Connect with us

Berita

Sejarah Gedung DPR RI, Ternyata Desainnya Terinspirasi dari Burung Garuda

Gedung DPR RI terkenal dengan kubah hijaunya yang mirip tempurung kura-kura. Ternyata, desain ini terinspirasi dari kepakan sayap Garuda. Berikut sejarah dan fakta uniknya.

Logompn

Published

on

Sejarah gedung dpr ri, ternyata desainnya terinspirasi dari burung garuda
Gedung DPR/MPR RI. Gambar : Dok. MPR RI

MPN Indonesia 27 Agustus 2025 - Gedung DPR RI yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Senayan, Jakarta, selama ini dikenal luas masyarakat karena bentuk kubah hijaunya yang sering disangka menyerupai tempurung kura-kura.

Namun, desain asli gedung ini ternyata terinspirasi dari kepakan sayap burung garuda yang akan lepas landas.

Struktur atap gedung utama, yaitu Gedung Nusantara, sebenarnya merupakan hasil gabungan dua bagian kubah setengah lingkaran.

Dikutip MPN Indonesia dari buku Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia: Sejarah, Realita, dan Dinamika (2006), bentuk ini dimaksudkan untuk melambangkan kepakan sayap burung yang siap terbang, bukan bentuk kura-kura seperti yang selama ini diasosiasikan oleh masyarakat.

Kubah ini dirancang oleh Soejoedi Wirjoatmodjo, arsitek lulusan Technische Universität Berlin Barat, dengan konsep atap yang tidak menggunakan pilar penyangga.

Desain kubah yang dianggap inovatif ini kemudian dihitung ulang oleh Ir. Sutami untuk memastikan kekuatan strukturnya.

Proses pengecorannya bahkan melibatkan sekitar 27 ribu orang, sebagaimana diungkapkan oleh Nurpontjo, insinyur muda dalam proyek tersebut, “Ketika pengecoran atap kubah, tak kurang dari 27 ribu orang terlibat langsung siang-malam seperti armada semut.”

Sejarah dan Awal Mula Pembangunan

Gedung DPR RI dibangun berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 48 Tahun 1965 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Pembangunan ini awalnya direncanakan sebagai tempat penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO), sebuah konferensi internasional yang menjadi tandingan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Arsitektur gedung dirancang oleh Soejoedi Wirjoatmodjo dan disahkan oleh Soekarno pada 22 Februari 1965.

Baca Juga:  Rachmat Gobel Anggota DPR RI Meninggal Dunia Jumat Dini Hari

Namun, pembangunan terhambat karena peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Pembangunan baru dilanjutkan kembali berdasarkan Surat Keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 79/U/Kep/11/1966 tanggal 9 November 1966, dan fungsinya diubah menjadi gedung MPR/DPR RI.

Tiang pertama dipasang pada 19 April 1965, sementara target penyelesaian awalnya direncanakan pada 17 Agustus 1966.

Namun, proyek mangkrak hingga akhirnya selesai dan diresmikan pada 1 Februari 1983.

Kompleks Gedung dan Struktur Arsitektur

Kompleks DPR/MPR/DPD RI memiliki luas sekitar 80.000 meter persegi dan terdiri atas beberapa bangunan, antara lain:

  • Gedung Nusantara (utama): berbentuk kubah setengah lingkaran
  • Gedung Nusantara I: tinggi 100 meter, 24 lantai
  • Gedung Nusantara II
  • Gedung Nusantara III
  • Gedung Nusantara IV
  • Gedung Nusantara V
  • Gedung Bharana Graha
  • Gedung Sekretariat Jenderal MPR/DPR/DPD
  • Gedung Mekanik
  • Masjid Baiturrahman

Nama-nama gedung tersebut awalnya menggunakan bahasa Sanskerta.

Namun, pascareformasi 1998, nama-nama ini disederhanakan pada 14 Desember 1998 sebagai berikut:

  • Grahatama → Gedung Nusantara
  • Lokawirasabha Tama → Gedung Nusantara I
  • Grahanaga → Gedung Nusantara II
  • Lokawirasabha → Gedung Nusantara III
  • Pustaloka → Gedung Nusantara V
  • Samania Sasangraha → Gedung Sekretariat Jenderal DPR RI
  • Mekanik Graha → Gedung Mekanik
  • Gedung Balai Kesehatan → tidak diubah

Patung Elemen Estetik dan Desain Lanskap

Di areal kompleks DPR RI juga terdapat kolam air mancur dengan patung Elemen Estetik, dikelilingi 35 tiang bendera.

Patung ini dirancang oleh Drs. But Mochtar dari Departemen Seni Rupa ITB. Struktur patung ini terdiri dari tiga bulatan yang saling berhubungan, melambangkan keberlanjutan dan kesatuan.

Teknik pembuatannya menggunakan rangka besi berlapis sheet tembaga dan ditanam pada pondasi beton. Patung ini rampung pada tahun 1977.

Fakta Unik Struktur Bangunan

Salah satu fakta unik dari gedung DPR RI adalah proses perancangan kubahnya.

Baca Juga:  Rutin Makan Telur Disebut Bisa Kurangi Risiko Alzheimer hingga 27 Persen

Awalnya, desain atap berupa kubah murni dianggap berisiko oleh Ir. Sutami karena akan memerlukan banyak tiang penyangga.

Hal ini berpotensi mengganggu ruang sidang di lantai dasar.

Desain alternatif kemudian ditemukan secara tidak sengaja oleh Nurpontjo, yang mencoba memotong cetakan kuali kue serabi menjadi dua bagian.

Bentuk inilah yang kemudian dipilih oleh Soejoedi dan dihitung ulang oleh Sutami, karena struktur ini dinilai mirip dengan prinsip kantilever pada pesawat terbang.

Bentuk kubah ini akhirnya direalisasikan sebagai bagian utama Gedung Nusantara.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending