Viral
Cerita Korban Selamat dari Ambruknya Ponpes Al Khoziny, Tetap Salat di Bawah Reruntuhan
Saat dijenguk Gubernur Jawa Timur, Khofifah, para santri yang selamat menceritakan kisah mereka saat harus bertahan hidup di bawah reruntuhan.
Jawa Timur, MPN Indonesia 5 Oktober 2025 - Tragedi ambruknya bangunan pondok pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur meninggalkan kisah haru dari para santri yang selamat.
Saat dijenguk Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa pada Kamis (2/10), para santri yang selamat dan tengah menjalani perawatan menceritakan kisah mereka saat harus bertahan hidup di bawah reruntuhan.
Tetap Salat di Tengah Reruntuhan
Salah satu kisah paling menyentuh datang dari Syailendra Haikal (13), yang tetap menunaikan salat di bawah reruntuhan selama dua hari tertimbun bangunan.
Dalam kondisi tubuh terjepit beton dan tak mampu bergerak, Haikal menjalankan ibadah dengan gerakan mata sebagaimana diajarkan oleh orang tuanya.
Haikal tertimbun sejak musala ponpes ambruk pada Senin (29/9) sore dan baru berhasil dievakuasi pada Rabu (1/10) sore.
Dalam keterangannya kepada tim penyelamat, Haikal mengingat momen ketika ia masih bisa mendengar suara seseorang mengimami salat Isya. Namun, ketika waktu Subuh tiba, sahutan temannya tak lagi terdengar.
“Ayo salat, ayo salat,” ucap Haikal kala itu dari bawah puing-puing.
Ia baru menyadari temannya telah meninggal dunia di sebelahnya saat tidak lagi mendengar suara balasan.
Kisah Haikal menjadi sorotan setelah rekaman suaranya viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia terdengar berbicara kepada petugas yang menanyakan kondisinya.
“Semuanya sakit,” ujar Haikal dari balik reruntuhan pada Selasa (30/9) malam.
Santri asal Probolinggo ini kemudian berhasil dikeluarkan dan langsung dirawat di RSUD Notopuro Sidoarjo.
Tak Sadar Ponpes Ambruk
Selain Haikal, kisah penyelamatan juga dialami oleh Al Fatih Cakra Buana (14). Ia berhasil dievakuasi tidak lama setelah Haikal pada hari ketiga pasca-runtuhnya bangunan.
Selama tiga hari di bawah reruntuhan, Al Fatih sempat mengira dirinya hanya tertidur dan bermimpi.
“Ternyata selama tiga hari tertidur. Ketika dievakuasi baru sadar ada gedung yang ambruk,” kata Khofifah saat mengunjungi para korban.
Dalam pengakuannya, Fatih menceritakan sempat bermimpi berjalan di tempat gelap dan minum air menggunakan selang. Khofifah juga menceritakan bahwa Fatih langsung meminta es begitu berhasil dievakuasi.
“Ketika dievakuasi, Al Fatih bahkan langsung meminta minum es,” tuturnya.
Fatih selamat karena tertutup tumpukan pasir dengan kepala terlindung lembaran seng. Setelah dievakuasi, ia langsung dilarikan ke RSUD Notopuro Sidoarjo untuk mendapatkan perawatan medis.
Selamat Meski Harus Diamputasi
Korban lain, Nur Ahmad, berhasil diselamatkan lebih awal pada Selasa (30/9) dini hari. Namun, demi menyelamatkan nyawanya, petugas medis harus melakukan amputasi di lokasi.
Direktur Utama RSUD Notopuro, Atok Irawan menjelaskan tindakan itu diambil karena kondisi lengan korban sudah mengalami nekrosis akibat tertimbun material bangunan.
“Karena situasinya sempit, ini sebenarnya juga membahayakan untuk tenaga kesehatan kami,” ujarnya (3/10).
Salah satu tenaga medis yang terlibat, Aaron Franklyn Suaduon Simatupang, mengaku situasi saat itu sangat berisiko karena bangunan sewaktu-waktu bisa runtuh kembali.
“Pikiran saya, saya udah siap mati sama pasien kalau bangunan itu runtuh. Karena itu sangat berbahaya, salah gerak sedikit ambruk,” ujar Aaron.
Meski begitu, proses amputasi tetap berlangsung hingga pukul 01.30 WIB sebelum Ahmad berhasil dikeluarkan dan dibawa ke ICU.
Korban selamat terakhir yang berhasil dievakuasi hidup-hidup adalah Syaiful Rosi Abdillah (13) asal Bangkalan.
Ia diselamatkan pada Kamis (2/10) malam dengan kondisi kaki kanan remuk akibat tertimpa beton selama tiga hari. Petugas medis juga terpaksa melakukan amputasi untuk menyelamatkan nyawanya.
“Nggak lama nambah ada yang jatuh lagi. Beton semua, nggak bisa dorong. Kami minta tolong bareng-bareng, tapi nggak kedengaran,” ujar Rosi dari ruang perawatan RSUD Sidoarjo.
Selama terjebak di bawah reruntuhan, Rosi bertahan hidup tanpa makanan dan minuman sambil terus membaca selawat dan istighfar.
Ia mengaku sempat bersama enam orang temannya saat bangunan mulai roboh. Namun, beberapa di antaranya tidak selamat akibat tertimpa puing-puing yang berat.
Data Korban Runtuhnya Ponpes Al Khoziny
Berdasarkan data sementara per Sabtu (5/10), total korban dalam peristiwa di daerah ini mencapai 167 orang. Dari jumlah tersebut 118 telah ditemukan dengan 103 orang dinyatakan selamat, sementara 14 orang meninggal dunia.
Sementara itu, pihak BNPB menyatakan satu santri berhasil selamat dan kembali ke rumah tanpa harus dapat penanganan medis lanjutan.
Proses evakuasi hingga kini masih dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan melibatkan alat berat usai tak lagi menemukan tanda kehidupan di bawah reruntuhan.
Berdasarkan data absensi yang dirilis pihak Ponpes, masih ada sekitar 49 santri yang belum ditemukan di bawah reruntuhan.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
