Connect with us

Ekonomi

Laba Gudang Garam dan Harta Bosnya Merosot di Tengah Rumor PHK Massal

PT Gudang Garam Tbk melaporkan penurunan tajam kinerja keuangan di tengah kabar PHK massal terhadap ribuan karyawan.

Logompn

Published

on

Laba gudang garam dan harta bosnya merosot di tengah rumor phk massal
Laba Gudang Garam dan Harta Bosnya Merosot di Tengah Rumor PHK Massal | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 8 September 2025 - PT Gudang Garam Tbk melaporkan penurunan tajam kinerja keuangan pada semester I 2025, di tengah kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap ribuan karyawan.

Laporan keuangan per 30 Juni 2025 menunjukkan laba bersih sebesar Rp120,2 miliar, turun 87 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar Rp925,5 miliar.

Rincian Penurunan Pendapatan Perusahaan

Penurunan laba ini terjadi seiring dengan berkurangnya pendapatan dan masih tingginya biaya produksi.

Hingga Juni 2025, pendapatan Gudang Garam tercatat sebesar Rp44,36 triliun, lebih rendah dari Rp50,02 triliun pada semester I 2024.

Sementara itu, biaya pokok pendapatan Rp40,58 triliun. Di dalamnya, beban pita cukai dan pajak rokok mencapai Rp32,89 triliun.

Laba bruto perusahaan menurun menjadi Rp3,78 triliun dari sebelumnya Rp5,07 triliun. Setelah memperhitungkan beban usaha sebesar Rp3,41 triliun dan beban bunga Rp219,3 miliar, laba sebelum pajak merosot menjadi Rp294,3 miliar.

Setelah dikurangi pajak, laba bersih Gudang Garam hanya mencapai Rp120,2 miliar.

Laba per saham juga mengalami penurunan signifikan, dari Rp481 pada semester I 2024 menjadi Rp61 per lembar.

Komposisi Utang dan Beban Produksi

Total liabilitas Gudang Garam per 30 Juni 2025 tercatat sebesar Rp18,73 triliun, turun dari Rp23,02 triliun pada akhir 2024.

Meski menurun, liabilitas masih didominasi oleh utang jangka pendek, termasuk pinjaman bank jangka pendek Rp5,2 triliun.

Di Bank Negara Indonesia (BNI) sebesar Rp3,96 triliun, Bank Central Asia (BCA) Rp803 miliar, Bank Mandiri Rp436 miliar.

Perusahaan juga masih memiliki utang usaha Rp611,6 miliar, utang pajak Rp20,9 miliar, serta utang cukai, PPN, dan pajak rokok Rp8,84 triliun.

Baca Juga:  Sri Mulyani Tegaskan Tidak Ada Pemutusan Hubungan Kerja untuk Tenaga Honorer di Kementerian

Kemudian ada labilitas jangka pendek lainnya Rp1,99 triliun, di antaranya utang dividen Rp962 miliar dan utang konstruksi Rp418,8 miliar.

Untuk operasional, perusahaan menanggung biaya produksi termasuk bahan baku, upah pekerja, dan komponen lain sebesar Rp6,82 triliun.

Ditambah dengan beban pita cukai dan pajak rokok senilai Rp32,89 triliun, total biaya ini turut mempersempit margin keuntungan perusahaan.

Kekayaan Susilo Wonowidjojo Turun

Kinerja keuangan yang terus menurun juga berdampak pada harga saham PT Gudang Garam Tbk.

Sepanjang 2025, harga saham turun 33,71% dan dalam lima tahun terakhir telah anjlok 81,18 persen, mencapai level Rp8.800.

Kondisi ini turut memengaruhi nilai kekayaan Susilo Wonowidjojo, Presiden Direktur PT Gudang Garam Tbk.

Menurut Forbes 2024, kekayaan keluarga Susilo tercatat sebesar USD2,9 miliar (setara Rp47,4 triliun dengan kurs Rp16.345/US$1), turun drastis dari USD9,2 miliar pada 2018.

Penurunan ini setara dengan 68,5% atau kehilangan USD6,3 miliar (Rp103,41 triliun dengan kurs Rp16.415/USD1) dalam enam tahun terakhir.

Susilo Wonowidjojo memegang 1.709.685 lembar saham atau sekitar 0,09 % dari total saham Gudang Garam.

Meski kepemilikannya kecil secara proporsi, posisinya tetap signifikan dalam struktur perusahaan.

Sementara itu, terkait isu PHK massal di PT Gudang Garam, pihak manajemen telah membantah.

“Sampai dengan saat ini, di pabrik Tuban tidak ada PHK atau sejenisnya,” kata Manajemen PT Merdeka Nusantara Mitra Produksi Gudang Garam Tuban, Adib Musyafa, dikutip MPN Indonesia dari Kompas.com.

(AKM/NID/RAD)

Trending