Connect with us

Berita

Soal Mitigasi Subsiden Tanah, BMKG Minta Data Iklimnya Digunakan oleh Pemangku Kebijakan

BMKG menekankan pentingnya penggunaan data cuaca dan iklim untuk merencanakan mitigasi penurunan tanah.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 01t144628.031
Ilustrasi subsiden tanah | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 1 Mei 2025 - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya penggunaan data cuaca dan iklim untuk merencanakan mitigasi penurunan tanah (subsiden), khususnya di wilayah pesisir.

“BMKG mendorong agar data-data iklim dan cuaca yang tersedia dapat dimanfaatkan optimal oleh para pemangku kebijakan dalam menyusun perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan pengelolaan air tanah secara berkelanjutan,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto kepada MPN Indonesia, Rabu (30/4).

Penyebab Subsiden Tanah

Guswanto mengatakan ada peningkatan tren kejadian hujan ekstrem di Indonesia bahkan di luar musim hujan.

Inilah yang kemudian bisa menyebabkan terjadi subsiden tanah. Pasalnya, hujan dengan intensitas tinggi namun dalam waktu singkat dapat membuat tanah lebih mudah turun.

“BMKG mencatat adanya tren peningkatan kejadian hujan ekstrem di Indonesia, bahkan di luar periode musim hujan. Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat membuat tanah cepat jenuh oleh air, sehingga tanah menjadi lebih mudah padat dan turun,” kata Guswanto.

Guswanto menambahkan, bahwa banjir dan genangan yang lebih sering terjadi akibat hujan ekstrem juga memperburuk kondisi tanah.

“Hujan ekstrem yang terjadi secara terus menerus menambah beban terhadap sistem drainase dan infrastruktur perkotaan, yang menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan melemahkan daya dukungnya,” imbuhnya.

Kenaikan muka air laut juga berkontribusi terhadap perburukan kondisi tanah. Fenomena kenaikan muka air laut sebagai dampak dari pemanasan global menyebabkan peningkatan frekuensi dan durasi banjir rob.

Hal ini yang kemudian bisa mempercepat kerusakan tanah dan memperbesar risiko penurunan permukaan tanah di wilayah pesisir.

Upaya BMKG

Dalam menghadapi tantangan ini, BMKG bekerja sama dengan lembaga lain untuk memantau dan menanggapi fenomena subsiden tanah.

Baca Juga:  Sebanyak 68 Warga Mengungsi, 6 Rumah Rusak Berat akibat Longsor di Nagreg

“BMKG telah melakukan kolaborasi dengan Badan Informasi Geospasial (BIG), yang memiliki kewenangan dalam pengamatan deformasi permukaan bumi,” kata Guswanto.

“BMKG menyumbangkan data klimatologis dan meteorologis untuk mendukung analisis kawasan rentan,” imbuhnya.

Selain itu, BMKG juga terlibat dalam forum nasional terkait perubahan iklim.

“Dalam forum nasional seperti RAN-API, BMKG memberikan proyeksi iklim dan tren cuaca ekstrem jangka panjang yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan strategi mitigasi, termasuk untuk dampak subsiden,” katanya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending