Connect with us

Berita

Keracunan Massal di Bogor, 200 Siswa Terpapar Bakteri E.coli dan Salmonella

Lebih dari 200 siswa di Bogor keracunan makanan. Ditemukan bakteri E.coli dan Salmonella. Pemkot tetapkan KLB, biaya pengobatan ditanggung APBD.

Logompn

Published

on

Hasil lab makanan mbg sebabkan keracunan ratusan siswa mengandung e.coli dan salmonella
Hasil Lab Makanan MBG Sebabkan Keracunan Ratusan Siswa Mengandung E.coli dan Salmonella. Gambar: MPN Indonesia/Dimas

MPN Indonesia 13 Mei 2025 - Pemerintah Kota Bogor mengonfirmasi bahwa lebih dari 200 siswa mengalami keracunan makanan usai mengikuti kegiatan sekolah.

Hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menemukan dua jenis bakteri dalam makanan yang dikonsumsi siswa, yakni E.coli dan Salmonella.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan terhadap sisa makanan berupa nasi, telur mata sapi, tahu, dan tumis toge.

“Bakteri E.coli dan Salmonella ini didapat dari dua jenis makanan yang disajikan kepada siswa, mengakibatkan lebih dari 200 siswa terdampak,” ujar Dedie saat dikonfirmasi MPN Indonesia di Rumah Dinas Wali Kota Bogor, Selasa (13/5).

Biaya Pengobatan Ditanggung APBD

Sebagai bentuk tanggap darurat, Pemkot Bogor menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) agar seluruh biaya perawatan siswa bisa ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bogor.

“Intinya ini jadi tanggung jawab kita bersama, ke depan harus kita perbaiki dan jangan sampai terjadi lagi,” tambah Dedie.

Pemeriksaan Tambahan dan Pengetatan SOP

Meski penyebab utama keracunan sudah teridentifikasi, pemerintah masih melakukan pemeriksaan tambahan terhadap air minum dan kondisi tubuh siswa untuk memastikan tidak ada sumber kontaminasi lain.

“Untuk pemeriksaan tambahan lainnya berupa air dan pemeriksaan langsung kepada tubuh dari siswa yang harus diperiksa lebih dalam, hasilnya belum diketahui,” jelas Dedie.

Menanggapi insiden tersebut, Dedie juga menekankan pentingnya penguatan sistem keamanan makanan di sekolah.

“Kita juga meminta mungkin SOP-nya lebih diperketat lagi, dan mungkin juga pengawasan, jadi jangan kemudian dianggap sepele karena ini betul-betul menurut kami ini sesuatu yang sangat serius,” tegasnya.

Baca Juga:  Baru Satu Bulan Diresmikan, Plafon Masjid di BSD Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

Kondisi Siswa Mulai Membaik

Dedie menyampaikan bahwa jumlah siswa yang masih dirawat terus menurun, menandakan adanya perbaikan kondisi secara bertahap.

Meski demikian, pengawasan medis tetap dilakukan secara intensif untuk mencegah komplikasi.

Kasus ini menjadi peringatan penting tentang perlunya pengawasan ketat terhadap makanan di lingkungan sekolah.

Penemuan bakteri E.coli dan Salmonella menjadi bukti bahwa kualitas makanan yang buruk bisa berdampak serius.

Langkah cepat seperti penetapan KLB, pengetatan SOP, serta kesiapsiagaan seluruh rumah sakit di Kota Bogor menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani insiden ini.

(DIM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending