Connect with us

Berita

PAM Jaya Genjot Proyek IPA Buaran III, Pengamat Lingkungan Ingatkan soal Risiko

Proyek IPA Buaran III Jakarta ditarget rampung 2029, namun WALHI meragukan dampaknya pada wilayah padat penduduk dan menyoroti minimnya konservasi air.

Logompn

Published

on

Apakah jakarta siap mewujudkan layanan air bersih 100% di 2029
WALHI tanggapi peresmian IPA Buaran III yang diresmikan oleh Gubernur Pramono Anung. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 12 Mei 2025 - Pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran III di Jakarta Timur yang diinisiasi PAM Jaya menjadi salah satu upaya utama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam memenuhi target cakupan layanan air bersih sebesar 100% pada tahun 2029.

Gubernur Pramono menyampaikan bahwa kehadiran Instalasi Pengolahan Air (IPA) merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menyediakan layanan air bersih bagi masyarakat Jakarta.

“IPA Buaran ini merupakan instalasi air dengan kapasitas produksi yang cukup tinggi. Saya memberikan target kepada dinas terkait dan Direktur Utama PAM Jaya beserta jajaran, agar pada 2029 seluruh kebutuhan air di Jakarta dapat terpenuhi. Saat ini, cakupan pipanisasi telah mencapai lebih dari 70 persen. Ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk terus meningkatkan cakupan layanan air di Jakarta,” ujar Gubernur Pramono kepada awak media pada Selasa (6/5).

Namun, langkah ini menuai kritik dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), yang menilai pembangunan tersebut datang terlalu terlambat untuk menjawab kebutuhan mendesak warga terhadap akses air bersih yang layak.

“Ini sebenarnya sudah terlambat karena kebutuhan air bersih warga masih belum terpenuhi sejak lama,” ungkap Dwi Sawung, Manajer Kampanye Perkotaan dan Energi WALHI kepada MPN Indonesia melalui aplikasi perpesanan pada Rabu (7/5).

WALHI juga menilai proyek ini belum menjangkau kawasan yang paling membutuhkan, seperti permukiman padat dan wilayah masyarakat miskin kota, yang hingga kini masih tertinggal dalam akses air bersih.

Lebih jauh, WALHI mempertanyakan realisme target layanan air bersih 100% di tahun 2029.

“Kalau lihat pembangunan pemipaan tampaknya masih jauh dari 100% di 2029, terutama pemipaan ke permukiman atau perkampungan padat,” tambah Dwi.

Evaluasi WALHI terhadap Proyek dan Pengelolaan Air

WALHI menyampaikan kekhawatirannya terkait dampak lingkungan sosial dari proyek pembangunan IPA Buaran III.

Baca Juga:  Maruarar Sirait: Prabowo dan Jokowi Solid Dukung RK-Suswono di Pilkada Jakarta

Salah satu sorotan utama adalah pembangunan pipa suplai air baku yang dianggap menimbulkan gangguan nyata di lapangan.

“Kalau dampak setiap pembangunan pasti ada tapi bisa dimitigasi dan dikelola atau tidak, yang sekarang jadi keluhan itu pembangunan pipa supply air baku ke IPA buarannya, saya jadi salah satu korban juga,” ujar Dwi.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa selain persoalan teknis, aspek sosial dari pembangunan juga menjadi isu lingkungan sosial yang disorot.

Dalam evaluasinya terhadap pengelolaan sumber daya air oleh PAM Jaya, WALHI mencatat tidak adanya perkembangan signifikan dalam menurunkan angka kebocoran jaringan distribusi.

“Soal kebocoran yang masih tinggi dan upaya mengatasi kebocoran yang tidak ada perkembangan signifikan. Cakupan layanan juga tidak ada penambahan yang signifikan,” tegas WALHI.

Saran WALHI untuk Kebijakan Air yang Berkelanjutan

Sebagai langkah strategis, WALHI menyarankan agar kebijakan konservasi air diterapkan secara wajib, khususnya di sektor perkantoran dan kawasan komersial.

Langkah ini dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan PAM Jaya.

“Mulai mewajibkan konservasi air di gedung-gedung dan komersil sehingga kewajiban supply air bersi tidak terlalu membebani fasilitas PAM Jaya,” ujar Dwi.

Selain itu, WALHI mendorong transformasi PAM Jaya dari sekadar penyedia air bersih menjadi penyedia air minum.

Hal ini tentu membutuhkan infrastruktur yang lebih baik serta jaminan kualitas air baku dari pencemaran, termasuk logam berat.

“Sudah saatnya juga PAM tidak hanya air bersih tapi juga air minum, dan ini mensyaratkan sebenarnya pemipaan yang baik dan menjaga air baku dari pencemaran logam berat,” tambah Dwi.

WALHI juga mengingatkan bahwa upaya pembangunan infrastruktur tidak boleh mengabaikan prinsip keadilan akses, perlindungan lingkungan, serta partisipasi publik dalam proses pengelolaan air.

Baca Juga:  Rumah Ahmad Sahroni di Jakarta Utara Diamuk Massa

Tanpa memperhatikan ketiga aspek tersebut, target ambisius Jakarta dalam mencapai cakupan layanan air bersih 100% akan sulit direalisasikan secara adil dan berkelanjutan.

Dengan tantangan yang masih besar, isu air bersih di Jakarta tetap menjadi bagian penting dari isu lingkungan sosial yang perlu mendapat perhatian serius.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending