Connect with us

Ekonomi

Mengapa Penggunaan PayLater Semakin Populer di Kalangan Milenial dan Gen Z?

Penggunaan PayLater meningkat tajam di kalangan milenial dan Gen Z.

Logompn

Published

on

Mengapa penggunaan paylater semakin populer di kalangan milenial dan gen z
Layanan PayLater kian digemari generasi muda karena praktis dan cepat. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 18 April 2025 - Penggunaan layanan PayLater semakin populer di kalangan generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, menurut data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Tren ini mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena kemudahan akses dan kepraktisan layanan digital yang ditawarkan oleh berbagai platform.

Kemudahan tersebut membuat layanan PayLater menjadi alternatif yang lebih menarik dibandingkan pinjaman tradisional dari lembaga keuangan seperti bank.

Dominasi Generasi Muda dalam Layanan PayLater

Kelompok usia milenial dan Gen Z kini menjadi pengguna utama layanan PayLater. Berdasarkan data OJK, dominasi dua kelompok ini dalam penggunaan PayLater mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat modern yang lebih mengandalkan teknologi digital dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pengelolaan keuangan pribadi.

Jaya, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menjelaskan bahwa generasi muda lebih melek digital dan telah terbiasa menggunakan teknologi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk transaksi keuangan. 

“PayLater menawarkan kemudahan yang sangat menarik, terutama bagi generasi muda yang lebih suka transaksi cepat dan mudah, tanpa melalui proses yang rumit seperti pinjaman bank,” ujar Jaya kepada MPN Indonesia pada Jumat (18/4).

Pengaruh Gaya Hidup dan Kemudahan Digital

Salah satu alasan utama dibalik meningkatnya penggunaan PayLater di kalangan muda adalah kemudahan proses yang ditawarkan dibandingkan sistem perbankan tradisional. 

Selain itu, gaya hidup modern yang sarat dengan dorongan untuk mengikuti tren di media sosial turut mendorong perilaku konsumtif di kalangan pengguna.

Kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan sekunder seperti pembelian gadget, produk fesyen, dan layanan hiburan menjadi salah satu pemicu utama penggunaan PayLater. 

Baca Juga:  Prabowo Hapus Utang KUR Petani Terdampak Banjir di Sumatra dan Aceh

Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) juga memperparah situasi, di mana individu terdorong untuk terus mengikuti gaya hidup tertentu demi eksistensi sosial.

Risiko Utang dan Dampak Sosial

Meskipun layanan ini memberikan kemudahan dan fleksibilitas, PayLater juga membawa potensi risiko yang signifikan jika tidak dikelola dengan bijak. 

Jaya menekankan, “Jika tidak diatur dan dikontrol dengan baik, ini bisa menyebabkan tagihan menumpuk dan tekanan psikologis akibat penagihan yang agresif, bahkan penyalahgunaan data pribadi.”

Akumulasi tagihan dari penggunaan PayLater yang tidak terkendali dapat membebani keuangan individu secara serius. Tekanan dari pihak penagih, termasuk potensi penyalahgunaan data pribadi, dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental. 

Kondisi ini bukan hanya berdampak pada pengguna secara individu, tetapi juga menambah beban anggaran kesehatan publik dalam jangka panjang.

Urgensi Literasi Keuangan dan Regulasi

Untuk mengatasi risiko yang ditimbulkan dari layanan PayLater, penting bagi generasi muda untuk meningkatkan literasi keuangan. Pemahaman yang lebih baik mengenai cara kerja sistem pembayaran tangguhan ini dapat membantu pengguna menghindari beban utang yang tidak terkendali. 

Selain itu, kebijakan dan regulasi yang lebih tegas dari pihak berwenang juga menjadi langkah krusial dalam mencegah dampak negatif jangka panjang terhadap perekonomian individu dan masyarakat.

Pengelolaan utang secara bijak dan pemanfaatan PayLater yang bertanggung jawab menjadi kunci untuk menjaga kestabilan keuangan pribadi dan mencegah masalah sosial yang lebih besar.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending