Berita
KUPI Tetapkan Mei sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia
Jaringan KUPI menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia.
MPN Indonesia 22 Mei 2025 - Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) resmi menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia.
Deklarasi ini diumumkan pada Minggu (18/5) di Masjid Puser Bumi, Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.
“Kami, para ulama, guru, dan penggerak komunitas jaringan ulama perempuan Indonesia dengan penuh kesadaran, keimanan, dan keberpihakan, menyatakan dan menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia,” bunyi kutipan dari naskah deklarasi.
Alasan Pilih Bulan Mei
Dikutip MPN Indonesia dari laman NU Online, pemilihan bulan Mei memiliki makna simbolik.
Selain bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, bulan ini juga menjadi pengingat tragedi Mei 1998, ketika perempuan, warga Tionghoa, dan kelompok miskin kota menjadi korban kekerasan politik.
“Kebangkitan nasional Indonesia tidak semata bicara soal nasionalisme, tetapi juga menyangkut isu kemanusiaan seperti keadilan sosial, keadilan gender, dan penolakan terhadap diskriminasi,” ujar Sekretaris Majelis Musyawarah KUPI, Masruchah.
Gerakan Kultural dan Spiritualitas Ulama Perempuan
Deklarasi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual, sosial, dan kultural KUPI untuk memperkuat kontribusi ulama perempuan dalam menjaga nilai keadilan dan kebenaran.
KUPI memandang ulama perempuan sebagai penjaga nurani publik yang memperjuangkan kehidupan bermartabat melalui pembelaan terhadap kelompok rentan dan penyebaran ilmu pengetahuan.
Ketua Majelis Dzikir dan Pikir Puser Bumi, Rieke Diah Pitaloka turut menekankan pentingnya meneladani kiprah ulama perempuan dalam sejarah.
Ia menyebut Nyai Syarifah Mudaim sebagai sosok inspiratif yang mengajarkan nilai perjuangan dan keislaman yang tangguh.
“Nyai Syarifah Mudaim telah ajarkan kepada kami keturunannya jiwa cahaya Islam yang pantang menyerah, yang akan menuntun kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan di dalam perjuangan,” katanya.
Peran dan Keteguhan Perempuan di Ruang Publik
Dewan Pertimbangan KUPI, Alissa Wahid, menyoroti pentingnya keterlibatan aktif perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan sosial.
Ia menyadari bahwa perempuan sering kali menghadapi ketakutan ketika memasuki ruang publik.
Kendati demikian, perempuan harus mengenal keberanian untuk menghadapi rasa takut itu sendiri.
“Kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan. Kita yang bukan tokoh mitos, yang punya anak, pasangan, dan keluarga, mengenal rasa takut,” kata Alissa.
“Tapi meskipun kita takut, kita harus jalan terus dan melompati pagar batas ketakutan tadi. Mungkin di situ martabat dan harga kita ditetapkan, dan ulama perempuan harus jalan terus dan melompati pagar batas ketakutan tersebut,” imbuhnya.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
