Connect with us

Berita

Kemenhub akan Bangun Skytrain Integrasi MRT Lebak Bulus dan LRT Harjamukti

Kemenhub akan bangun skytrain guna mengintegrasikan MRT Lebak Bulus dan LRT Harjamukti.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 15t103039.803
MRT Jakarta | Gambar: MPN Indonesia/Radhita

MPN Indonesia 15 Mei 2025 - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan membangun skytrain guna mengintegrasikan MRT Lebak Bulus dan LRT Harjamukti ke kawasan wisata dan ekonomi.

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi mengatakan rencana ini bertujuan untuk memperluas konektivitas transportasi menuju kawasan wisata dan ekonomi di sekitarnya.

Terhubung dengan Tangsel dan Bogor

Dalam rencana yang sedang difokuskan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), MRT Lebak Bulus akan terhubung langsung ke kawasan ICE BSD di Tangerang Selatan.

Sementara itu, jalur LRT dari Harjamukti akan diarahkan menuju kawasan Sentul dan destinasi wisata Taman Mekarsari di Bogor.

“Memang kami punya rencana mengenai feeder dengan menggunakan skytrain dari Mekarsari untuk feeder LRT Harjamukti,” ujar Dudy saat konferensi pers, Sabtu (10/5).

Gandeng Pihak Swasta

Kemenhub memastikan bahwa pembangunan infrastruktur skytrain ini tidak akan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan akan menggandeng pihak swasta.

Dalam upaya merealisasikan kebijakan transportasi ini, pemerintah berencana mengadakan investor gathering guna menarik minat investor yang ingin terlibat dalam proyek.

“Rencananya (pekan ini) ada investor gathering. Kita akan undang investor yang berminat untuk menggarap,” jelas Dudy.

Alasan Pilih Skytrain

Salah satu pertimbangan utama dalam pemilihan teknologi skytrain adalah efisiensi penggunaan lahan.

Dedy menilai bahwa moda transportasi ini lebih fleksibel dibandingkan sistem kereta yang dibangun di atas tanah (landed), karena tidak memerlukan pembebasan lahan yang luas dan mahal.

Dudy menyebutkan bahwa skytrain lebih memungkinkan karena tiangnya bisa dibangun di atas fasilitas umum (fasum) yang dimiliki oleh pemerintah daerah.

“Kenapa kita mendorong untuk skytrain? Karena salah satu pertimbangannya, kita gak terlalu butuh lahan, kemudian cost investasinya juga tidak semahal untuk landed,” jelas Dudy.

Baca Juga:  Mulai 1 Januari 2027, Guru PPPK Paruh Waktu akan jadi Penuh Waktu secara Otomatis Tanpa Seleksi

“Fasum-fasum yang dimiliki Pemda untuk dipakai sebagai lokasi tiang-tiang daripada skytrain ini. Kalau landed kan, kita mesti pakai rel. Itu bebasin (lahan) bukan hal yang mudah dan berbiaya mahal,” katanya.

(AKM/NID/RAD)

Trending