Berita
Kemarau Tertunda, Hujan Masih Guyur Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa
Musim kemarau di Pulau Jawa mundur, baru mulai Juni-Juli 2025. Curah hujan tinggi dipicu suhu laut hangat dan gangguan atmosfer sementara.
MPN Indonesia 21 Mei 2025 - Memasuki Mei 2025, sebagian besar wilayah di Pulau Jawa dan beberapa daerah lain di Indonesia masih diguyur hujan, meski biasanya periode ini sudah masuk musim kemarau.
Direktur Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dr. A. Fachry Radjab, mengatakan musim kemarau di Jawa baru akan berlangsung merata mulai Juni hingga Juli 2025.
“Hingga awal Mei 2025, baru 23 Zona Musim dari total 193 Zona Musim di Pulau Jawa yang teridentifikasi masuk musim kemarau,” ungkap Dr. Fachry kepada MPN Indonesia dalam pesan singkat, Rabu (21/5).
Zona tersebut hanya mencakup sebagian kecil wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sementara itu, sebagian besar daerah masih mengalami hujan hampir setiap hari, terutama pada sore dan malam hari.
Penyebab Curah Hujan Masih Tinggi
Fenomena mundurnya musim kemarau ini dipengaruhi oleh beberapa faktor meteorologi.
Dr. Fachry menyebut suhu muka laut yang masih hangat di sekitar wilayah Indonesia sebagai salah satu pemicu utama. Kondisi ini meningkatkan pasokan uap air yang memicu hujan.
Selain itu, munculnya bibit siklon di Samudra Hindia selatan Jawa turut memperkuat pertumbuhan awan hujan.
Gangguan atmosfer lain seperti gelombang Equatorial Rossby Wave juga memicu peningkatan curah hujan di Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
Kombinasi faktor-faktor ini membuat musim kemarau yang seharusnya tiba lebih awal menjadi tertunda.
Kemarau Baru Terjadi di Beberapa Wilayah
Menurut Dr. Fachry, hingga awal Mei 2025, baru 56 dari total ratusan zona musim di Indonesia yang mengalami kemarau secara konsisten.
Wilayah tersebut tersebar di sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Papua Barat.
“Hingga awal Mei 2025, terdapat 56 Zona Musim yang telah mengalami musim kemarau,” jelasnya.
Kondisi ini turut berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama di sektor pertanian yang sangat bergantung pada kepastian pola musim.
Bukan Akibat Perubahan Iklim Global
Meski banyak yang mengaitkan cuaca tak menentu ini dengan perubahan iklim global, Dr. Fachry menegaskan bahwa fenomena tersebut bersifat sementara.
“Pola cuaca yang sekarang terjadi merupakan fenomena sesaat (temporary) yang disebabkan oleh gangguan pada skala waktu mingguan,” tegasnya.
Menurutnya, gangguan atmosfer saat ini belum cukup untuk dikategorikan sebagai dampak perubahan iklim dan cuaca jangka panjang.
Namun, masyarakat tetap diimbau waspada terhadap risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang selama transisi musim ini.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
