Connect with us

Internasional

Trump Hajar China dengan Tarif 125%, Sebut Negeri Tirai Bambu Kurang Hormat

Donald Trump naikkan tarif impor produk China jadi 125% usai menuding China tak hormat.

Logompn

Published

on

Trump hajar china dengan tarif 125%, sebut negeri tirai bambu kurang hormat
Presiden AS Donald Trump kembali menaikkan tarif impor produk China menjadi 125% pada 9 April 2025. Gambar : AFP/Jim Watson

MPN Indonesia 10 April 2025 - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menaikkan tarif impor terhadap produk dari China menjadi 125% pada Rabu (9/4), sebagai tanggapan terhadap langkah China yang sebelumnya meningkatkan tarif terhadap barang impor asal AS. 

Kenaikan tarif ini diumumkan Donald Trump melalui platform media sosial Truth Social, dengan alasan kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan oleh pemerintah China terhadap sistem pasar global.

“Berdasarkan kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan China kepada Pasar Dunia, dengan ini saya menaikkan tarif yang dibebankan ke China oleh Amerika Serikat menjadi 125%, berlaku segera,” ungkap Donald Trump di Gedung Putih, dikutip MPN Indonesia yang diunggah dari Truth Social pada Kamis (10/4).

Langkah ini memperpanjang eskalasi sengketa perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia. 

Konflik tarif dagang yang berlangsung secara timbal balik ini menambah ketegangan dalam hubungan dagang internasional dan dikhawatirkan dapat memicu kerusakan lebih lanjut terhadap sistem perdagangan global.

Balasan Terhadap Kenaikan Tarif China

Kebijakan terbaru ini merupakan tanggapan langsung terhadap pengumuman dari Kantor Komisi Tarif Dewan Negara China, yang menyatakan bahwa tarif impor untuk produk Amerika Serikat akan meningkat dari 34% menjadi 84%. 

Tarif tersebut mulai diberlakukan pada Kamis (10/4). Kenaikan ini sendiri merupakan respons atas tarif tinggi yang sebelumnya diterapkan oleh pemerintahan Donald Trump terhadap produk asal China.

Pada (2/4), Donald Trump telah menetapkan tarif dasar sebesar 10% terhadap impor dari lebih dari 180 negara, termasuk China. Setelah China merespons dengan menaikkan tarifnya, Donald Trump membalas lagi dengan menaikkan tarif impor barang dari China menjadi 104%. 

Baca Juga:  Trump Ungkap Tak akan Cabut Blokade sebelum Capai Kesepakatan dengan Iran

Kini, dengan lonjakan terbaru menjadi 125%, Donald Trump menegaskan bahwa langkah ini diambil karena China tidak menunjukkan niat untuk bernegosiasi secara konstruktif.

Eskalasi Perdagangan dan Dampak Ekonomi

Peningkatan tarif dagang antara AS dan China menimbulkan risiko besar terhadap arus ekspor impor global. Menurut data Kantor Perwakilan Dagang AS, pada tahun 2024, Amerika Serikat mengekspor barang senilai 143,5 miliar dolar AS ke China dan mengimpor produk senilai 438,9 miliar dolar AS dari negara tersebut. 

Ketidakseimbangan ini menjadi salah satu pendorong utama kebijakan tarif agresif yang diambil oleh pemerintahan Donald Trump.

Di tengah sengketa ini, Donald Trump juga mengumumkan penurunan tarif impor dari sebagian besar mitra dagang AS menjadi 10% selama 90 hari. Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi negosiasi perdagangan dengan negara-negara mitra tersebut. 

Menurut Donald Trump, lebih dari 75 negara telah menghubungi pejabat AS untuk memulai diskusi terkait kebijakan tarif baru ini.

Respons Pasar dan Strategi Pemerintah

Kebijakan perdagangan terbaru memicu pergerakan signifikan di pasar keuangan. Indeks saham S&P 500 naik 7% pada Rabu (9/4), mencatatkan kenaikan harian tertinggi dalam lima tahun terakhir dan membalikkan tren penurunan selama empat hari sebelumnya.

Menanggapi reaksi publik dan pasar, Donald Trump menyampaikan bahwa respons yang berlebihan terhadap kebijakan tarif dagang tidak sepenuhnya diperlukan. 

“Saya rasa orang-orang sedikit terlalu reaktif,” ujar Donald Trump di Gedung Putih, dikutip MPN Indonesia yang dilansir dari Yahoo News pada Kamis (10/4).

Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menjelaskan bahwa strategi penundaan dan pengurangan tarif terhadap negara-negara lain sudah dirancang sejak awal. 

Scott Bessent juga menyebut bahwa China merupakan pelanggar berat dalam sistem perdagangan internasional, dan oleh karena itu, perlu ditekan dengan kebijakan tarif yang lebih tegas.

Baca Juga:  Prabowo Lawatan Kenegaraan ke China, Undangan Resmi dari Presiden Xi Jinping

“Sangat disayangkan bahwa China sebenarnya tidak ingin datang dan bernegosiasi, karena mereka adalah pelanggar terburuk dalam sistem perdagangan internasional,” ungkap Scott Bessent, dikutip MPN Indonesia dari Fox Business pada Kamis (10/4).

Penyesuaian Tarif Resiprokal Global

Selain kebijakan terhadap China, Donald Trump juga mengumumkan penerapan tarif resiprokal terhadap hampir 90 negara. Tarif ini berkisar antara 11% hingga 5%, tergantung pada perlakuan dagang masing-masing negara terhadap AS. 

Langkah ini merupakan bagian dari strategi perdagangan internasional yang lebih luas yang dicanangkan oleh pemerintahan Donald Trump untuk menyeimbangkan defisit perdagangan dan memperkuat posisi AS di pasar global.

(ADN/NID/RAD)

Trending