Connect with us

Berita

Gubernur Aceh Khawatir, Warga di Daerah Terisolir Berpotensi Meninggal Kelaparan

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan kekhawatiran serius terhadap warga di daerah terisolir pascabencana banjir bandang dan longsor. Terhambatnya akses darat membuat distribusi bantuan sulit, sementara sejumlah kampung dilaporkan hilang tersapu banjir.

Logompn

Published

on

Gubernur aceh khawatir, warga di daerah terisolir berpotensi meninggal kelaparan
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Gambar : Instagram/@muzakirmanaf1964

Aceh, MPN Indonesia 8 Desember 2025 - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang disapa Mualem menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi warga yang terisolir akibat banjir bandang dan longsor di Aceh.

Ia memperingatkan bahwa warga di lokasi yang belum terjangkau bantuan berpotensi meninggal dunia bukan karena bencana alam secara langsung, tetapi karena kelaparan.

“Kondisi pengungsi sangat membimbangkan, mereka mati bukan karena banjir, tapi mati karena kelaparan, itu saja,” ujar Mualem kepada wartawan di Aceh pada Sabtu (6/12).

Daerah Terisolir dan Kendala Akses Bantuan

Sejumlah wilayah terdampak parah meliputi Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen.

Menurut Mualem, daerah-daerah ini sulit dijangkau lewat jalur darat karena akses yang rusak, sehingga distribusi bantuan sangat terhambat.

“Masyarakat sangat membutuhkan sembako terutama di pedalaman belum terjamah,” tambahnya.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, juga menegaskan risiko yang dihadapi warga jika akses tidak segera dibuka.

“Maksudnya, apabila terlambat tembuskan akses darat, berpotensi korban bisa (meninggal) kelaparan,” jelas MTA dalam keterangannya pada Sabtu (6/12).

Ia menyampaikan bahwa pemerintah telah mengerahkan alat berat dan tim gabungan untuk membuka jalur menuju wilayah yang sebelumnya terisolir, terutama Aceh Tamiang.

Aceh Tamiang Jadi Wilayah Terparah

Aceh Tamiang menjadi daerah dengan kerusakan paling ekstrem.

“Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah sampai jalan sampai ke laut habis semuanya. Yang paling terpuruk adalah Aceh Tamiang,” kata Mualem.

Sebelumnya wilayah ini tidak dapat diakses melalui jalur darat dan pengiriman logistik hanya dapat dilakukan melalui udara menggunakan pesawat Hercules dan helikopter.

Baca Juga:  Banjir dan Longsor Terjang Trenggalek, Dua Jembatan Putus

Kini, akses darat ke Aceh Tamiang sudah terbuka dan bantuan mulai tersalurkan hingga ke pedalaman.

Selain Aceh Tamiang, daerah lain seperti Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen juga mengalami dampak signifikan akibat banjir bandang dan longsor.

Gubernur Muzakir Manaf meminta agar distribusi bantuan sembako ke seluruh daerah terdampak ditingkatkan. Ia menekankan bahwa bantuan tidak boleh menumpuk di satu titik.

“Segera pastikan semua berjalan. Sembako banyak tertumpuk karena (kendala) akses. Percepat distribusi,” ungkapnya dalam pernyataan tertulis, Jumat (5/12).

Ia juga mengimbau para kepala desa dan pihak terkait agar lebih proaktif memastikan bantuan tersalurkan dengan baik.

Pada beberapa wilayah pedalaman, pengiriman bantuan masih harus dilakukan menggunakan perahu karet karena tidak adanya akses jalan.

Kampung Hilang Tersapu Banjir

Gubernur turut melaporkan bahwa sejumlah kampung di beberapa daerah telah hilang tersapu banjir. Ia menyebut banyak desa dan kecamatan kini “tinggal nama”.

“Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka sudah banyak korban,” tutur Mualem.

Dalam kunjungannya ke wilayah timur dan tengah Aceh, Mualem membandingkan dampak bencana saat ini dengan peristiwa tsunami 21 tahun lalu.

“Saya pribadi melihat banjir dan longsor ini adalah tsunami kedua,” pungkasnya.

Selain infrastruktur, banyak rumah warga dilaporkan hancur atau hilang terbawa arus, sementara fasilitas umum juga mengalami kerusakan berat.

Pemerintah terus berupaya memastikan logistik dapat menjangkau seluruh titik terdampak.

(AKM/NID/RAD)

Trending