Connect with us

Lifestyle

Dampak Buruk jadi People Pleaser dan Cara Mengatasinya!

People pleaser cenderung mengabaikan kebutuhan diri demi menyenangkan orang lain. Kenali ciri, dampak, dan cara menghentikan kebiasaan ini.

Logompn

Published

on

Dampak buruk jadi people pleaser dan cara mengatasinya!
Dampak Buruk jadi People Pleaser dan Cara Mengatasinya! Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 28 September 2025 - Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernah bertemu dengan orang yang selalu siap membantu, selalu berkata “ya” saat diminta, dan tampak sulit menolak permintaan orang lain.

Sekilas, sikap ini terlihat baik karena menunjukkan kepedulian.

Namun, ketika kebiasaan tersebut dilakukan berlebihan hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri, kondisi itu dikenal dengan istilah people pleaser.

Fenomena ini banyak terjadi tanpa disadari. Mereka yang terjebak dalam kebiasaan tersebut kerap mengorbankan waktu, energi, bahkan kesehatan demi memenuhi ekspektasi orang lain.

Alih-alih merasa bahagia, perilaku ini justru dapat membawa dampak negatif, terutama bagi kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.

Apa Itu People Pleaser?

People pleaser adalah istilah untuk menggambarkan individu yang terdorong untuk selalu menyenangkan orang lain, meski harus mengabaikan dirinya sendiri.

Perilaku ini lebih dari sekadar sikap ramah atau suka menolong.

People pleaser biasanya merasa takut ditolak, tidak ingin menimbulkan konflik, dan menggantungkan kebahagiaannya pada penerimaan orang sekitar.

Meskipun bukan termasuk gangguan medis, kebiasaan ini dapat memicu berbagai masalah psikologis jika dibiarkan terus-menerus.

Ciri-Ciri People Pleaser

Seseorang dapat disebut people pleaser jika kerap menunjukkan tanda-tanda berikut.

Mereka cenderung selalu mengatakan “ya” meski sebenarnya tidak mampu, merasa bersalah ketika menolak, serta lebih memilih mengalah untuk menghindari konflik.

Selain itu, mereka sulit menyampaikan pendapat berbeda, sering meminta maaf meski bukan kesalahannya, mengabaikan kebutuhan pribadi demi orang lain, dan menggantungkan kebahagiaan pada pujian atau penerimaan dari lingkungan sekitar.

Baca Juga:  Sering Overthinking Sebelum Tidur? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi People Pleaser?

Tidak ada penyebab tunggal yang membuat seseorang menjadi people pleaser.

Beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain rasa tidak percaya diri, trauma masa kecil seperti pelecehan atau penelantaran, serta tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis.

Pengalaman hidup tertentu juga dapat membentuk kebiasaan untuk selalu menuruti orang lain demi menghindari penolakan.

Dampak People Pleaser terhadap Kesehatan Mental

Kebiasaan menyenangkan orang lain secara berlebihan justru dapat merugikan diri sendiri. Dampak yang umum terjadi antara lain:

  • Stres dan kecemasan: Terlalu banyak mengambil tanggung jawab membuat seseorang merasa terbebani, terutama ketika permintaan yang datang saling bertentangan.
  • Kehilangan jati diri: Mengabaikan kebutuhan pribadi bisa membuat seseorang bingung akan apa yang benar-benar diinginkan, hingga merasa hampa dan tidak puas.
  • Rasa marah dan frustrasi tertahan: Saat merasa dimanfaatkan namun tidak mampu berkata “tidak”, emosi yang terpendam sering muncul dalam bentuk pasif-agresif, seperti sarkasme atau sinisme.
  • Penurunan kesejahteraan fisik dan mental: Energi yang habis untuk orang lain dapat membuat seseorang mengabaikan perawatan diri, sehingga berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup.

Perbedaan dengan Sifat Suka Menolong

Membantu orang lain adalah hal yang baik jika dilakukan atas dasar empati dan kesadaran diri.

Namun people pleaser melakukannya bukan karena keinginan tulus, melainkan karena dorongan untuk diterima atau rasa takut menolak.

Cara Menghentikan Kebiasaan Menjadi People Pleaser

Beberapa langkah yang dapat membantu menghentikan kebiasaan ini antara lain menentukan batasan pribadi, melatih diri untuk mengatakan “tidak”, serta mengenali prioritas sebelum menyetujui permintaan orang lain.

Selain itu, penting untuk menjaga waktu pribadi, berhenti meminta maaf secara berlebihan, dan melepaskan kebutuhan untuk selalu diterima.

Baca Juga:  Kapal KM Barcelona V Terbakar, Psikolog Beberkan Dampak Mental Penyintas

Jika sudah berusaha namun tetap sulit mengubah kebiasaan, berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog dapat menjadi solusi untuk mendapatkan bimbingan lebih lanjut.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending