Connect with us

Berita

Ahli Gizi Kritik Menu MBG di DPR: Itu Rasanya Kayak Karton!

Ahli gizi Tan Shot Yen mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena menghadirkan menu burger dan spageti yang tidak mencerminkan pangan lokal Indonesia.

Logompn

Published

on

Ahli gizi kritik menu mbg di dpr itu rasanya kayak karton!
Ahli Gizi, Tan Shot Yen. Gambar: YouTube/TVR Parlemen

MPN Indonesia 26 September 2025 - Ahli gizi Tan Shot Yen mengkritik tajam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (22/9).

Ia menyoroti menu-menu MBG di berbagai daerah tidak menggambarkan nilai gizi lokal, seperti burger, spageti, dan bakmi instan.

Burger Disebut Tak Mencerminkan Program MBG

Dalam audiensi tersebut, Tan Shot Yen menilai kehadiran burger sebagai bagian dari menu MBG tidak relevan dengan konteks pangan Indonesia.

“Yang dibagi adalah burger. Di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia melalui kanal YouTube TVR Parlemen, Jumat (26/9).

Ia juga menambahkan bahwa isian burger tersebut diragukan kandungan gizinya karena menggunakan bahan olahan yang kualitasnya tidak jelas.

“Itu rasanya kayak karton, warnanya pink dan buat lucu-lucuan nih,” tambahnya.

Usulkan 80 Persen Komposisi MBG dari Pangan Lokal

Tan meminta pemerintah untuk mengalokasikan 80 persen komposisi MBG dari bahan pangan lokal.

Ia berharap setiap wilayah dapat menyajikan makanan khasnya sebagai bentuk dukungan terhadap kedaulatan pangan.

“Saya pengin anak Papua bisa makan ikan kuah asam, saya pengin anak Sulawesi bisa makan kapurung,” ujarnya.

Tan Shot Yen Akui Prihatin dengan Menu MBG Saat Ini

Tan Shot Yen menyatakan keprihatinannya terhadap menu-menu MBG yang tidak mendidik anak-anak untuk mengenal pangan lokal.

Ia menolak konsep memasukkan makanan berbasis gandum seperti burger dan spageti dalam program bantuan pemerintah tersebut.

Baca Juga:  BGN Pastikan Program MBG Tetap Berjalan Selama Libur Nataru

“Dibagi spageti, dibagi bakmi Gacoan, oh my god,” ucapnya saat RDPU berlangsung.

Ia juga menyebut bahwa di beberapa daerah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyajikan isian burger yang kualitasnya rendah.

“Saya aja nista bilang itu daging olahan, saya nggak tahu itu produk apaan,” ujar Tan.

Ia menegaskan bahwa program makan bergizi gratis seharusnya tidak mengikuti selera anak-anak yang terbiasa dengan makanan instan atau olahan.

“Ya, kalau [anak] request-nya cilok, mati kita!” tegasnya.

Dengan berbagai catatan tersebut, Tan Shot Yen mendorong adanya evaluasi menyeluruh dalam penyusunan menu MBG agar sesuai dengan kebutuhan gizi dan kearifan lokal di setiap wilayah Indonesia.

(AKM/NID/RAD)

Trending