Connect with us

Viral

Kemenkes Ungkap 2 Kasus Suspek Hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta Hasilnya Negatif

Dua pasien suspek hantavirus dipastikan negatif. Kemenkes menyebut belum ada penambahan kasus baru pekan ini.

Logompn

Published

on

Kemenkes Ungkap 2 Kasus Suspek Hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta Hasilnya Negatif
Kemenkes Ungkap 2 Kasus Suspek Hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta Hasilnya Negatif. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 9 Mei 2026 - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan dua kasus suspek hantavirus yang ditemukan di Jakarta Utara dan Kulon Progo, Yogyakarta, dinyatakan negatif setelah menjalani pemeriksaan laboratorium.

Kepastian tersebut disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, pada Jumat (8/5).

Hasil uji laboratorium menunjukkan kedua pasien tidak terinfeksi virus tersebut, sehingga tidak terdapat penambahan kasus konfirmasi baru pada pekan ini.

“Iya benar, dua suspek sebelumnya dinyatakan negatif hantavirus,” ujar Aji saat dikonfirmasi Kompas.com, dikutip MPN Indonesia pada Sabtu (9/5).

“Sampai saat ini belum ada penambahan lagi,” tegasnya.

Data Kasus Hantavirus 2024-2026

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, selama periode 2024-2026 terdapat 251 kasus suspek penyakit hantavirus di Indonesia.

Sebanyak 221 kasus dinyatakan negatif, empat kasus masih dalam pemeriksaan, dan tiga kasus tidak dapat diambil spesimen.

Sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026 Kemenkes mencatat 23 kasus positif hantavirus di Indonesia.

Dari total tersebut, tiga pasien meninggal dunia dan 20 pasien dinyatakan sembuh.

Dengan jumlah tersebut, case fatality rate (CFR) tercatat sebesar 13 persen.

Tren kasus menunjukkan peningkatan pada 2025 dengan total 17 kasus terkonfirmasi.

Sementara pada 2024 tercatat satu kasus, dan pada 2026 hingga saat ini terdapat lima kasus.

Tidak Berkaitan dengan Kasus Kapal Pesiar MV Hondius

Aji menjelaskan bahwa lima kasus yang terdeteksi tahun ini tidak berkaitan dengan wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius.

“Beda waktu dan tempat. Mereka (lima orang) tidak dalam perjalanan ke luar negeri. Saat ini juga yang diduga sudah negatif dan sembuh,” jelasnya.

Baca Juga:  Waduh! WNA Asal Korea Tantrum di Mobil saat Terjebak Macet 2 Jam di Jakarta

Kemenkes juga menyebut seluruh kasus konfirmasi di Indonesia mengarah pada Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus (SEOV).

Hingga kini belum ditemukan kasus penularan antarmanusia di Indonesia seperti yang dilaporkan pada wabah di kapal pesiar MV Hondius yang melibatkan virus jenis Andes.

“Kasus seperti itu sangat jarang terjadi (penularan manusia ke manusia). Makanya sampai saat ini penilaian risiko WHO juga masih rendah,” jelas Aji.

Selain itu, dalam penilaian risiko Indonesia tahun 2025, risiko importasi kasus tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) pada manusia berada pada kategori sedang, sementara risiko penambahan kasus tipe HFRS pada manusia masuk kategori tinggi.

Tiga kematian pada kasus terkonfirmasi hantavirus dilaporkan dipengaruhi kondisi lain atau koinfeksi, seperti leptospirosis, kanker hati, dan kegagalan multiorgan.

Hantavirus pada reservoir tikus juga telah ditemukan di 29 provinsi berdasarkan Studi Rikhus Vektora oleh BBLKL Salatiga.

Faktor risiko utama penularan hantavirus adalah kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urine, air liur, kotoran, serta sekresi hewan tersebut.

Terkait penanganan, Kemenkes menyatakan hingga saat ini belum tersedia pengobatan khusus maupun vaksin untuk hantavirus.

Penanganan pasien dilakukan melalui terapi suportif untuk meredakan gejala.

“Pengobatan dan vaksin belum ada. Penanganan dengan obat-obatan untuk menangani gejala dan sifatnya suportif,” ujar Aji.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending