Connect with us

Ekonomi

Susut dan Sisa Pangan Rugikan Negara Rp551 Triliun per Tahun

Masalah susut dan sisa pangan di Indonesia sebabkan kerugian ekonomi hingga mencapai Rp551 triliun per tahun.

Logompn

Published

on

Susut dan sisa pangan rugikan negara rp551 triliun per tahun
Ilustrasi food waste | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 4 Juli 2025 - Susut dan sisa pangan (SSP) di Indonesia sebabkan kerugian ekonomi hingga mencapai nilai Rp551 triliun per tahun.

Lewat acara Talkshow dan Komitmen Bersama Sektor Bisnis di Serpong pada Kamis (3/7), Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Nita Yulianis mengungkapkan bahwa temuan ini didasarkan pada kajian yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap ketahanan pangan dan gizi masyarakat,” kata Nita dikutip MPN Indonesia lewat laman resmi NFA, Jumat (4/7).

SSP juga berkontribusi terhadap sekitar 7,29 persen emisi gas rumah kaca (GRK) nasional setiap tahunnya.

Selain berdampak pada ekonomi dan lingkungan, susut dan sisa pangan turut memengaruhi isu pangan dan gizi karena hilangnya pangan yang sebenarnya masih layak konsumsi.

Menurut Nita, pangan yang terbuang selama dua dekade terakhir berpotensi memenuhi kebutuhan pangan bagi 61 hingga 125 juta orang per tahun, yang setara dengan 29–47 persen populasi Indonesia.

Oleh karena itu, Nita berpendapat bahwa NFA menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi masalah SSP ini.

“Ini bukan sekadar isu pemborosan. SSP adalah masalah multidimensi yang memerlukan keterlibatan aktif berbagai pihak, termasuk distributor, pelaku ritel, hingga sektor logistik,” katanya.

Kolaborasi Nasional Atasi Susut dan Sisa Pangan

Masih dalam acara yang sama, Nita mengungkapkan bahwa sejumlah pelaku industri pangan menandatangani nota kesepahaman (MoU) Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan (GRASP 2030) sebagai bentuk komitmen konkret.

Langkah ini menjadi bagian dari kolaborasi nasional yang melibatkan sektor bisnis, pemerintah, asosiasi, dan masyarakat dalam mengurangi SSP.

Secara terpisah, dalam keterangan tertulis Kepala NFA, Arief Prasetyo Adi juga menegaskan beberapa hal yang penting untuk dilakukan dalam menangani masalah SSP.

Baca Juga:  Pemerintah Salurkan Bantuan Beras untuk 18,3 Juta Warga, Tiap Penerima Dapat 10 Kg Selama Dua Bulan

“Inovasi dalam distribusi, efisiensi penyimpanan, redistribusi pangan layak konsumsi, pendataan sisa pangan serta perubahan pola konsumsi adalah langkah yang perlu diambil bersama,” jelas Arief dikutip MPN Indonesia melalui laman resmi NFA, Jumat (4/7).

Arief menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen memperkuat sinergi dengan sektor swasta, mulai dari produsen, distributor, pelaku ritel, hingga hotel, restoran, dan katering (Horeka).

Ia menilai bahwa upaya bersama ini penting untuk menciptakan sistem pangan nasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“SSP bukan semata tantangan, tetapi juga peluang untuk bertindak bersama. Mari jadikan ini momentum untuk menciptakan perubahan nyata,” katanya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending