Connect with us

Berita

Empati dengan Kondisi Bencana Sumatra, Denpasar Rayakan Malam Tahun Baru Tanpa Pesta Kembang Api

Pemkot Denpasar meniadakan pesta kembang api dan konser musik saat Tahun Baru 2026. Perayaan dialihkan ke pentas seni budaya sebagai bentuk empati bencana alam.

Logompn

Published

on

Empati dengan kondisi bencana sumatra, denpasar rayakan malam tahun baru tanpa pesta kembang api
Ilustrasi Pesta Kembang Api Saat Malam Tahun Baru. Gambar : Ilustrasi Canva

Bali, MPN Indonesia 18 Desember 2025 - Pemerintah Kota Denpasar memutuskan untuk tidak menggelar pesta kembang api dan konser musik pada malam pergantian tahun 2025 ke 2026.

Kebijakan ini diambil sebagai bentuk empati terhadap berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk banjir bandang dan longsor di Sumatra.

Sebagai gantinya, perayaan tahun baru dialihkan ke pertunjukan seni budaya yang dikemas secara sederhana dan menyesuaikan dengan situasi bencana serta musim penghujan yang masih berlangsung.

Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Arta, mengatakan perayaan tahun baru kali ini difokuskan pada pembinaan dan pelestarian seni budaya.

“Tidak seperti tahun lalu, kali ini tidak ada musik dan kembang api. Esensinya tetap pada pembinaan dan pelestarian seni budaya,” ujar I Wayan Arta kepada wartawan pada Rabu (7/12).

Lokasi dan Waktu Perayaan Tahun Baru 2026

Acara pergantian tahun 2026 dipusatkan di kawasan Catur Muka dan sisi selatan Lapangan Puputan Badung, Denpasar, pada Rabu (31/12).

Kegiatan ini mengusung tema “Melepas Matahari” dan berlangsung mulai pukul 16.00 WITA hingga 23.00 WITA.

Pada perayaan tahun baru sebelumnya, Pemkot Denpasar menggelar konser musik dan pesta kembang api di Pantai Mertasari.

Namun, konsep tersebut tidak diterapkan pada tahun ini karena mempertimbangkan kondisi kebencanaan dan cuaca.

Pentas Seni Budaya Jadi Alternatif Perayaan

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan inaugurasi di kawasan Catur Muka yang dikoordinir oleh Sakti Manca dari Yayasan Naluri Manca.

Kegiatan ini menampilkan beragam kesenian etnis yang berkembang di Denpasar dengan mengusung tema “Bhineka Nusantara” sebagai simbol heterogenitas dan toleransi antarumat beragama.

Baca Juga:  Polisi Pondok Aren Siapkan Tempat Evakuasi dan Pengamanan secara Berkala Wilayah yang Terdampak Banjir

Pada pukul 16.00 WITA hingga 18.00 WITA, acara pembukaan digelar dan dilanjutkan dengan pementasan seni dari 65 sanggar binaan Pemkot Denpasar hingga pukul 20.00 WITA.

Setiap sanggar menampilkan sedikitnya 25 orang.

Sementara itu, mulai pukul 20.00 WITA hingga 23.00 WITA, panggung di sisi selatan Lapangan Puputan Badung diisi dengan pementasan kesenian perempuan dan anak-anak, termasuk dolanan tradisional.

Ragam Kesenian dan Konsep Kebersamaan

Sejumlah kesenian lintas daerah turut ditampilkan dalam acara tersebut, di antaranya tari Saman dari Aceh, Jaranan Jawa, kesenian Borneo, kesenian Tionghoa, serta kesenian Bali seperti Jejangeran dan penampilan Gong Kebyar calon duta Pesta Kesenian Bali (PKB).

Seluruh pementasan dikemas dalam konsep Vasudaiva Kutumbakam yang bermakna kebersamaan sebagai satu keluarga besar.

Seluruh tokoh agama turut diundang hadir sebagai simbol persatuan.

Untuk mendukung seluruh rangkaian kegiatan seni tersebut, Pemkot Denpasar mengalokasikan anggaran sekitar Rp250 juta yang digunakan sebagai pengganti perayaan kembang api dan konser musik yang sebelumnya rutin digelar setiap malam tahun baru.

(AKM/NID/RAD)

Trending