Connect with us

Berita

Ini Kata Psikolog soal Suami yang Bakar Rumah Mantan Istri di Jaksel

Pembakaran rumah oleh suami di Jakarta Selatan menjadi sorotan, terutama terkait eskalasi konflik dalam rumah tangga.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 06 18t145332.798
Ini Penjelasan Psikolog soal Suami yang Nekat Bakar Rumah Mantan Istri di Jaksel | Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 18 Juni 2025 - Peristiwa pembakaran rumah yang dilakukan oleh seorang pria berinisial H (44) di wilayah Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada pekan lalu menjadi sorotan tajam terkait eskalasi konflik dalam rumah tangga.

Berdasarkan keterangan kepolisian, insiden ini dipicu oleh kecemburuan dan konflik berkepanjangan antara pelaku dan mantan istrinya, yang diketahui telah pisah ranjang selama satu tahun.

Peristiwa tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan pada rumah yang ditinggali istrinya, tapi api juga merembet ke dua rumah tetangga di sekitarnya.

Pelaku kini telah diamankan oleh aparat dan dijerat dengan Pasal 187 ayat 1 KUHP dengan ancama pidana maksimal 12 tahun penjara.

Mengapa Kekerasan di Rumah Tangga Bisa Terjadi?

Penanganan kasus ini menyoroti betapa serius dampak konflik internal rumah tangga apabila tidak ditangani secara profesional dan sehat.

Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang bisa menyakiti pasangannya?

Psikolog Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., menyampaikan bahwa kondisi konflik yang berkepanjangan dalam hubungan bisa menurunkan kemampuan seseorang berpikir logis.

Alhasil, hal tersebut bisa menyebabkan seseorang melakukan hal-hal negatif.

“Ketika seseorang berada dalam kondisi berkonflik, maka dia berada dalam kondisi yang diwarnai dengan ketegangan. Dalam kondisi tegang tersebut, proses berpikir secara logis menjadi terhambat, sehingga rentan muncul tindakan-tindakan yang negatif,” ujar Prof. Sri Lestari kepada MPN Indonesia, Senin (16/6).

Konflik Berkepanjangan Bisa Sebabkan Frustasi

Sri menjelaskan bahwa konflik yang tak terselesaikan serta komunikasi yang buruk dalam relasi berkontribusi terhadap peningkatan frustrasi.

Ketika komunikasi tidak berjalan efektif dan hanya saling menyalahkan atau mengungkit masa lalu, maka jalan menuju perdamaian seolah tertutup.

Baca Juga:  Putra Mahkota Keraton Solo, KGPAA Hamangkunegoro Viral Usai Posting "Nyesel Gabung Republik"

Dalam kondisi seperti itu, pihak yang merasa lebih kuat bisa terdorong untuk menunjukkan dominasi.

Dalam banyak kasus seperti peristiwa di Pesanggrahan ini, istri kerap berada dalam posisi yang lebih rentan.

“Kondisi konflik yang berkepanjangan dapat menimbulkan situasi yang membuat orang merasa frustrasi dengan situasi yang dihadapinya. Hal ini mendorong pihak yang merasa lebih kuat akan unjuk kuasa pada pihak yang dianggap lebih lemah atau yang dikuasainya,” kata Sri.

“Istri seringkali berada pada kondisi rentan untuk mengalami tindak kesewenang-wenangan dari suami,” imbuhnya.

Tindak kekerasan tersebut bisa berupa agresi verbal, fisik, maupun tindakan ekstrem seperti pembakaran rumah sebagaimana terjadi di Jakarta Selatan.

(AKM/NID/RAD)

Trending