Connect with us

Internasional

China Eksekusi Mati Gembong Sindikat Scam Myanmar

China mengeksekusi mati 15 gembong sindikat penipuan berbasis Myanmar dalam dua putusan terpisah di Wenzhou dan Shenzhen.

Logompn

Published

on

China Eksekusi Mati Gembong Sindikat Scam Myanmar
China Eksekusi Mati Gembong Sindikat Scam Myanmar. Gambar: X/@amanz

MPN Indonesia 3 Februari 2026 - Sistem peradilan China mengeksekusi mati total 15 terpidana yang dinyatakan sebagai gembong sindikat penipuan berbasis Myanmar dalam dua putusan terpisah yang diumumkan pada akhir Januari hingga awal Februari 2026.

Eksekusi dilakukan oleh pengadilan di Wenzhou, China Timur, dan Shenzhen, China Selatan, sebagai bagian dari penindakan terhadap kejahatan penipuan daring lintas negara yang beroperasi dari wilayah perbatasan Myanmar.

Kasus ini menjadi salah satu peristiwa luar negeri yang menyita perhatian karena melibatkan kejahatan terorganisir, korban warga negara China, serta kerja sama lintas yurisdiksi.

Pada Kamis (29/1), Pengadilan Menengah Rakyat Wenzhou mengeksekusi mati 11 orang yang diidentifikasi sebagai anggota inti kelompok kriminal keluarga Ming, sindikat yang sebelumnya menguasai wilayah Kokang di timur laut Myanmar.

Eksekusi dilakukan setelah Mahkamah Agung Rakyat di Beijing memberikan persetujuan final atas vonis mati tersebut.

Para terpidana dinyatakan bersalah atas sejumlah kejahatan berat, termasuk pembunuhan, penganiayaan, penahanan ilegal, penipuan, dan pendirian kasino ilegal.

Beberapa hari kemudian, Senin (2/2), Pengadilan Rakyat Menengah Shenzhen mengumumkan eksekusi mati terhadap empat terpidana lain yang terkait dengan kelompok kriminal keluarga Bai.

Keempatnya dinyatakan bertanggung jawab atas pengelolaan pusat-pusat scam di Kokang, Myanmar utara, yang mengakibatkan kematian enam warga negara China serta melukai sejumlah korban lainnya.

Eksekusi ini merupakan pelaksanaan hukuman mati kedua dalam kurun waktu kurang dari sepekan.

Rangkaian Kasus dan Proses Hukum di China

Dikutip MPN Indonesia dari abc.net.au, dalam kasus keluarga Ming, kantor berita negara Xinhua, melaporkan bahwa para terpidana dijerat dakwaan berlapis.

Baca Juga:  Warung Nasi Padang Legendaris di Singapura Berhenti Beroperasi, Menteri Turun Tangan

Kejahatan yang dilakukan tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga melibatkan kekerasan fisik, termasuk pembunuhan sengaja, penganiayaan sengaja, penahanan ilegal, penipuan, dan pendirian kasino.

Mahkamah Agung Rakyat di Beijing menyatakan bahwa bukti kejahatan yang dilakukan sejak 2015 dinilai konklusif dan memadai untuk menjatuhkan hukuman maksimal.

Pengadilan Menengah Rakyat Wenzhou menyebut aktivitas sindikat keluarga Ming berkontribusi pada kematian 14 warga negara China dan menyebabkan cedera pada banyak korban lainnya.

Berdasarkan pemantauan dari Associated Press, mereka yang dieksekusi termasuk Ming Guoping dan Ming Zhenzhen sebagai anggota keluarga inti, serta Zhou Weichang, Wu Hongming, dan Luao Jianzhang yang disebut sebagai tokoh kunci dalam jaringan tersebut.

Vonis mati dijatuhkan pada September, sementara upaya banding ditolak pada November, sebelum eksekusi diumumkan secara resmi pada akhir Januari.

Penangkapan anggota keluarga Ming berkaitan dengan perkembangan situasi di wilayah perbatasan.

Mereka diserahkan kepada otoritas China pada 2023, bertepatan dengan hilangnya kendali junta militer Myanmar atas wilayah Kokang yang kemudian dikuasai Myanmar National Democratic Alliance Army.

Xinhua melaporkan bahwa kerabat dekat para terpidana diizinkan bertemu sebelum eksekusi sebagai bagian dari prosedur yang berlaku di China.

Eksekusi terhadap Kelompok Kriminal Keluarga Bai

Sementara itu, Pengadilan Rakyat Menengah Shenzhen menyatakan bahwa empat terpidana dari keluarga Bai telah dijatuhi hukuman mati pada November tahun lalu.

Kejahatan yang didakwakan mencakup penipuan, pembunuhan berencana, penganiayaan berencana, penculikan, pemerasan, dan prostitusi paksa.

Salah satu terpidana, Bai Yingcang, disebut turut berkolusi dalam penjualan dan produksi sekitar 11 ton metamfetamin.

Kelompok keluarga Bai diketahui mengelola sejumlah pusat penipuan dan kasino ilegal di Kokang, Myanmar bagian utara.

Menurut pengadilan, operasi mereka menyebabkan kerugian korban lebih dari 29 miliar yuan atau sekitar US$4,2 miliar, menewaskan enam warga negara China, serta melukai sejumlah korban lainnya.

Baca Juga:  Gunung Sampah di Filipina Longsor, 1 Orang Tewas-38 Hilang

Dari lima orang yang dijatuhi hukuman mati, satu terpidana bernama Bai Suocheng meninggal dunia karena sakit setelah vonis dijatuhkan dan sebelum eksekusi dilaksanakan.

Pengadilan Shenzhen menyebut kejahatan tersebut sebagai tindakan dengan konsekuensi serius yang menimbulkan ancaman bagi masyarakat.

Upaya banding yang diajukan para terdakwa ditolak oleh Pengadilan Tinggi Rakyat Provinsi Guangdong, sehingga putusan mati dapat dieksekusi.

Latar Belakang Operasi Penipuan di Asia Tenggara

Kasus-kasus ini mencerminkan skala jaringan penipuan dan perjudian ilegal di Asia Tenggara, khususnya di Myanmar, Kamboja, dan Laos.

Kompleks penipuan kerap memanfaatkan modus hubungan asmara palsu dan investasi mata uang kripto, dengan target awal penutur bahasa Mandarin sebelum meluas ke berbagai bahasa lain.

Operasi tersebut melibatkan ribuan pekerja asing, baik yang bekerja secara sukarela maupun korban perdagangan manusia.

Dalam konteks penindakan regional, Kementerian Keamanan Publik China mencatat bahwa pada tahun lalu lebih dari 7.600 warga negara China yang diduga terlibat judi online dan penipuan telekomunikasi dipulangkan dari Myawaddy.

Beijing juga meningkatkan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara untuk membongkar pusat-pusat scam lintas negara, menjadikan rangkaian eksekusi ini sebagai bagian dari respons hukum China terhadap kejahatan terorganisir internasional dan salah satu peristiwa luar negeri yang melibatkan China dan Myanmar.

(ADN/NID/RAD)

Trending