Berita
TP PKK Kota Bogor Gencarkan Edukasi Cegah Pernikahan Anak Lewat Program Campernik
TP PKK Kota Bogor gelar Kelas Campernik untuk cegah pernikahan anak dan dorong edukasi dini demi generasi muda yang sehat, siap mental, dan bebas stunting.
MPN Indonesia 17 Juni 2025 - Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor, Yantie Rachim, menegaskan pentingnya edukasi sejak dini bagi keluarga dan remaja dalam upaya menekan angka pernikahan anak.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan Kelas Cara Mencegah Pernikahan Anak (Campernik) yang berlangsung di Aula Kantor Kelurahan Baranangsiang, Kota Bogor, pada Senin (16/6).
Program ini menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk membentuk generasi muda yang sehat dan berkualitas.
“Anak-anak yang menikah di usia dini pada dasarnya belum memiliki kesiapan fisik, psikologis, dan emosional untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Mereka masih dalam masa tumbuh dan berkembang yang seharusnya diisi dengan pendidikan, pembentukan karakter, dan pencarian jati diri,” ujar Yantie Rachim dalam kegiatan tersebut.
Ia juga menyoroti risiko stunting pada anak dari pernikahan usia dini.
“Alat reproduksinya belum siap, mentalnya pun belum matang. Ketika mereka menjadi orang tua, belum tentu mereka mampu merawat anak-anaknya dengan baik. Ini yang menjadi kekhawatiran kita bersama,” tegasnya.
Melalui Kelas Campernik, orang tua didorong menjadi agen perubahan dengan memberikan pemahaman tentang kesiapan membangun rumah tangga sesuai kebijakan pernikahan yang berlaku.
Campernik Jadi Strategi Edukasi Jangka Panjang
Kelas Campernik merupakan program unggulan Pokja I TP PKK Kota Bogor yang telah berjalan selama lima tahun.
Program ini menyasar kelompok bina keluarga remaja dan anak untuk memberikan pemahaman tentang dampak negatif pernikahan dini.
Tujuan utamanya adalah membentuk generasi berencana (genre) yang mampu merencanakan masa depan secara matang dan mendukung kebijakan penurunan angka pernikahan usia anak.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bogor, Anas Rasmana, menyampaikan bahwa program edukasi ini telah menunjukkan hasil.
“Angka kelahiran usia 15–19 tahun di Kota Bogor saat ini berada di angka 9,3 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional yang mencapai 16 persen. Ini menunjukkan hasil nyata dari berbagai upaya edukasi dan sosialisasi,” jelas Anas.
DPPKB juga merekomendasikan usia ideal menikah: minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki, agar mereka siap secara fisik dan mental untuk membentuk keluarga.
Peran Kecamatan dalam Mendorong Kesadaran Masyarakat
Camat Bogor Timur, Feby Darmawan, mengatakan Kelas Campernik juga menjadi sarana sosialisasi mengenai dampak negatif pernikahan usia dini terhadap kesejahteraan rumah tangga.
“Pernikahan anak di usia dini itu membawa dampak yang kurang baik. Kami berharap melalui kelas ini, baik orang tua maupun anak-anak, bisa menyadari pentingnya menikah pada usia yang matang sesuai aturan yang berlaku,” ucap Feby.
Program Campernik menjadi bagian dari kebijakan pemerintah daerah yang bersinergi dengan TP PKK untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat dalam mencegah pernikahan anak.
(DIM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
