Ekonomi
Neraca Dagang RI Capai Surplus Rp388 Triliun Sepanjang Januari-Juli 2025
Menteri Perdagangan menyampaikan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif sebesar USD 23,65 miliar pada periode Januari—Juli 2025.
MPN Indonesia 4 September 2025 - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif sebesar USD 23,65 miliar pada periode Januari—Juli 2025.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 sebesar USD 16,25 miliar. Menteri Perdagangan Budi Santoso bahkan menyebut bahwa ini jadi capaian baru usai mencatat surplus selama 63 bulan berturut-turut.
“Khusus perdagangan periode Juli 2025, Indonesia mencatatkan surplus yang tetap tinggi sebesar USD 4,17miliar. Capaian ini menandai keberlanjutan tren surplus selama 63 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” katanya dikutip MPN Indonesia dari siaran pers Kementerian Perdagangan, Kamis (4/9).
Perdagangan Nonmigas Mendominasi Surplus Periode Ini
Mengutip sumber yang sama, Budi Santoso menyebut surplus pada periode Januari—Juli 2025 terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang meningkatkan surplusnya menjadi USD 34,06 miliar dari periode sebelumnya.
Surplus tersebut sebagian besar berasal dari perdagangan dengan mitra utama Amerika Serikat sebesar USD 12,13 miliar, India sebesar USD 8,13 miliar, dan Filipina sebesar USD 5,07 miliar.
Sektor industri pengolahan mendominasi ekspor nonmigas dengan menyumbang 84,19 persen.
Budi mengatakan, terdapat tiga komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi.
“Tiga komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi, yakni kakao dan olahannya (HS 18) yang meroket hingga 108,39 persen; kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) 69,93persen; serta aluminium dan barang daripadanya (HS 76) 68,57 persen,” jelasnya.
Kinerja Ekspor Januari—Juli 2025
Total ekspor Indonesia pada Januari—Juli 2025 mencapai USD 160,16 miliar atau tumbuh 8,03 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor nonmigas naik 9,55 persen menjadi USD 152,20 miliar, dengan kontribusi dari industri pengolahan sebesar 84,19 persen, pertambangan dan lainnya sebesar 13,21 persen, dan pertanian sebesar 2,60 persen.
Ekspor pertanian naik 43,62 persen, didorong peningkatan ekspor kopi, kelapa, dan buah pinang. Ekspor industri pengolahan tumbuh 17,40 persen, sementara ekspor pertambangan turun 25,65 persen.
Dilihat dari negara tujuannya, pasar ekspor utama tetap ditujukan ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India dengan nilai total USD 63,22 miliar atau 41,53 persen dari ekspor nonmigas nasional.
Kinerja Impor Januari—Juli 2025
Total impor Indonesia Januari—Juli 2025 tercatat USD 136,51 miliar atau naik 3,41 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang didorong oleh impor nonmigas yang naik 6,97 persen menjadi USD 118,13 miliar.
Struktur impor ini didominasi oleh bahan baku/penolong dengan pangsa 71,00 persen, barang modal sebesar 20,05 persen, dan barang konsumsi sebesar 8,94 persen.
Dibanding Januari—Juli 2024, impor barang modal naik 20,56 persen, impor bahan baku naik 0,15 persen, dan impor barang konsumsi turun 2,47 persen.
Kenaikan impor barang modal terutama dipicu oleh central processing unit (CPU), mobil listrik, peralatan navigasi kapal, perangkat penerima sinyal, dan smartphone.
Untuk bahan baku, lonjakan tertinggi tercatat pada emas batangan, biji kakao, senyawa kimia untuk cakram elektronik, sulfur, dan naphtha.
Sementara itu, impor barang konsumsi tercatat menurun pada komoditas bahan bakar diesel, pendingin ruangan, bawang putih, krimer non-susu, dan buah pir.
Komoditas impor nonmigas dengan peningkatan tertinggi Januari—Juli 2025 tercatat pada komoditas:
- Kakao dan olahannya (HS 18): naik 148,22 persen
- Logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71): naik 87,67 persen
- Garam, belerang, batu, dan semen (HS 25): naik 69,16 persen
Sama seperti ekspor, impor nonmigas terbesar berasal berdasarkan negara asal masih didominasi Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat dengan kontribusi gabungan 52,65 persen.
Sementara itu, negara asal dengan kenaikan impor tertinggi tercatat pada Ekuador yang naik sebesar 135,25 persen, Uni Emirat Arab naik sebesar 79,10 persen, dan Kanada yang naik 33,43 persen.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
