Connect with us

Berita

BMKG Ungkap Kondisi Cuaca saat Pesawat ATR Jatuh: Awan Cumulonimbus Tebal

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan kondisi cuaca saat pesawat turboprop ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) mengalami kecelakaan.

Logompn

Published

on

Bmkg ungkap kondisi cuaca saat pesawat atr jatuh awan cumulonimbus tebal
Rapat Kerja BMKG bersama Komisi V DPR RI, Selasa (20/1) | Gambar: Dok. Humas BMKG

MPN Indonesia 21 Januari 2026 - Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan kondisi cuaca saat pesawat turboprop ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) mengalami kecelakaan.

Diketahui, pesawat itu jatuh di kawasan pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1).

Pesawat ATR tersebut sedang dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, saat kontak terakhir terjadi.

Berdasarkan laporan METAR (Meteorological Aerodrome Report) pada pukul 12.30 WITA, cuaca di area bandara menunjukkan angin dari arah barat dengan kecepatan 13 knot, jarak pandang 9 km, suhu udara 31°C, dan tekanan udara 1.007 mb.

“Cuaca di sekitar bandara berupa hujan sesaat di area bandara dengan awan cumulonimbus 1–2 oktas pada ketinggian 1.700 kaki, serta awan 3–4 oktas yang lebih tebal pada ketinggian sekitar 1.800 kaki,” ujar Faisal dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1).

Ada Awan Cumulonimbus

Meskipun kondisi cuaca di bandara dinyatakan relatif aman untuk proses pendaratan, Faisal menegaskan bahwa keberadaan awan cumulonimbus (CB) yang cukup tebal pada jalur pendekatan menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Citra satelit Himawari IR Enhanced pada 17 Januari 2026 pukul 11.00–13.30 WITA menunjukkan suhu puncak awan di lokasi kejadian berkisar antara -48°C hingga 21°C, yang menandakan adanya awan tinggi dan tebal (dense cloud).

“Jadi yang perlu diwaspadai adalah bandaranya relatif aman dengan jarak pandang yang cukup, tetapi untuk area menuju ke pendaratan ini yang perlu diwaspadai akan adanya awan CB di ketinggian 1.700–1.800 kaki yang kami sampaikan tadi cukup tinggi dan tebal,” kata Faisal.

Baca Juga:  Pemkot Tangsel Langsung Tambal Jalan Berlubang yang Sempat Diperbaiki Surya Insomnia

Pesawat Lewati Cumulonimbus

Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, mempertanyakan penjelasan BMKG mengenai faktor awan cumulonimbus di sekitar bandara yang terletak di wilayah datar dan dekat laut.

“Setahu saya bandara ini kan di tepi laut, Pak, dan di tanah yang datar. Kita masuk (arahnya) dari laut, persawahan kan Bandara Hasanuddin di situ,” ucap Lasarus.

“Nah, ini banyak jadi pertanyaan kita orang awam ini, itu kan CB-nya ketinggian di 1.700–1.800 kaki harusnya kan dengan posisi itu di tepi laut dan daerah rendah harusnya pesawat dengan jarak 9 kilometer itu menurut saya visual 9 kilometer itu aman,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Faisal menjelaskan bahwa pesawat berada pada ketinggian jelajah 6.500 kaki sebelum turun untuk mendarat.

Saat memasuki fase pendekatan, pesawat harus melewati lapisan awan cumulonimbus di ketinggian 1.700–1.800 kaki.

“Begitu dia turun ke bandara, yang METAR tadi kami sebutkan itu kondisi di bandaranya, Pak. Jadi bandaranya visibility-nya baik ya, tidak ada gangguan signifikan sehingga bisa untuk pendaratan, tapi approach-nya nanti yang akan memengaruhi,” jelas Faisal.

(AKM/NID/RAD)

Trending