Connect with us

Politik

Satryo Soemantri Brodjonegoro Ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan Tinggi di Kabinet Merah Putih

Satryo Soemantri Brodjonegoro resmi dilantik sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam Kabinet Merah Putih.

Arthur

Published

on

Satryo Soemantri Brodjonegoro Ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan Tinggi di Kabinet Merah Putih
Satryo Soemantri Brodjonegoro Ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan Tinggi di Kabinet Merah Putih. Gambar : Dok. Rizq Azzahra/pojoksatu.id

MPN Indonesia 21 Oktober 2024 - Satryo Soemantri Brodjonegoro resmi ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam Kabinet Merah Putih.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Minggu malam (20/10) di Istana Negara, Jakarta.

Satryo akan memimpin kementerian baru yang fokus pada pengembangan pendidikan tinggi dan riset di Indonesia, dengan wakil menteri Stella Christie mendampinginya.

Penunjukan Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, atau Mendikti, tidak terlepas dari pengalaman dan jam terbangnya di dunia akademik serta riset.

Sebelum resmi ditunjuk, Satryo beberapa kali diminta oleh Presiden Prabowo untuk memberikan pandangannya terkait isu-isu yang dihadapi dunia sains dan pendidikan tinggi di Indonesia.

Dalam diskusi yang berlangsung, Satryo mengemukakan berbagai tantangan, seperti hambatan dalam riset serta kurangnya dukungan anggaran dari pemerintah dan parlemen.

Pengalaman Satryo Soemantri Brodjonegoro di Dunia Akademik

Satryo Soemantri Brodjonegoro memiliki latar belakang akademik yang kuat, membuatnya dianggap sebagai tokoh tepat untuk mengelola riset dan pendidikan tinggi di Indonesia.

Sebelum menjabat sebagai Mendikti di Kabinet Merah Putih, Satryo telah memegang berbagai posisi penting di dunia akademik dan penelitian.

Ia adalah mantan Dekan Fakultas Teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB), Guru Besar Teknik Mesin, dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Satryo juga pernah menjabat sebagai Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, lembaga yang berfokus pada pengembangan sains dan teknologi di tanah air.

Dalam wawancara, Satryo menekankan pentingnya memilih sosok yang memiliki keberanian serta kemampuan membuat terobosan dalam pendidikan tinggi dan riset.

Baca Juga:  Nasaruddin Umar: Tokoh Agama yang Dipercaya Memimpin Kementerian Agama

Menurutnya, pejabat di bidang ini haruslah dihormati oleh komunitas akademik dan ilmuwan, serta memiliki integritas yang kuat untuk menjalankan visi presiden terkait pengembangan riset nasional.

Latar Belakang Keluarga yang Berpengaruh dalam Pendidikan

Satryo Soemantri Brodjonegoro berasal dari keluarga dengan kontribusi besar di bidang pendidikan.

Ayahnya, Soemantri Brodjonegoro, adalah salah satu penerima beasiswa teknik pertama dari Indonesia yang belajar di luar negeri pascakemerdekaan.

Jejak pendidik keluarga Brodjonegoro tidak berhenti di situ. Kedua saudara Satryo, Irsan Soemantri dan Bambang Brodjonegoro, juga memiliki karier akademik cemerlang.

Irsan mengajar di ITB, sementara Bambang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menteri Riset, dan Menteri Perencanaan/Kepala Bappenas.

Satryo sendiri lahir di Delft, Belanda, pada 5 Januari 1956. Ia meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang teknik mesin dari University of California, Berkeley, pada 1985.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Satryo mengabdikan diri di ITB sebagai Ketua Jurusan Teknik Mesin, memulai reformasi pendidikan tinggi untuk meningkatkan kualitas lulusan agar mampu bersaing di pasar global.

Kontribusinya di bidang pendidikan tinggi kemudian diperluas saat ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi di Kementerian Pendidikan Nasional.

Fokus Satryo pada Riset Dasar dan Tantangan Anggaran

Sebagai Mendikti yang baru, Satryo Soemantri Brodjonegoro memiliki visi untuk mendorong pengembangan riset dasar di Indonesia.

Dalam diskusinya dengan Presiden Prabowo, ia menekankan pentingnya riset dasar untuk mendukung jenis riset lainnya agar lebih maju.

Namun, Satryo mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar dunia riset di Indonesia adalah kurangnya alokasi anggaran.

Riset sering kali dianggap sebagai beban APBN, dan dukungan dari DPR serta Menteri Keuangan tidak selalu optimal karena riset tidak memberikan kontribusi langsung pada pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.

Baca Juga:  Prabowo Akui Hasan Nasbi Keliru soal Teror Kepala Babi: Tim Saya Orang Baru di Pemerintahan

Satryo menilai ekosistem riset di Indonesia perlu diperkuat, baik dari segi pendanaan maupun regulasi.

Diperlukan sosok yang dipercaya oleh presiden untuk mengambil keputusan terkait alokasi anggaran riset, termasuk memberikan diskresi kepada Menteri Keuangan agar dana memadai dapat disediakan.

Satryo menyebutkan bahwa riset dasar, yang hasilnya mungkin baru terlihat dalam lebih dari satu dekade, sering kali mendapatkan alokasi anggaran yang sangat terbatas.

Oleh karena itu, ia berharap presiden dapat memberikan perintah langsung kepada Menteri Keuangan untuk menyediakan dana khusus bagi riset dasar dan memastikan mekanisme pendanaannya berjalan lancar.

Trending