Connect with us

Berita

Deforestasi Besar-besaran, Indonesia jadi Negara Ke-2 yang Kehilangan 10,5 Juta Ha Hutan Primer Tropis

Data dari Global Forest Watch menunjukkan Indonesia mengalami kehilangan hutan primer tropis seluas 10,5 juta hektare dalam kurun waktu 2002 hingga 2023.

Logompn

Published

on

Indonesia jadi negara ke 2 yang kehilangan 10,5 juta ha hutan primer tropis
Indonesia jadi Negara Ke-2 yang Kehilangan 10,5 Juta Ha Hutan Primer Tropis | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 1 Desember 2025 - Indonesia mengalami kehilangan hutan primer tropis seluas 10,5 juta hektare dalam kurun waktu 2002 hingga 2023.

Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kehilangan hutan primer terbesar kedua di dunia setelah Brasil berdasarkan data yang dirilis oleh Global Forest Watch (GFW), program pemantauan hutan milik World Resources Institute (WRI).

Apa Itu Hutan Primer?

Dikutip dari laman GFW, hutan primer merupakan ekosistem alami yang belum terganggu aktivitas manusia, memiliki keragaman hayati tinggi, dan berfungsi penting sebagai penyerap karbon alami.

GFW menegaskan bahwa penyebab utama kehilangan hutan tersebut bukan karena bencana alam, melainkan aktivitas manusia seperti penebangan komersial, ekspansi perkebunan industri—terutama kelapa sawit—konversi lahan untuk pemukiman dan industri, serta pembangunan proyek skala besar.

Di Indonesia, salah satu proyek yang turut menyumbang deforestasi adalah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan.

Berdasarkan data resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pelepasan kawasan hutan produksi untuk proyek ini mencapai 36.832 hektare.

Meskipun pemerintah menyebut konsep “hutan kota” dalam pembangunan IKN, para ahli menyatakan bahwa ekosistem hutan primer tidak dapat digantikan oleh konsep tersebut.

Dampak Ekologis dan Tekanan Global

Hilangnya hutan primer membawa dampak ekologis yang luas. Kerusakan habitat menyebabkan satwa liar kehilangan tempat tinggal, meningkatkan konflik antara manusia dan satwa, serta memicu perubahan iklim lokal.

Perubahan cuaca ekstrem juga menjadi lebih sering terjadi, sementara kemampuan tanah menyerap air menurun sehingga risiko banjir dan longsor meningkat.

Selain itu, menurunnya kapasitas hutan untuk menyerap karbon mempercepat pemanasan global dan mengancam keberlangsungan spesies langka yang hanya hidup di ekosistem hutan primer.

Baca Juga:  Viral! Aktivis Kalaweit Cerita Bertahun-tahun Dicuekin hingga Dilarang Posting oleh Kementerian Kehutanan

GFW mencatat bahwa tekanan terhadap hutan Indonesia meningkat seiring naiknya permintaan pasar global atas komoditas hasil hutan dan lahan.

Para ahli menilai bahwa kerusakan ini bisa dicegah jika tata kelola hutan dilakukan lebih tegas dan pengawasan lapangan diperketat.

Organisasi lingkungan juga mengingatkan bahwa proses pemulihan ekosistem hutan primer memerlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun.

Mereka juga menyampaikan kekhawatiran bahwa generasi mendatang mungkin tidak lagi bisa merasakan wujud asli dari hutan-hutan tropis Indonesia yang selama ini menjadi sumber kebanggaan nasional.

(AKM/NID/RAD)

Trending