Connect with us

Berita

RI Masih Negosiasi dengan Iran agar Kapal Tanker Pertamina Bisa Lewat Selat Hormuz

Dua kapal tanker Pertamina tertahan di Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia masih bernegosiasi dengan Iran untuk izin melintas.

Logompn

Published

on

RI Masih Negosiasi dengan Iran agar Kapal Tanker Pertamina Bisa Lewat Selat Hormuz
RI Masih Negosiasi dengan Iran agar Kapal Tanker Pertamina Bisa Lewat Selat Hormuz. Gambar: Instagram/@sugiono_56

MPN Indonesia 23 April 2026 - Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan pemerintah Indonesia masih melakukan negosiasi dengan Iran agar dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) dapat melintasi Selat Hormuz yang terdampak blokade.

Negosiasi tersebut dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran bersama tim PT Pertamina (Persero), menyusul tertahannya kapal di jalur strategis tersebut akibat dinamika keamanan dan kebijakan otoritas Iran.

Sugiono menjelaskan bahwa pembicaraan terus dilakukan untuk memperoleh izin melintas bagi kapal tanker yang membawa muatan, di tengah situasi yang berkembang di lapangan.

“Mengenai negosiasi kapal Pertamina di Selat Hormuz. Tentu saja Kementerian Luar Negeri dalam hal ini Kedutaan Besar kita di Teheran juga terus melakukan pembicaraan. Kemudian bersama juga dengan tim dari Pertamina terkait dengan izin lewat dari kapal-kapal kita yang ada di Selat Hormuz,” ujar Sugiono dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat, Rabu (22/4).

Ia menambahkan, proses negosiasi menjadi kompleks karena adanya faktor internal di Iran yang memengaruhi implementasi kebijakan di lapangan.

“Permasalahannya menjadi semakin kompleks dengan situasi internal yang terjadi di Iran sendiri. Karena kadang-kadang apa yang menjadi policy dari atas itu tidak serta-merta bisa diimplementasikan di lapangannya. Itu yang sedang dicari penyelesaiannya seperti apa,” ungkap Sugiono.

Kapal Tanker Pertamina yang Tertahan di Selat Hormuz

Dua kapal tanker milik Pertamina yang tertahan di kawasan Teluk Arab adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Kedua kapal tanker tersebut masih menunggu kepastian untuk dapat melintasi Selat Hormuz.

Baca Juga:  Trump Perpanjang Gencatan Senjata AS-Iran, Blokade Kapal Tetap Berlanjut

Sugiono menyampaikan bahwa selain dinamika internal Iran, terdapat perkembangan terkait blokade dan persyaratan baru yang harus dipenuhi kapal tanker untuk bisa melintas.

Persyaratan tersebut menjadi bagian dari pembahasan antara KBRI di Teheran dan tim teknis dari Pertamina dengan otoritas setempat.

“Kemudian tentu saja ada perkembangan lagi tentang blokade Hormuz. Kemudian juga ada beberapa perkembangan terkait dengan syarat-syarat kapal boleh lewat dan sebagainya, yang itu masih menjadi hal-hal yang kita negosiasikan dan kita bicarakan,” sebut Sugiono.

Ia juga menuturkan bahwa kapal Pertamina yang membawa minyak masih tertahan karena proses negosiasi belum berjalan sesuai rencana.

Situasi keamanan yang berubah membuat kepastian pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi tidak menentu, meskipun sempat terdapat sinyal pembukaan jalur.

Hasil Konferensi Internasional

Di sisi lain, Sugiono menyampaikan hasil konferensi internasional yang diinisiasi oleh Prancis dan Inggris untuk membahas krisis di Selat Hormuz.

Ia hadir secara daring mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan tersebut.

“Jadi, saya mewakili Bapak Presiden hadir secara online atau daring di rapat tersebut. Yang intinya, pertama bahwa negara-negara yang ikut di dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee atau tol bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz,” jelasnya.

Menurut Sugiono, penolakan terhadap pemungutan fee atau tol tersebut didasarkan pada prinsip freedom of navigation yang menjamin hak kapal komersial dan militer untuk melintas tanpa gangguan.

“Karena hal tersebut bertentangan dengan apa yang dikenal dengan freedom of navigation. Selat Hormuz dikuasai Iran, tapi di situ kan ada Oman, kemudian ada UAE. Jadi, beberapa contoh praktik tersebut dilakukan di situ,” ungkap Sugiono menambahkan.

Selain itu, konferensi internasional juga membahas dukungan terhadap upaya diplomatik dan negosiasi politis untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz.

Baca Juga:  Baru Dibuka, Iran Dikabarkan Tutup Lagi Selat Hormuz Buntut Israel Serang Lebanon dan Sebut AS Langgar Perjanjian

“Terakhir, tentu saja ini akan disesuaikan dengan hukum internasional yang berlaku ataupun mandat PBB. Bahkan waktu itu disampaikan, dalam rangka menempatkan apa yang disebut dengan peaceful military protection bagi kapal-kapal yang melalui Selat Hormuz. Jadi itu diwacanakan. Jadi kapal-kapal yang lewat di situ dikawal dalam misi pengawalan untuk bisa melintas,” kata Sugiono.

Ia juga menyebutkan bahwa hasil konferensi tersebut masih berupa proposal yang diajukan oleh negara-negara peserta.

Menurutnya, Selat Hormuz tidak hanya dilalui oleh minyak, tetapi juga berbagai produk logistik global lainnya.

“Perdamaian logistik. Karena bukan cuma minyak yang lewat Selat Hormuz. Yang lewat Selat Hormuz itu berbagai macam produk. Jadi kurang lebih seperti itu. Normalisasi yang tadi disampaikan tentu saja upaya-upaya de-mining juga dilakukan, membersihkan ranjau-ranjau laut yang ada di sekitar Selat Hormuz,” kata Sugiono.

(AKM/NID/RAD)

Trending