Connect with us

Berita

Sempat Kesulitan Cari Informasi, Andry Hariana Rela ke Surabaya demi Menggali Kisah M.T. Harjono: Ini Seperti Puzzle

Andry Hariana menemui keluarga M.T. Harjono di Surabaya demi memperoleh kisah hidup yang belum banyak diketahui masyarakat.

Actress 1299250

Published

on

Sempat Kesulitan Cari Informasi, Andry Hariana Rela ke Surabaya demi Menggali Kisah M.T. Harjono Ini Seperti Puzzle
Pemred MPN Indonesia, Andry Hariana saat peluncuran dan bedah buku M.T. Harjono. Gambar: Dok. Istimewa

MPN Indonesia 29 Oktober 2026 - Pemimpin Redaksi MPN Indonesia, Andry Hariana, mendatangi Surabaya untuk menggali kisah M.T. Harjono setelah menghadapi keterbatasan informasi sejarah.

Ia menemui adik M.T. Harjono, dr. Asih, guna melengkapi bahan penulisan biografi melalui wawancara, literatur, dan arsip.

Hasil penelusuran tersebut dituangkan dalam buku M.T. Harjono: Perwira Intelektual Penjaga Pancasila, yang diluncurkan di Jakarta, Kamis (8/10).

Penulisan buku M.T. Harjono ini berawal dari permintaan keluarga yang ingin mendokumentasikan perjalanan hidupnya.

“Ini menjadi papan puzzle buat saya. Saya kemudian menemui adik M.T. Harjono di Surabaya, dr. Asih, yang sudah sepuh. Saya seperti mendapat beberapa potongan puzzle, kemudian potongan-potongan lain mulai ditemukan,” jelas Andry kepada MPN Indonesia.

Keterbatasan Informasi saat Menulis Buku M.T. Harjono

Andry mengaku kesulitan menemukan bahan sejarah ketika mulai menyusun biografi Letjen TNI Anumerta M.T. Harjono.

Salah satu sumber awal yang berhasil ditemukan adalah buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1984.

Keterbatasan informasi tersebut mendorong Andry mencari keterangan langsung dari keluarga M.T. Harjono di Surabaya.

Selain menemui keluarga, ia menghubungi sejumlah penggiat sejarah untuk memperoleh informasi tambahan mengenai perjalanan hidup M.T. Harjono.

Andry juga melakukan penelusuran melalui beberapa lembaga, yakni Perpustakaan Nasional, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dinas Sejarah TNI AD, dan Pusat Sejarah TNI.

Proses pengumpulan informasi menghadapi kendala karena sejumlah narasumber telah berusia lanjut.

Beberapa di antaranya meninggal dunia sebelum Andry memperoleh kesempatan melakukan wawancara.

“Saya gagal wawancara dengan adiknya M.T. Harjono karena sudah terburu wafat. Begitu juga dengan Ibu Mery Hoegeng, sepupu Ibu Mariatne, istri M.T. Harjono. Belum wawancara, Ibu Mery keburu wafat. Ada juga saya sempat wawancara keponakan M.T. Harjono, beberapa bulan kemudian juga wafat,” katanya.

Baca Juga:  Kisah di Balik Buku D.I. Pandjaitan: Mengurai Jejak Sang Pahlawan lewat Suara Orang-orang Terdekat

Permintaan Keluarga Mengawali Penulisan Biografi M.T. Harjono

Andry menjelaskan bahwa keluarga M.T. Harjono menjadi pihak yang pertama kali meminta dirinya menulis biografi tersebut.

Permintaan itu muncul setelah keluarga mengetahui keterlibatannya dalam kegiatan bedah buku D.I. Pandjaitan.

“Selain permintaan keluarga M.T. Harjono yang melihat saya di acara bedah buku D.I. Pandjaitan, saya melihat banyak orang yang tahu Letjen M.T. Harjono adalah nama jalan,” kata Andry.

Menurut Andry, pengetahuan sebagian masyarakat mengenai M.T. Harjono masih terbatas pada nama jalan dan statusnya sebagai Pahlawan Revolusi.

“Jika ada yang tahu lebih jauh, terbatas sebagai Pahlawan Revolusi korban kekejaman Gerakan PKI. Itu pun lewat film G30S/PKI yang hanya menggambarkan bagaimana beliau gugur,” sambungnya.

Melalui penulisan biografi tersebut, Andry berupaya mendokumentasikan perjalanan M.T. Harjono sejak menempuh pendidikan hingga menjalankan tugas militer.

Buku tersebut juga ditujukan untuk menghubungkan generasi terdahulu dengan generasi sekarang.

Dalam kesempatan peluncuran buku, Andry menyampaikan harapannya agar kisah kehidupan M.T. Harjono menjadi bahan pembelajaran bagi anggota militer.

“Semoga buku ini bisa menjadi cermin untuk tentara sekarang,” ujar Andry kepada MPN Indonesia.

(AKM/NID/RAD)

Trending