Connect with us

Ekonomi

Optimis Pertumbuhan Ekonomi Bisa Naik 5,7 Persen, Purbaya: Sambil Tidur Saya Dapat

MenKkeu Purbaya optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,6 hingga 5,7 persen pada kuartal IV-2025 jika program pembangunan perumahan nasional berjalan lancar.

Logompn

Published

on

Purbaya optimis pertumbuhan ekonomi bisa naik 5,7 persen
Purbaya Optimis Pertumbuhan Ekonomi Bisa Naik 5,7 Persen | Gambar: Instagram/@menkeuri

MPN Indonesia 19 Oktober 2025 - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,6 hingga 5,7 persen pada kuartal IV-2025 jika program pembangunan perumahan nasional berjalan lancar.

Pernyataan ini disampaikannya dalam rapat koordinasi bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait pada Selasa (14/10) di Jakarta.

“Saya yakin kalau program beliau, Menteri PKP Maruarar Sirait jalan, (sekitar) 5,6–5,7 persen sambil tidur saya bisa dapat,” ujar Purbaya.

Keyakinan tersebut dilandasi oleh dampak luas dari sektor perumahan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Purbaya menegaskan bahwa sektor ini memiliki jangkauan ekonomi besar, tidak hanya pada pembangunan rumah, tetapi juga pada konsumsi dan investasi masyarakat.

“Karena 3 juta bukan rumah saja, ada 4 juta semen. Rumah itu, jangkauan besar, sih. Jadi, di segala sisi, naik semua,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa peningkatan permintaan rumah sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat.

“Saya pikir bulan-bulan ke depan, akan banyaklah orang yang punya uang lebih daripada kita. Harusnya demand-nya akan tumbuh juga,” ujarnya.

Dukungan APBN di Sektor Perumahan

Untuk mendukung target pertumbuhan, pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan ekonomi melalui intervensi fiskal dan reformasi kebijakan perumahan.

Purbaya menekankan bahwa dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap sektor perumahan tahun 2026 merupakan yang terbesar sepanjang sejarah.

Intervensi tersebut meliputi menjaga suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tetap di angka 5 persen untuk menjaga keterjangkauan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Kemudian, kuota rumah subsidi dari 220.000 unit juga meningkat menjadi 350.000 unit pada tahun 2025, dengan anggaran Rp35,2 triliun.

Baca Juga:  Efisiensi Anggaran, Sri Mulyani Pangkas 50% Biaya Perjalanan Dinas Kementerian

Selain itu, peningkatan target renovasi rumah tidak layak huni melalui Bantuan Stimulus Perumahan Swadaya (BSPS) dari 45.000 unit menjadi 400.000 unit pada 2026 juga jadi salah satu bentuk dukungan APBN 2026.

Seluruh intervensi yang disiapkan ini menyasar total pembangunan dan renovasi sebanyak 790.000 rumah sebagai bagian dari target nasional 3 juta rumah.

Efek Berantai terhadap Lapangan Kerja dan PDB

Pemerintah memperkirakan bahwa pembangunan 350.000 unit rumah subsidi bisa membuka lapangan kerja bagi minimal 1,65 juta orang, mulai dari sektor hulu seperti pabrik material dan sopir, hingga sektor hilir seperti tukang dan toko bangunan.

Selain itu, Purbaya menegaskan bahwa sektor perumahan berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) karena mendorong konsumsi, investasi, serta penggunaan barang dan jasa di berbagai lini industri.

“Kontribusi perumahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) amat signifikan. Karena dari situ kan bukan rumah saja. Ada konsumsi. Rumah itu dianggap investasi. Jadi di segala sisi naik semua,” jelasnya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending