Connect with us

Internasional

Jurnalis Indonesia Ungkap Pernah Ditahan Hizbullah, Begini Kisahnya

Jurnalis Indonesia, Faisal Assegaf ceritakan pengalamannya saat ditangkap Hizbullah saat meliput di Lebanon.

Logompn

Published

on

Jurnalis indonesia ungkap pernah ditahan hizbullah, begini kisahnya
Pengakuan Jurnalis asal Indonesia yang pernah ditahan Hizbullah. Gambar: YouTube/dr. Richard Lee, MARS

MPN Indonesia 1 Juli 2025 - Jurnalis Indonesia, Faisal Assegaf, mengungkapkan bahwa dirinya pernah menjadi tahanan kelompok Hizbullah di Lebanon ketika melakukan peliputan di wilayah konflik Lebanon.

Peristiwa yang terjadi pada 23 September 2024 ini berlangsung saat Faisal sedang merekam suasana jalanan di kawasan Dahiya, Beirut Selatan, yang dikenal sebagai basis kelompok tersebut.

Kejadian ini disampaikan Faisal Assegaf dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube Richard Lee. 

Dalam percakapannya, Faisal menceritakan bahwa penangkapannya berlangsung selama 29 jam dan ia sempat diinterogasi serta diintimidasi oleh anggota Hizbullah yang menduga dirinya sebagai mata-mata Israel.

“Saya diintimidasi. Dibilang Zionis, spy segala macam. Tiga jam saya diinterogasi, termasuk yang sejam itu di kantor intelijen,” kata Faisal.

Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu anggota Hizbullah mengancam keselamatannya dengan ucapan, “You will die.”

Faisal menuturkan bahwa ia telah menghubungi pimpinan Hizbullah sebelum keberangkatannya ke Lebanon. Ia mengaku memiliki komunikasi yang baik dengan mantan juru bicara Hizbullah, Ibrahim Al-Musawi, serta kepala kantor media Hizbullah.

Namun, saat dirinya tiba di Lebanon dan merekam suasana di Dahiya, terjadi miskomunikasi antara pihak Hizbullah yang mengenalnya dengan anggota di lapangan yang tidak mengetahui kedatangannya.

“Yang nangkep saya orang lapangan. Saya kan hubungannya sama yang pejabat-pejabatnya. Jadi nggak nyambung,” ujar Faisal.

Kronologi Penangkapan Faisal Assegaf di Lebanon

Faisal Assegaf menjelaskan bahwa ia tiba di Lebanon pada 23 September tahun lalu setelah sebelumnya berkoordinasi dengan pihak Hizbullah terkait peliputan yang akan dilakukannya.

Saat berada di Dahiya, ia bermaksud membeli oleh-oleh dan sempat bertanya kepada staf lokal dari KBRI yang menemaninya tentang izin merekam.

Baca Juga:  Dihajar Rudal Hizbullah, Tel Aviv Gelap Gulita

Setelah mendapatkan izin, Faisal mulai merekam jalanan.

Namun, hanya dalam hitungan detik setelah Faisal mulai merekam, mobil yang ia tumpangi langsung diberhentikan dan dikerumuni anggota Hizbullah.

“Saya baru rekam jalanan, nggak ke kanan kiri, di detik ke-16 saya diberhentiin sama anggota Hizbullah. Akhirnya mobil dipinggirin, langsung dikerubungin, ditangkap,” jelasnya.

Proses penangkapan tersebut kemudian berlanjut dengan interogasi selama tiga jam, di mana Faisal sempat dituduh sebagai mata-mata.

Setelah satu jam berada di tangan Hizbullah, intelijen militer Lebanon datang dan mengambil alih proses interogasi. Faisal dipindahkan dan kembali diinterogasi selama satu jam oleh pihak intelijen.

“Ngisi biodata, ngapain ke sini, nama istri, nama saudara kandung, banyak lah yang ditanya,” ungkapnya.

Proses interogasi tersebut pun berujung pada penahanan Faisal di sel khusus teroris bawah tanah di Kementerian Pertahanan Lebanon.

Miskomunikasi dengan Hizbullah Berujung Penahanan

Penahanan Faisal Assegaf oleh Hizbullah dipicu oleh miskomunikasi antara pihak yang mengenalnya dengan aparat di lapangan.

Ia menyatakan bahwa meskipun ia sudah memberikan paspor dan bukti identitas kepada pihak Hizbullah sebelum kedatangannya, anggota di lapangan tidak mendapatkan informasi tersebut.

“Saya udah bilang mau ke sana. Jadi saya kirim paspor, bukti ID,” ungkap Faisal.

Kendati jadi korban salah tangkap, Faisal memahami bahwa suasana di Dahiya saat itu sangat sensitif karena wilayah tersebut menjadi target serangan Israel.

“Situasinya memang mencekam, karena Dahiya itu setiap hari dibom sama Israel,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa sejak perang Hizbullah dengan Israel pada 2006, terdapat aturan tak tertulis yang melarang aktivitas memotret atau merekam di kawasan tersebut.

Baca Juga:  Paspampres Buka Suara usai Viral Anggotanya Ditegur Wartawan London

“Saya juga baru tahu, bahwa sejak Hizbullah perang dengan Israel dari 2006, di kawasan Dahiya itu tidak boleh memotret atau merekam,” pungkasnya.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending