Connect with us

Lifestyle

Sering Drama? Ini Ciri-Ciri Orang yang Belum Dewasa Secara Emosional

Kedewasaan emosional tak ditentukan usia. Kenali ciri orang yang belum dewasa secara emosional dan dampaknya pada hubungan serta kesehatan mental.

Logompn

Published

on

Sering drama ini ciri ciri orang yang belum dewasa secara emosional
Ilustrasi Kedewasaan Emosional. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 13 Januari 2026 - Kedewasaan emosional tidak selalu sejalan dengan usia. Seseorang yang terlihat dewasa secara fisik belum tentu mampu mengelola emosi, bertanggung jawab, dan berempati dengan baik.

Ketidakdewasaan emosional penting dikenali karena dapat memengaruhi hubungan interpersonal dan kesehatan mental.

Beberapa perilaku sehari-hari bisa menjadi tanda bahwa seseorang belum matang secara emosional, mulai dari menghindari masalah hingga kesulitan berkomitmen.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., kondisi ini kerap berkaitan dengan pengalaman masa kecil.

“Misalnya, kurang mendapatkan dukungan dari orang tua saat kecil, anak merasa tidak pernah divalidasi atau diterima, atau ketika kecil selalu disalahkan. Akhirnya, ini menjadi suatu masalah emosional dan terbentuk saat dewasa,” ujar Ikhsan dalam keterangannya, dikutip MPN Indonesia dari KlikDokter, Selasa (13/1).

Gejala ketidakdewasaan emosional umumnya terlihat dari pola perilaku defensif, sulit menghadapi konflik, hingga ketidakstabilan dalam menjalin relasi sosial.

Tidak Bertanggung Jawab

Orang yang belum dewasa secara emosional cenderung sulit mengakui kesalahan.

Mereka lebih sering menyalahkan keadaan atau orang lain daripada bertanggung jawab atas tindakannya. Permintaan maaf pun kerap dihindari karena merasa tidak bersalah.

Kurang Empati terhadap Orang Lain

Kurangnya empati menjadi tanda yang cukup jelas. Individu seperti ini sulit memahami perasaan orang lain dan tidak menyadari dampak ucapan maupun tindakannya.

Mereka juga enggan mendengarkan tanpa menghakimi.

Tidak Jujur pada Diri Sendiri

Ketidakdewasaan emosional juga terlihat dari ketidaksesuaian antara perasaan dan ucapan.

Baca Juga:  Dampak Cancel Culture: Ketakutan, Stres, hingga Kehilangan Produktivitas

Mereka kerap menutupi emosi sebenarnya, mencari pembenaran atas kesalahan, serta menetapkan standar diri yang terlalu tinggi hingga memicu tekanan emosional.

Mudah Menyimpan Dendam

Ketidakmampuan melepaskan kesalahan orang lain membuat mereka sering mengungkit masalah lama.

Kondisi ini biasanya dipicu oleh kesulitan mengekspresikan perasaan secara terbuka.

Menurut Mayo Clinic, kebiasaan menyimpan dendam dapat meningkatkan risiko kecemasan dan mengganggu hubungan sosial.

Menghindari Masalah

Alih-alih menyelesaikan konflik, individu yang belum dewasa secara emosional cenderung menghindar.

“Orang yang belum dewasa secara emosional biasanya akan menghindari masalah dan tidak menyelesaikannya,” jelas Ikhsan.

Mereka sering menunda pembicaraan penting dengan alasan belum siap secara emosional.

Bersikap Defensif saat Dikritik

Saat menerima kritik, respons yang muncul biasanya berupa penolakan atau pembelaan diri berlebihan.

Mereka sulit melihat kesalahan pribadi dan justru menyalahkan orang lain, sehingga masukan konstruktif kerap dianggap sebagai serangan.

Bersifat Self-Centered

Sikap terlalu berpusat pada diri sendiri membuat mereka sulit menerima sudut pandang berbeda. Kritik sering ditanggapi secara personal, bukan sebagai upaya perbaikan.

Sering Mengucapkan Kata-Kata Menyakitkan

Kontrol emosi yang buruk membuat mereka mudah terpancing amarah dan berbicara secara impulsif.

“Pasangan yang belum dewasa secara emosional biasanya sulit untuk mengendalikan diri dan mudah terpancing amarah,” ungkap Ikhsan.

Akibatnya, perkataan yang dilontarkan sering melukai orang lain.

Mengambil Keputusan Secara Sepihak

Dalam konteks hubungan atau kelompok, mereka cenderung mengabaikan pendapat orang lain.

Musyawarah dianggap tidak penting, sementara kritik dipersepsikan sebagai ancaman.

Sulit Mengelola Ketakutan dan Kecemasan

Ketika menghadapi tekanan emosional, mereka lebih memilih menghindar daripada memahami perasaan tersebut.

Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran diri, yang merupakan bagian penting dari kedewasaan emosional.

Baca Juga:  Sering Overthinking Sebelum Tidur? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Cenderung Mengontrol Orang Lain

Keinginan untuk mengetahui setiap aktivitas orang di sekitarnya mencerminkan sikap mengontrol.

Jika tidak mendapatkan informasi, mereka bisa marah atau memicu konflik akibat kurangnya rasa percaya.

Takut Berkomitmen

Ketika diajak membicarakan masa depan, individu yang belum dewasa secara emosional sering menghindar.

Komitmen dianggap sebagai beban dan ancaman terhadap kebebasan, terutama dalam hubungan romantis, termasuk saat diminta bertemu keluarga pasangan.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending