Connect with us

Teknologi

Dua Peneliti Utama AI Ini Pergi dari Google, Ada Apa?

Noam Shazeer dan John Jumper resmi meninggalkan Google DeepMind dan memutuskan bergabung dengan OpenAI dan Anthropic di tengah persaingan AI global.

Logompn

Published

on

Dua Peneliti Utama Google DeepMind Hengkang, Ada Apa?
Dua Peneliti Utama Google DeepMind Hengkang, Ada Apa? Gambar: Kolase Ynetnews / Gairdner

MPN Indonesia 26 Juni 2026 - Google DeepMind kehilangan dua peneliti utama dalam waktu berdekatan pada pekan terakhir.

Noam Shazeer dan John Jumper memutuskan keluar dari unit kecerdasan buatan milik Google tersebut untuk bergabung dengan perusahaan lain.

Kepergian ini terjadi di tengah persaingan ketat antarperusahaan teknologi dalam mengembangkan kecerdasan buatan (AI), terutama saat banyak pelaku industri menilai bahwa kecerdasan buatan umum atau AGI semakin mendekati realisasi.

Perpindahan ini melibatkan Google sebagai perusahaan teknologi besar, dengan tujuan para peneliti mencari peluang baru terkait sumber daya, kepemimpinan, dan potensi pengembangan AI di tempat lain.

Kepergian Noam Shazeer dan John Jumper dari Google DeepMind

Noam Shazeer mengumumkan pekan lalu bahwa ia meninggalkan Google DeepMind untuk bergabung dengan OpenAI pada Rabu (17/6).

“Saya sangat senang mengumumkan bahwa saya akan bergabung dengan OpenAI dan menantikan untuk bekerja sama dengan tim yang luar biasa di sana,” ujar Shazeer, dikutip MPN Indonesia melalui akun X @NoamShazeer pada Jumat (26/6).

Shazeer merupakan salah satu penulis makalah penting tahun 2017 berjudul Attention Is All You Need yang memperkenalkan arsitektur transformer yang menjadi dasar perkembangan AI modern.

Google sebelumnya dilaporkan mengeluarkan lebih dari $2 miliar untuk mengakuisisi Shazeer bersama sebagian tim Character.ai miliknya, yang menunjukkan nilai strategisnya dalam pengembangan kecerdasan buatan.

Dua hari setelah pengumuman tersebut, John Jumper, juga menyatakan keluar dari Google DeepMind dan bergabung dengan Anthropic.

“Setelah hampir sembilan tahun, saya memutuskan untuk meninggalkan Google DeepMind dan bergabung dengan Anthropic,” kata Jumper dalam sebuah unggahannya, dikutip MPN Indonesia melalui akun X @JohnJumperSci.

Baca Juga:  Google Chrome Ketar-ketir! OpenAI Resmi Rilis ChatGPT Atlas

Jumper dikenal sebagai pemenang Hadiah Nobel Kimia 2024 bersama Demis Hassabis atas kontribusinya dalam pengembangan AlphaFold, sebuah AI terobosan yang telah memprediksi lebih dari 200 juta struktur protein.

Dinamika Perpindahan Talenta di Industri AI

Dinamika serupa juga terjadi di perusahaan teknologi lainnya, termasuk perpindahan Barret Zoph yang kembali meninggalkan OpenAI, serta akuisisi tim Essential AI oleh Nvidia yang mencakup peneliti Ashish Vaswani.

Gelombang perpindahan peneliti ini mencerminkan intensitas persaingan talenta di sektor kecerdasan buatan.

Perusahaan teknologi besar seperti Google, OpenAI, Anthropic, dan Nvidia terus berlomba mendapatkan individu dengan keahlian khusus dalam pengembangan AI.

Hal ini terjadi seiring meningkatnya penilaian bahwa terobosan menuju AGI semakin dekat, sehingga kebutuhan akan peneliti berpengalaman menjadi semakin krusial.

Dalam praktiknya, satu atau dua perekrutan strategis dapat memicu perekrutan lanjutan di dalam suatu perusahaan.

Sebaliknya, kepergian tokoh penting juga berpotensi mendorong gelombang pengunduran diri berikutnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai individu dalam pengembangan AI tidak hanya terletak pada kemampuan teknis, tetapi juga pada pengaruhnya terhadap ekosistem riset secara keseluruhan.

Namun demikian, tidak semua perpindahan memiliki latar belakang yang sama.

Faktor Penentu Keputusan Peneliti

Para peneliti AI tingkat atas tidak hanya membawa pengetahuan teknis yang tertuang dalam makalah atau kode, tetapi juga kemampuan dalam menentukan arah penelitian, menjalankan eksperimen skala besar, serta merekrut ilmuwan lain.

Hal ini menjadikan mereka aset penting bagi setiap perusahaan teknologi yang berfokus pada pengembangan AI.

Dalam menentukan tempat bekerja, para peneliti mempertimbangkan berbagai faktor.

Beberapa di antaranya meliputi potensi imbalan finansial, akses terhadap daya komputasi, peluang perusahaan untuk memimpin di bidang kecerdasan buatan, serta pendekatan kepemimpinan dalam penggunaan teknologi tersebut.

Baca Juga:  Meta PHK 8.000 Karyawan, Zuckerberg Singgung soal AI

Dari sisi finansial, perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI dinilai memiliki keunggulan karena potensi penawaran saham perdana (IPO) di masa depan.

Hal ini memberikan peluang keuntungan yang lebih besar dibandingkan perusahaan teknologi lain yang sudah terdaftar di bursa.

Meski demikian, faktor lain seperti persepsi terhadap kepemimpinan dan tanggung jawab penggunaan AI tetap bersifat subjektif dan dapat berbeda bagi setiap individu.

Situasi ini menunjukkan bahwa persaingan dalam industri kecerdasan buatan tidak hanya bergantung pada teknologi yang dikembangkan, tetapi juga pada kemampuan perusahaan dalam menarik dan mempertahankan talenta terbaik di bidang AI.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending