Kriminal
Empat Siswi SMP di Depok Diduga Jadi Korban Pelecehan Guru
Empat siswi SMP di Depok mengaku dilecehkan oleh guru. Salah satu korban membawa bukti rekaman, namun sekolah diduga tutupi kasus.
MPN Indonesia 22 Mei 2025 - Empat siswi di sebuah SMP di Depok menjadi korban dugaan pelecehan seksual oleh oknum guru.
Korban yang seluruhnya masih di bawah umur mengalami berbagai bentuk pelecehan, baik verbal maupun fisik, sejak tahun 2024 hingga 2025.
Kasus kriminal ini mencuat setelah seorang siswi kelas 7 berinisial V memberanikan diri melapor dan menyerahkan rekaman suara sebagai bukti.
Namun, pihak sekolah justru dinilai berusaha membungkam korban dan siswa lain yang bersolidaritas.
Pelatih Paskibra Angkat Suara: “Kalau Bukan Saya, Siapa Lagi?”
Melalui Instagram pribadinya pada Rabu (21/5), seorang pelatih ekstrakurikuler yang juga pembina Paskibra menyatakan kekecewaannya terhadap sikap sekolah.
“Saya pertaruhkan kepelatihan saya demi membela anak didik saya dan korban lainnya. Kalian bisa bungkam siswa-siswi kalian, tapi tidak dengan saya. Kebiasaan yang saya tanamkan pada anak Paskibra S.A.D.M adalah mental yang kuat, berani berpendapat, tidak kenal takut saat kita benar. Karena itu saya buktikan sendiri,” tulis pelatih ekstrakurikuler, dikutip MPN Indonesia melalui Instagram @sarahpra******, Kamis (22/5).
Ia juga mengecam tindakan sekolah yang menganggap kasus selesai hanya dengan pendekatan kekeluargaan, tanpa keadilan bagi korban.
“Sekolah tidak melakukan pembelaan dan rasa aman terhadap korban, melainkan membungkam dan menyudutkan. Jika sekolah tidak di pihak korban, maka saya ikut bersuara,” tegasnya.
Kesaksian Korban: Rekaman, Intimidasi, dan Trauma
Korban V: Pelecehan Verbal dan Ancaman Pembungkaman
V, siswi kelas 7, menjadi korban pelecehan verbal oleh seorang guru yang kerap membahas topik dewasa berulang kali.
Untuk membuktikan kejadian tersebut, V merekam percakapan yang terjadi pada bulan Ramadan 2025.
Bersama orang tuanya, V melaporkan kejadian ini ke kepala sekolah. Namun, tanggapan yang diterima menyudutkan dirinya.
Guru dan kepala sekolah menyatakan bahwa pelaku dikenal sebagai guru musik yang tidak mungkin berbohong karena memiliki istri cantik.
V diminta tidak menyebarluaskan hal ini, dan kasus dianggap selesai. Merasa tidak mendapatkan keadilan, V curhat ke temannya. Teman tersebut kemudian mempublikasikan kejadian ini ke Twitter.
Ketika informasi ini menyebar, siswa/i kelas 9 menunjukkan dukungan kepada korban.
Namun, tiga siswa kelas 9 dipanggil guru untuk dimintai keterangan.
Dalam pembicaraan, mereka diminta tidak melakukan demo dan tidak menyebarkan kasus.
“Kami dikhawatirkan akan dicap tidak berperilaku baik, dan itu bisa merugikan saat masuk SMA,” ungkap salah satu siswa.
Tiga siswa itu merasa kecewa karena korban tidak diberi ruang untuk mendapat keadilan.
“Kami khawatir jika ada korban lain yang bicara ke sekolah, hasilnya akan nihil seperti V,” kata mereka.
Korban Lain Mulai Bersuara
Korban A: Dipegang Secara Tidak Pantas Saat Bertugas (2024)
Siswi kelas 8 berinisial A mengalami pelecehan fisik saat membantu PMR membagikan obat ke kelas 7.
Saat berpamitan, pelaku merangkul pinggang A, lalu meremas bokongnya dua hingga tiga kali
“Korban A merasa terkejut dan bingung, lalu segera pergi dari kelas,” kata pelatih ekstrakurikuler.
Korban S: Dipegang Saat Jam Kosong (2025)
Siswi kelas 8 lainnya, S, mengalami pelecehan saat sedang jam kosong. Ia menghampiri pelaku di depan ruang Tata Usaha.
Pelaku memintanya duduk dan selama berbicara, pelaku beberapa kali menepuk pahanya.
Saat bersalaman, tangan korban juga sering ditahan, bahkan dirangkul secara tidak perlu.
Korban F: Disentuh Saat Merapikan Atribut (2025)
F, siswi kelas 7, sedang merapikan dasi ketika pelaku tiba-tiba menyentuh dasinya, dengan dalih ingin membantu. Namun korban merasa bagian sensitif tubuhnya tersentuh.
“Kenapa pak?” tanya korban.
“Gak rapih itu kamu,” jawab pelaku, lalu pergi mengajar.
“Masih banyak kejadian pelecehan lain yang tidak diceritakan langsung ke saya,” ungkap pelatih yang mewakili suara siswa.
Isi Rekaman: Bukan Edukasi Seksual, Tapi Obrolan Tak Pantas
Rekaman percakapan antara pelaku dan korban V menunjukkan adanya obrolan bernada mesum, yang menurut pelatih hal tersebut bukan termasuk bentuk edukasi seksual.
Para korban memilih diam karena takut nilai mereka terganggu, atau karena pelaku dianggap punya jabatan dan kekuasaan di sekolah.
Pihak sekolah bahkan meminta rekaman dihapus dan tidak menyebarkan masalah ini ke publik, dengan alasan menjaga nama baik sekolah.
“Kebijakan yang dilakukan oleh sekolah sangatlah tidak adil. Demi menjaga nama baik sekolah, pihak guru merasa harus menutupi tindakan pelanggaran hukum dan perlindungan anak,” tutur pelatih ekstrakurikuler.
Tuntutan Para Korban
Yang diharapkan para korban sejak awal bukanlah mediasi sepihak atau pembungkaman, tetapi, pelaku mengakui tindakannya, permohonan maaf terbuka kepada para korban, sanksi tegas dari sekolah, dan perlindungan dan rasa aman bagi korban dan seluruh siswi.
“Permintaan maaf saja tidak cukup mengobati trauma yang mendalam bagi si korban yang masih di bawah umur. Trauma yang membekas pada korban adalah penghancuran masa depan. Sementara pelaku, masa depannya hanya menunggu waktunya,” pungkas pelatih ekstrakurikuler.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
