Lifestyle
Fenomena Post Raya Syndrome Viral Usai Lebaran 2025: Cerita Gen Z dan Kembali ke Rutinitas
Ramai di TikTok, post raya syndrome dirasakan Gen Z setelah Lebaran 2025.
MPN Indonesia 9 April 2025 - Fenomena post raya syndrome menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah perayaan Lebaran 2025. Banyak warganet, khususnya dari kalangan Gen Z, mengungkapkan perasaan hampa, tidak semangat, hingga enggan kembali beraktivitas setelah menikmati momen lebaran.
Ungkapan perasaan ini muncul di berbagai platform digital, terutama TikTok, dan memicu banyak diskusi serta konten yang menyuarakan hal serupa.
Libur Panjang dan Euforia Lebaran
Libur Lebaran tahun ini dimulai sejak (21/3), memberikan waktu cukup panjang bagi pelajar dan pekerja untuk berkumpul bersama keluarga.
Desti, seorang pelajar SMP swasta di Ciledug, mengungkapkan bahwa masa liburan yang dijalaninya sangat menyenangkan. Ia sempat mudik, mengunjungi tempat wisata, serta menikmati waktu bermain gawai tanpa batasan. Namun, ia merasa waktu liburan masih kurang panjang.
“Hari ini masuk cuma buat halal bihalal aja. Tapi aku gak masuk karena cuma sejam aja datengnya dan gak belajar juga,” ungkap Desti kepada MPN Indonesia pada Rabu (9/4).
Meski demikian, Desti menyatakan senang kembali ke sekolah karena bisa bertemu dengan teman-teman, mengatasi rasa bosan yang muncul saat di rumah.
Perubahan Perasaan Setelah Lebaran
Berbeda dari Desti, Winda, seorang pekerja di salah satu perkantoran Jakarta Selatan, mengaku tidak terlalu merasa antusias dengan lebaran dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai anak bungsu yang kini ditinggal kakak-kakaknya membentuk keluarga sendiri, ia merasakan suasana lebaran yang lebih sepi.
“Malahan habis salam-salaman gue jadi penunggu rumah abadi,” ucap Winda.
Winda mengaku tidak terlalu merasa terkena fenomena post raya syndrome, namun tetap mengakui bahwa ada rasa hampa setelah Lebaran.
Saat ditanya soal momen yang paling dirindukan, Winda menyebut kegiatan membeli baju lebaran sambil buka puasa bersama, serta kenangan mudik ke Klaten yang dekat dengan Yogyakarta.
“Makan malam bareng keluarga di pinggiran Malioboro itu memorable banget,” ujarnya.
Dampak Emosional dan Transisi ke Aktivitas Sehari-hari
Nispri, pekerja lain yang berdomisili dan bekerja di daerah Pesanggrahan, Jakarta Selatan, justru merasa sangat terhubung dengan fenomena post raya syndrome. Ia mengenang kembali momen saat masih bisa pulang kampung dan berkumpul bersama neneknya.
“Macet berjam-jam di mobil, ngobrol hal random, dengerin lagu yang sama, dan makan sop kaki sapi buatan nenek, itu yang paling dikangenin,” kata Nispri.
Kembali ke rutinitas menjadi tantangan tersendiri bagi Nispri. Ia mengaku merasa enggan memulai kembali aktivitas rutin setelah libur lebaran.
Suasana Sepi Pasca Lebaran
Keira, pelajar SMP lainnya, juga merasakan efek fenomena post raya syndrome. Menurutnya, suasana setelah lebaran terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya yang ramai dan penuh kebersamaan.
“Tadinya rame banget pas lebaran, terus siangnya sampe besok tiba-tiba sepi banget,” ujarnya.
Keira mengungkapkan kerinduannya terhadap momen-momen spesial seperti menerima THR dan berkumpul bersama keluarga besar.
“Iya, kangen dapet THR dan kumpul bersama keluarga, saudara, budhe, dan tante.” imbuhnya.
Kembali ke Rutinitas dan Motivasi Kerja
Meski ada rasa kehilangan semangat setelah liburan, beberapa orang tetap memiliki motivasi untuk kembali bekerja. Winda misalnya, mengaku mendapatkan semangat kembali setelah masuk kerja karena suasana kantor yang menyenangkan. Ia juga menyebutkan bahwa keinginannya untuk memiliki karier tetap dan memberi kontribusi finansial kepada keluarga menjadi dorongan tersendiri.
“Motivasi gue ya uang dan pengalaman. Gue pengen CV gue bagus biar bisa cepet dapet kerjaan tetap,” ucap Winda.
Fenomena post raya syndrome yang marak di media sosial pasca Lebaran 2025 menjadi refleksi perasaan kolektif masyarakat, terutama Gen Z.
Perubahan suasana, perpisahan dengan keluarga, dan kembalinya rutinitas harian menjadi pemicu utama dari sindrom ini.
Meski tidak semua orang mengalami dampak yang sama, narasi yang tersebar di media sosial menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional yang terbentuk selama masa lebaran.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
