Connect with us

Kriminal

Densus 88 Ungkap Ratusan Anak Direkrut Jaringan Terorisme lewat Game Online

Densus 88 mengungkap jaringan terorisme yang merekrut lebih dari 110 anak di 23 provinsi melalui game online dan media sosial sepanjang 2024-2025.

Logompn

Published

on

Densus 88 ungkap ratusan anak direkrut jaringan terorisme lewat game online
Densus 88 Ungkap Ratusan Anak Direkrut Jaringan Terorisme lewat Game Online. Gambar : Instagram/@divisihumaspolri

MPN Indonesia 24 November 2025 - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap jaringan terorisme yang merekrut lebih dari 110 anak-anak dan pelajar melalui game online serta media sosial sepanjang akhir 2024 hingga November 2025.

Dalam periode tersebut, lima tersangka dewasa ditangkap karena diduga berperan sebagai perekrut sekaligus pengendali komunikasi kelompok.

Menurut juru bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, para tersangka menargetkan anak-anak berusia 10 hingga 18 tahun dari 23 provinsi. Mayoritas korban berasal dari Jawa Barat dan DKI Jakarta.

“Pada tahun ini, di tahun 2025 sendiri, seperti kurang lebih lebih dari 110 (anak dan pelajar yang saat ini sedang teridentifikasi),” ujar AKBP Mayndra dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (18/11/).

Modus Perekrutan Melalui Platform Digital

Perekrutan diawali melalui platform terbuka seperti Facebook, Instagram, dan game online.

Setelah calon target dianggap potensial, mereka dipindahkan ke grup komunikasi tertutup dan terenkripsi seperti WhatsApp dan Telegram untuk proses indoktrinasi.

Propaganda diberikan dalam bentuk video pendek, animasi, meme, hingga musik.

“Ketika di sana terbentuk sebuah komunikasi, lalu mereka dimasukkan kembali ke dalam grup yang lebih khusus… lebih tidak bisa terakses oleh umum,” ungkap AKBP Mayndra.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menambahkan bahwa penyebaran propaganda dirancang untuk membangun kedekatan emosional.

“Propaganda didiseminasi dengan menggunakan video pendek, animasi, meme, serta musik yang dikemas menarik untuk membangun kedekatan emosional dan memicu ketertarikan ideologis,” jelasnya.

Baca Juga:  Pelaku Penyiraman Air Keras di Cengkareng Ternyata Rekan Kerja Korban, Alami Luka Bakar 90 Persen

Data Anak yang Terekrut dan Provinsi Terdampak

Densus 88 mencatat peningkatan signifikan jumlah anak yang terpapar ajaran kelompok terorisme.

Pada periode 2011-2017, hanya 17 anak yang tercatat, namun jumlah tersebut melonjak menjadi lebih dari 110 anak pada tahun 2025.

Anak-anak yang teridentifikasi berasal dari 23 provinsi. Dua wilayah yang paling terdampak adalah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

“Totalnya ada 23 provinsi yang di dalam provinsi tersebut ada anak-anak yang terverifikasi oleh Densus 88,” tutur AKBP Mayndra.

Identitas Tersangka dan Lokasi Penangkapan

Brigjen Trunoyudo menjelaskan bahwa lima tersangka berperan sebagai perekrut sekaligus pengendali komunikasi melalui media sosial.

“Atas peranannya merekrut dan memengaruhi anak-anak tersebut supaya menjadi radikal, bergabung dengan kelompok terorisme dan melakukan aksi teror,” imbuhnya.

Kelima tersangka dewasa adalah:

  • FW alias YT (47), ditangkap di Kota Medan, Sumatera Utara.
  • LM (23), ditangkap di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
  • PP alias BMS (37), ditangkap di Sleman, Yogyakarta.
  • MSPO (18), ditangkap di Tegal, Jawa Tengah.
  • JJS alias BS (19), ditangkap di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Dari kelimanya, FW alias YT disebut sebagai “pemain lama” yang pernah diproses hukum dan kembali merekrut anak-anak.

Ia diketahui berasal dari jaringan Ansharut Daulah yang berafiliasi dengan ISIS.

Faktor Kerentanan Anak

Brigjen Trunoyudo menyebut ada berbagai faktor sosial yang membuat anak rentan direkrut oleh kelompok terorisme, mulai dari bullying, kondisi keluarga broken home, kurangnya perhatian orang tua, pencarian jati diri, marginalisasi sosial, hingga minimnya literasi digital dan pemahaman agama.

Penanganan terhadap anak-anak yang telah terpapar dilakukan bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, dan Kementerian Sosial.

Baca Juga:  Motif Penyiraman Air Keras di Cengkareng, Diduga Cekcok karena Ini

Keterlibatan Game Online dalam Aksi Perekrutan

Game online menjadi salah satu pintu masuk awal pendekatan.

Pelaku memanfaatkan fitur komunikasi seperti chat room untuk membangun interaksi sebelum membawa korban ke grup diskusi tertutup.

Hal ini turut disorot dalam konteks hukum dan kriminal, karena ruang digital kini dimanfaatkan sebagai sarana perekrutan terorisme.

“Seperti tadi disebutkan oleh Pak Dirjen dari Komdigi, ada beberapa kegiatan yang dilakukan anak-anak kita ini ya, bermain game online… Ketika di sana terbentuk sebuah komunikasi, lalu mereka dimasukkan kembali ke dalam grup yang lebih khusus,” pungkas AKBP Mayndra.

(AKM/NID/RAD)

Trending