Connect with us

Viral

Kemenkes Ungkap Kronologi Dokter Magang di Jambi yang Meninggal Dunia

Kementerian Kesehatan mengungkap kronologi meninggalnya dokter magang, Myta Aprilia Azmy, yang bertugas di RSUD KH Daud Arief, Kuala Tungkal, Jambi.

Logompn

Published

on

Kemenkes Ungkap Kronologi Dokter Magang di Jambi yang Meninggal Dunia
Kemenkes Ungkap Kronologi Dokter Magang di Jambi yang Meninggal Dunia. Gambar: Ilustrasi Canva

Jambi, MPN Indonesia 9 Mei 2026 - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap kronologi meninggalnya dokter magang, Myta Aprilia Azmy, yang bertugas di RSUD KH Daud Arief, Kuala Tungkal, Jambi.

Myta meninggal dunia pada 1 Mei 2026 setelah menjalani perawatan intensif akibat gangguan paru berat.

Plt Inspektur Jenderal Kemenkes Rudi Supriatna Nata Saputra menyampaikan bahwa sebelum menjalani program magang, Myta telah mengikuti pemeriksaan kesehatan.

“Sejak tanggal 11 Agustus 2025-10 Februari 2026, MAA menjalani internship di Puskesmas Kuala Tungkal II, yang bersangkutan dalam kondisi sehat,” ungkap Rudi dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).

Awal Magang

Sejak 11 Agustus 2025 hingga 10 Februari 2026, Myta menjalani magang di Puskesmas Kuala Tungkal II tanpa keluhan kesehatan.

“Sepanjang proses menjalani internship tersebut, dokter MAA tidak ada keluhan kesehatan,” kata Rudi.

Memasuki 11 Februari 2026, Myta mulai stase di RSUD KH Daud Arief, Kuala Tungkal, Jambi, tepatnya di IGD.

Dalam sistem internship tersebut, peserta dibagi dalam dua kelompok, yakni stase IGD dan ruang rawat inap.

“Jadi di sana dari sekitar 15 orang itu dibagi dua kelompok kecil, jadi ada yang mengawali stase di IGD terlebih dahulu, yang lainnya menjalani stase di ruang rawat inap atau di bangsal,” kata Rudi.

Mulai Merasakan Gejala Sakit

Pada 26 Maret 2026, Myta mulai mengeluhkan gejala demam, batuk, dan pilek, namun tetap bertugas di IGD.

Keluhan berlanjut pada 31 Maret 2026. Saat itu, ia tetap menjalani jaga malam dan sempat meminta dipasang infus setelah bertugas.

Baca Juga:  Kehabisan Tisu, Pelanggan Lap Tangan ke Baju Karyawan di Restoran Jambi

Dalam investigasi disebutkan Myta tidak melaporkan kondisinya kepada dokter pendamping.

Pada hari yang sama, peserta internship juga dikumpulkan untuk membahas kritik terhadap sistem internship yang ditulis di media sosial dan situs pengaduan.

Salah satunya kritik berbunyi “masa kerja setiap hari, tapi dokter pembimbingnya tidak hadir”.

Diinfus saat Hari Ulang Tahun

Pada 11 April 2026, Myta masih bertugas jaga pagi dalam kondisi batuk, pilek, dan demam serta diberikan obat oleh dokter IGD.

Dua hari kemudian, 13 April 2026 yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya, ia mendapatkan infus setelah jaga malam.

“Nah, di tanggal 13 April, di mana 13 April ini hari ulang tahun dari dokter MAA. Jadi dia mendapatkan infus, jadi pasca jaga malam, kemudian di UGD dia mendapatkan infus, dipasang infus,” kata Rudi.

Kondisi Kesehatan Kian Memburuk

Kondisi memburuk pada 15 April 2026. Myta mengirim pesan suara kepada rekannya untuk meminta digantikan jadwal jaga.

“Astri… Aku… Aku mau minta tolong… Mau minta tolong. Jadi, kalau dari jadwal kan Astri ini ya, apa, libur, ndak sih? Aku… Mau minta tolong gantiin jadwal aku, yang pagi ini. Kalau misal… Kamu… Bisa… Hari ini aja. Nanti yang malam biarlah Rena nanti yang gantiin… Enggak kuat, Astri…” kata Myta di suara rekaman itu.

Rekannya kemudian menggantikan jadwal tersebut. Sore harinya, orang tua Myta menghubungi rekan Myta untuk mencari anaknya itu karena tak bisa dihubungi.

Myta kemudian ditemukan di bawah tangga kamar indekos dalam kondisi linglung.

“Di bawah tangga tempat kos sedang berdiri dalam kondisi linglung. Jadi, tidak menggunakan jilbab, mengenakan celana pendek, dan atasan seragam scrub. Setelah ditanya oleh dokter F tadi, dokter MAA menjawab dia ingin berangkat jaga. Jadi, kondisi sudah agak confused, linglung, mungkin ada hipoksia di situ,” kata Rudi.

Baca Juga:  Siswi SMA di Jambi Jadi Korban Pemerkosaan dan Pencurian oleh Oknum Ojol

Dirawat di RS

Sejak 15 hingga 20 April 2026, Myta dirawat di RSUD KH Daud Arief, Jambi. Ia diperbolehkan pulang pada 20 April 2026 pukul 12.44.

Namun setelah pulang, ia kembali mengalami demam tinggi dan sesak napas.

Pada 21 April 2026 keluarga kemudian membawa Myta ke RSUD Raden Mattaher Jambi menggunakan mobil pribadi dengan bantuan oksigen pinjaman.

Myta dibawa tanpa ambulans dan tanpa prosedur rujukan resmi. Ia dirawat sekitar tiga hari hingga 24 April 2026 dan dijadwalkan kontrol ke Poli Paru pada 29 April 2026.

Sempat Ingin Lanjutkan Internship

Myta kemudian sempat diantar keluarganya kembali ke Kuala Tungkal untuk melanjutkan internship.

Namun dokter pendamping menyarankan Myta beristirahat selama satu hingga dua pekan.

Akhirnya orang tua Myta memutuskan membawa anaknya pulang agar lebih mudah dirawat.

Dalam perjalanan dari Kuala Tungkal menuju Ogan Komering Ulu Selatan, kondisi Myta kembali menurun.

“Jadi melaksanakan perjalanan lagi sekitar 324 km-an, kalau saya coba cek di Google Maps, itu waktu tempuhnya sekitar 6 jam. Tiba di OKU Selatan itu sekitar pukul 16.00,” kata Rudi.

Masuk Rumah Sakit Kembali

Pada 27 April 2026 dini hari sekitar pukul 01.00, Myta tiba di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang dan dirawat di ruang isolasi infeksi.

Karena kondisi paru memburuk, ia dipindahkan ke ICU dan dipasang ventilator sekitar pukul 16.00 WIB.

“Karena ada gangguan paru, bernapasnya berat, maka perlu alat bantu pernapasan,” ujar Rudi.

Myta menjalani perawatan intensif hingga akhirnya meninggal dunia pada 1 Mei 2026 akibat penyakit paru berat.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending