.

Satria menjelaskan bahwa ia sahur sekitar pukul 12.00 waktu setempat, dan hanya satu jam setelahnya sudah bisa berbuka puasa.

“Ini sudah maghrib ya. Ini baru jam 12-an. Kalau subuh dan maghrib jaraknya sedekat ini,” tambahnya.

Dalam kesempatan lain saat memandu wisatawan asal Indonesia, Satria juga mengumumkan bahwa waktu salat subuh, maghrib, dan isya bisa masuk secara bersamaan karena durasi siang yang sangat pendek.

“Oke bapak-ibu, bagi yang beragama Muslim, sekarang sudah masuk waktu salat subuh, maghrib, dan isya di waktu bersamaan,” jelasnya.

Durasi Puasa Berbeda di Tiap Negara

Selama bulan Ramadan, lama waktu berpuasa bagi umat Muslim di berbagai negara tidaklah sama.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh letak geografis serta kondisi alam di masing-masing daerah.

Fenomena seperti “matahari tengah malam” di sekitar Lingkaran Arktik menyebabkan waktu siang jauh lebih panjang, sehingga umat Muslim harus berpuasa lebih lama.

Negara di Belahan Selatan Jalani Puasa Singkat

Negara-negara di belahan bumi selatan seperti Brasil, Zimbabwe, dan Pakistan memiliki durasi puasa yang lebih singkat, berkisar antara 12 hingga 13 jam.

Baca Juga:  Jadwal Imsakiyah Kota dan Kabupaten Bekasi Ramadan 2026, Lengkap dengan Waktu Salat

Bahkan di Cape Town, Afrika Selatan, umat Muslim hanya menjalani puasa selama 11 hingga 12 jam setiap harinya.

Sementara itu, negara-negara di belahan bumi utara menjalani puasa lebih lama dibandingkan negara-negara di belahan bumi selatan.

Murmansk: Kota dengan Kondisi Siang dan Malam Ekstrem

Murmansk, sebuah kota yang terletak dekat dengan Kutub Utara, mengalami fenomena malam kutub (polar night) saat musim dingin.

Pada periode ini, matahari tidak muncul sama sekali selama satu bulan penuh. Sebaliknya, ketika musim panas tiba, matahari hampir tidak pernah tenggelam.

Kondisi ini berdampak pada jadwal ibadah, termasuk waktu berpuasa.

Pada bulan Desember, selisih antara waktu Zuhur dan Asar hanya sekitar 10 menit, dan satu menit setelah Asar, waktu Magrib pun tiba.

Dengan demikian, umat Muslim di Murmansk hanya menjalani puasa sekitar satu jam.

Sebagai catatan, umat Muslim di Murmansk pernah menjalankan puasa pada bulan Desember di tahun 2001 dan 2002.

Namun, pada Ramadan tahun ini, mereka mengikuti durasi puasa selama 12 hingga 13 jam.

Pengaruh Pergerakan Bumi terhadap Durasi Puasa

Durasi puasa dihitung dari terbitnya fajar hingga matahari terbenam. Oleh karena itu, panjangnya waktu siang dan malam di suatu wilayah akan memengaruhi lama berpuasa.

Pergantian waktu ini dipengaruhi oleh dua gerakan bumi, yaitu rotasi dan revolusi.

Negara-negara yang berada di sekitar garis khatulistiwa, seperti Indonesia, memiliki durasi puasa yang cukup stabil, yaitu antara 12 hingga 14 jam.

Sementara itu, negara-negara yang terletak di wilayah ekstrem, seperti Islandia dan Norwegia, dapat mengalami durasi puasa yang jauh lebih panjang, bahkan mencapai 20 jam atau lebih.

(ADN/NID/RAD)

Trending