Connect with us

Berita

Gandeng Aktivis Asing, Kelurahan Tegallega Siap Percantik 850 Meter Bantaran Sungai Ciparigi

Kelurahan Tegallega bersihkan bantaran Sungai Ciparigi 850 meter lewat program Deudeuh Ka Lembur, libatkan warga dan aktivis lingkungan dari AS dan Belanda.

Logompn

Published

on

Gandeng aktivis asing, kelurahan tegallega siap percantik 850 meter bantaran sungai ciparigi
Gandeng Aktivis Asing, Kelurahan Tegallega Siap Percantik 850 Meter Bantaran Sungai Ciparigi. Gambar: MPN Indonesia/Dimas

MPN Indonesia 10 Juni 2025 - Kelurahan Tegallega, Kota Bogor, akan mempercantik sepanjang 850 meter bantaran Sungai Ciparigi dalam program lingkungan bertajuk Deudeuh Ka Lembur.

Kegiatan ini akan digelar pada 15 Juni 2025 dalam rangka memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543.

Lurah Tegallega, Hardi Suhardiman, mengatakan program ini turut melibatkan dua aktivis lingkungan internasional asal Amerika Serikat dan Belanda.

“Alhamdulillah, kami dibantu oleh Kang Andrew dan Kang Jorrit dari Amerika dan Belanda yang bersedia turun langsung mendukung kegiatan Deudeuh Ka Lembur,” ujar Hardi Suhardiman saat ditemui MPN Indonesia di kantor kelurahan, pada Senin (9/6).

Fokus pada Pembersihan Sungai Ciparigi

Kegiatan akan difokuskan pada pembersihan bantaran Sungai Ciparigi yang melintasi enam RW di wilayah Tegallega, yakni RW 02, 03, 04, 05, 07, dan 08.

“Kami akan menitikberatkan kegiatan pada pembersihan Sungai Ciparigi. Sungai ini saya anggap sebagai jantung Kelurahan Tegallega. Jika sungainya tidak bersih, berarti seluruh wilayah juga belum bersih,” lanjut Hardi.

Edukasi dan Keterlibatan Warga

Kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi bagi warga untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kebersihan sungai.

Pada sosialisasi kedua yang digelar bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni), kelurahan mengajak seluruh lapisan masyarakat ikut serta.

“Alhamdulillah, kami mendapat dukungan dari RT, RW, warga, dan komunitas peduli lingkungan,” kata Hardi.

Partisipasi masyarakat dirancang untuk terlibat sejak persiapan hingga pelaksanaan.

Pendekatan kolaboratif ini diharapkan dapat menanamkan budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.

Sampah Masih Jadi Tantangan Utama

Meski dukungan warga cukup besar, Hardi mengungkapkan bahwa permasalahan sampah masih menjadi tantangan utama.

Baca Juga:  Dana Kompensasi Sopir Angkot Puncak Dipotong Rp200 Ribu, Dedi Mulyadi: Uang Saya Kembalikan tapi Hukum Tetap Berjalan!

“Permasalahan sampah bukan hanya berasal dari warga sekitar, tapi juga dari daerah hulu yang terbawa arus hingga menyumbat dan berpotensi menyebabkan banjir di wilayah kami,” jelasnya.

Untuk itu, penanganan akan dilakukan dari hulu ke hilir. Selain pembersihan fisik, kelurahan juga terus mengedukasi warga agar tidak membuang sampah ke sungai.

Arahkan Program Jadi Wisata Edukasi

Ke depan, program Deudeuh Ka Lembur direncanakan menjadi bagian dari destinasi wisata berbasis pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat.

“Kami terus menjalin kerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan. Harapannya, masyarakat ke depannya tidak lagi membuang sampah ke sungai,” tutup Hardi.

Pelibatan aktivis asing dan kerja sama lintas komunitas diharapkan menjadikan program ini sebagai contoh bagi gerakan lingkungan di wilayah lain.

(DIM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending