Connect with us

Teknologi

Benarkan AI Bisa Prediksi Perjalanan Karier hingga Gaji Orang lewat Foto?

Bayangkan jika sebuah foto profil di LinkedIn bisa memprediksi seberapa tinggi gaji pertama Anda.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 06 10t140119.715
Benarkan AI Bisa Prediksi Perjalanan Karier Orang lewat Foto? | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 10 Juni 2025 - Bayangkan jika sebuah foto profil di LinkedIn bisa memprediksi seberapa tinggi gaji pertama Anda setelah lulus kuliah, seberapa cepat Anda naik jabatan, atau bahkan di mana Anda menempuh studi MBA. Terasa seperti fiksi ilmiah, tapi riset terbaru menunjukkan itu mungkin saja.

Sebuah tim peneliti dari Yale School of Management, Wharton, dan Indiana University baru saja menyelesaikan studi besar yang mengeksplorasi kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam menilai kepribadian seseorang hanya dari foto wajah, lalu mengaitkannya dengan perjalanan karier mereka.

Teknologi ini disebut mampu mengekstrak Big Five personality traits (openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism) dari potret wajah.

AI vs Survei: Lebih Objektif, Lebih Akurat?

Selama ini, penilaian kepribadian dilakukan lewat survei yang sering kali rentan bias, apalagi saat digunakan dalam konteks rekrutmen.

“Sangat jelas bahwa Anda ingin terlihat lebih teliti,” kata Kelly Shue dari Yale SOM saat komentari bias survei kepribadian, dikutip MPN Indonesia dari insights.som, Selasa (10/6).

AI menawarkan pendekatan berbeda: tanpa perlu mengandalkan jawaban subjektif, algoritma mampu membaca sinyal-sinyal halus dari ekspresi wajah—sesuatu yang bahkan mata manusia kerap gagal deteksi secara konsisten.

Dari Foto ke Gaji dan Promosi

Penelitian AI ini menganalisis lebih dari 96.000 alumni program MBA ternama, menggunakan foto profil LinkedIn mereka untuk menilai kepribadian.

Hasilnya mencengangkan: semakin tinggi skor kepribadian yang dianggap “ideal” versi AI, semakin tinggi pula peluang seseorang diterima di sekolah bisnis bergengsi atau memperoleh gaji besar di pekerjaan pertamanya.

Baca Juga:  Amazon bakal PHK 16 Ribu Karyawan, Diduga karena AI

Contohnya, pria yang berada di kuintil teratas kepribadian yang diinginkan mendapatkan prediksi kenaikan kompensasi awal sebesar 8,4%—bahkan lebih tinggi dibandingkan kesenjangan gaji antara pria kulit hitam dan putih (3,5%) atau antara pria Asia dan kulit putih (1,9%).

Tak hanya itu, perbedaan kepribadian yang terbaca lewat wajah juga menunjukkan efek berbeda bagi pria dan wanita.

Misalnya, sifat agreeableness (ramah) positif terhadap peringkat sekolah bagi pria, tapi justru negatif bagi wanita.

Conscientiousness (teliti) meningkatkan gaji awal keduanya, namun pria cenderung mengalami pertumbuhan gaji lebih cepat, sedangkan wanita malah melambat.

Etika di Tengah Kehebatan Teknologi

Meski hasilnya mengesankan, para peneliti menegaskan bahwa ini bukan teknologi yang layak diterapkan dalam proses rekrutmen.

Seseorang bisa saja berusaha keras memperbaiki kepribadiannya, tapi jika AI hanya menilai dari wajah, usahanya tak akan terlihat.

Teknologi semacam ini juga membuka kemungkinan penyalahgunaan, seperti modifikasi wajah digital maupun prosedur kosmetik untuk “menyesuaikan” kepribadian visual.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending