Connect with us

Ekonomi

Harga Minyak Dunia Anjlok 7% Usai Iran Serang Pangkalan AS di Qatar

Harga minyak dunia turun 7% usai Iran serang pangkalan AS di Qatar. Meski Selat Hormuz tetap terbuka, pasar energi global tetap dihantui ketegangan.

Logompn

Published

on

Harga minyak dunia anjlok 7% usai iran serang pangkalan as di qatar
Harga Minyak Dunia Anjlok 7% Usai Iran Serang Pangkalan AS di Qatar. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 24 Juni 2025 - Harga minyak dunia turun tajam lebih dari 7% pada Senin (23/6), setelah Iran melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Al Udeid, Qatar.

Serangan ini merupakan respons atas serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran.

Harga minyak Brent turun $5,53 atau 7,2% menjadi $71,48 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) juga turun $5,53 atau 7,2% ke level $68,51 per barel.

Lonjakan Awal Tertahan karena Iran Tak Tutup Selat Hormuz

Sempat terjadi lonjakan harga minyak hampir 6% di awal perdagangan Asia, dipicu kekhawatiran bahwa Iran akan memblokade Selat Hormuz, jalur penting bagi 20% pasokan minyak global. Namun, langkah itu tidak diambil.

“Minyak dunia untuk saat ini bukan target utama dan kemungkinan besar tidak akan terdampak. Saya pikir ini akan tetap berupa balasan militer terhadap pangkalan-pangkalan AS dan/atau mencoba menyerang lebih banyak target sipil di Israel,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital, seperti dikutip MPN Indonesia dari laman Reuters, Selasa (24/6).

Tidak Ada Korban, Pengiriman Energi Tetap Normal

Dua pejabat AS mengonfirmasi kepada Reuters bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka dalam serangan tersebut.

Pengiriman dan produksi energi milik QatarEnergy juga dilaporkan tetap berjalan normal.

Sumber yang mengetahui situasi menyebutkan tidak ada indikasi serangan ke pangkalan militer AS lainnya.

Baca Juga:  Prancis dan 14 Negara Barat Minta Dunia Akui Palestina

Penurunan Terdalam Sejak 2022

Penurunan harga Brent menjadi yang terbesar sejak Agustus 2022, dengan rentang perdagangan harian mencapai $10, terluas sejak Juli 2022.

Baik Brent maupun WTI juga mencatat penurunan hampir 9% dalam perdagangan setelah jam operasional.

Iran menyebut serangan AS telah memperluas daftar target sah bagi militernya, termasuk pangkalan militer AS.

Namun, analis dari Energy Aspects menilai serangan terbuka terhadap pangkalan yang memiliki pertahanan kuat bisa menjadi langkah awal untuk menurunkan ketegangan selama tidak ada korban dari pihak AS.

“Kecuali terdapat indikasi balasan lebih lanjut dari Iran atau eskalasi dari Israel/AS, maka kemungkinan premi risiko geopolitik dapat berkurang dari harga dalam beberapa hari ke depan,” jelas Energy Aspects.

Evakuasi Personel Minyak di Irak

Di tengah meningkatnya ketegangan, perusahaan Basra Oil Company melaporkan bahwa sejumlah perusahaan minyak internasional seperti BP, TotalEnergies, dan Eni telah mengevakuasi sebagian staf dari lapangan minyak di Irak sebagai langkah pencegahan.

Ancaman Terhadap Selat Hormuz Masih Jadi Perhatian

Meskipun Selat Hormuz belum ditutup, kekhawatiran tetap tinggi. Data pelacakan kapal menunjukkan dua supertanker melakukan perubahan rute mendadak di dekat selat tersebut setelah serangan udara AS ke Iran.

Insiden ini menyoroti risiko gangguan pergerakan kapal tanker akibat konflik berkepanjangan di kawasan Teluk.

Trump Desak Produksi Domestik Ditingkatkan

Presiden AS Donald Trump menyoroti pentingnya menjaga harga minyak tetap rendah.

Melalui platform Truth Social, ia menulis, “Saya ingin semua orang bekerja untuk menjaga harga minyak tetap turun.”

Trump juga mendorong Departemen Energi AS untuk meningkatkan produksi domestik.

Ketidakpastian Pasar Masih Berlanjut

HSBC memperkirakan harga Brent bisa melonjak di atas $80 per barel jika potensi penutupan Selat Hormuz meningkat.

Baca Juga:  Krisis Ekonomi, Mata Uang Iran Anjlok ke Titik Terendah Sepanjang Sejarah!

Namun, jika tidak terjadi gangguan besar, harga diperkirakan akan kembali stabil.

“Dalam satu sisi, kita sudah sering melihat situasi seperti ini. Semua ketegangan geopolitik di Timur Tengah, baik melibatkan Israel, Iran, atau lainnya, namun hingga kini belum pernah terjadi penutupan Selat Hormuz, meskipun isu tersebut selalu muncul,” ungkap Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates.

Ketegangan antara Iran, AS, dan negara lain di kawasan Teluk terus memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global dan kestabilan harga minyak dunia.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending